
"Berpura pura lah hamil," ucap Justin. Wajahnya terlihat begitu serius saat mengatakan hal itu.
"Apa? Berpura pura hamil? Bagaimana kalau ketahuan nanti?" Ucap Mei.
"Itu urusan belakangan, yang penting pura pura hamil saja dulu. Aku punya kenalan seorang Dokter yang bisa membantu aksi kita," lanjut Justin.
"Apa dia percaya kalau anak di perutku adalah anaknya? Sepertinya dia tau kalau aku suka berhubungan denganmu," Mei merasa sedikit ragu.
"Bilang saja kalau kamu selalu memakai pengaman saat berhubungan denganku. Dia akan percaya, aku jamin itu. Aku masih bisa melihat dia masih mencintaimu," tukas Justin.
"Baiklah, mari kita berkerja sama," Mei mengulurkan tangan kanannya.
"Oke, deal!" Justin menyambut tangan Mei.
Dirumah April yang sederhana nan mungil...
"Ternyata kamu banyak penggemarnya juga ya," celetuk Januar sambil ngemil kacang polong di depan Tv. Januar sedikit cemburu karena istri keduanya memiliki dua penggemar yang masih aktif, dan dua pria itu bisa mengancam posisinya.
"Wajar saja, aku kan cantik," ucap April PD.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Januar tersedak.
"Ih, sampai segitunya. Memang aku cantik kan? Kalau aku tidak cantik, kamu mana mungkin tertarik untuk menjadikan aku yang kedua," April ngambek karena Januar sedikit meremehkannya.
"Iya deh, kamu cantik." Puji Januar sambil mencubit pipi istrinya sebelah.
Melihat kelakuan April dan Januar, perut Juli terasa mual. Bagaimana bisa dua orang itu bersikap alay dan menjadikan Juli sebagai obat nyamuk, Juli benar benar tidak suka keberadaan Januar dirumahnya.
Juli bangkit dari posisi duduknya, dia melarikan diri ke kamar dan menutup pintu dari dalam.
__ADS_1
"Huh, gara gara Kak Januar sekarang Kak April cuek padaku. Menyebalkan!" Gerutu Juli lirih.
Juli menjatuhkan tubuhnya keatas kasur, bersembunyi dibalik selimut dan menutup wajahnya dengan bantal. Sepertinya malam ini dia harus tidur lebih awal seperti biasanya, rasa jenuh membuatnya bosan, apa lagi dia tidak memiliki aktifitas lain selain tidur.
Sebenarnya Juli juga memiliki banyak penggemar seperti Kakaknya, tapi dia terlalu pilih pilih dalam mencari calon kekasih. Alhasil, semua pria pria itu dia tolak dan dia menjadi seorang jomblowati.
🍄🍄🍄
Keesokan harinya, Januar terbangun karena ponselnya terus berdering. Ternyata telfon itu dari Mei, meski malas Januar terpaksa harus mengangkatnya.
"Hallo, ada apa kamu menelfon ku?" Tanya Januar ketus.
"Aku sedang diopname di klinik dekat rumah, bisa tidak kamu datang ke mari?" Sahut Mei.
"Aku akan kesitu sekarang juga!" Ucap Januar.
April terbangun dan mengamati gerak gerik suaminya yang hendak pergi, dia penasaran tapi tidak memiliki keberanian untuk bertanya.
"Iya."
Tiba di klinik yang dimaksud oleh Mei, Januar langsung melangkah ke dalam kamar tempat Mei dirawat. Seorang Dokter wanita langsung menyapanya dengan ramah.
"Dengan suami nona Mei?"
"Iya, betul. Istriku sakit apa Dok?"
"Dia mengalami mual, muntah, dan pusing pusing. Hal itu biasa dialami oleh Ibu hamil muda. Tolong dijaga kandungannya baik baik, nona Mei tidak boleh kelelahan atau banyak pikiran," jelas Dokter.
Selesai memberikan penjelasan, Dokter itu pergi. Januar terpaku untuk sesaat, bagaimana bisa Mei hamil? Mereka jarang berhubungan badan selama ini. Jangan jangan itu anak Justin?
__ADS_1
"Januar, tolong jangan ceraikan aku. Kamu dengar sendiri kan, aku sedang hamil anakmu,"
"Aku tidak percaya itu anakku, kamu juga pasti melakukannya dengan Justin bukan?" Tuduh Januar.
"Sayang, aku selalu memakai pengaman kalau sedang melakukannya dengan Justin. Ini adalah anakmu, kita cek kebenarannya saat anak ini sudah lahir," ucap Mei.
"Baiklah, aku akan menunda perceraian kita selama kamu hamil. Setelah melahirkan kita langsung cek saja anak itu anak siapa." Ucap Januar.
Mei senang karena Januar tidak jadi menceraikannya. Tapi Mei masih khawatir karena kebohongan yang dilakukannya cepat atau lambat akan ketahuan juga. Kecuali, Mei melakukan sebuah kebohongan baru.
Tidak masalah bagi Mei meski dia harus berbohong seumur hidupnya, asal dia dan Januar bisa bersama lagi. Dia sungguh tidak rela jika Januar jatuh kedalam pelukan anak dari mantan ART nya sendiri. Benar benar memalukan! Masa Mei kalah bersaing dengan wanita biasa seperti April?
Hari itu, Mei meminta Januar untuk menemaninya di klinik. Januar benar benar merawat dan memperhatikan Mei dengan baik, ternyata membohongi Januar ada manfaatnya juga. Mei tertawa di dalam hati.
Waktu cepat berputar, pagi berganti malam. Tapi Januar belum juga pulang dan tidak memberi kabar sedikitpun. Mungkinkah dia kembali kerumah Mei? Harusnya April tidak merasa cemas, apa lagi merasa cemburu. Mengingat posisinya hanyalah sebagai istri kedua saja.
"Ka, ini sudah malam. Kenapa Kakak tidak makan?" Tanya Juli.
"Nanti saja," ucap April.
"Jangan bilang Kakak sedang menunggu Kak Januar pulang?" Tebak Juli asal.
"Iya," April tertunduk lesu.
"Dia pulang ke rumah istri pertamanya Kak, aku yakin itu. Jadi Kakak jangan menunggunya lagi," pesan Juli.
Ada rasa sakit dihati April saat mendengar kalimat itu, dia seolah tak terima jika hubungan Januar dan istrinya kembali membaik. Kemana perginya gadis lugu dan baik hati seperti dulu? Sepertinya keadaan membuat kepribadian April berubah.
April harus bisa mengendalikan diri, jangan sampai dia menjadi manusia jahat dan serakah. Dia harus selalu ingat posisinya, yang kedua memang selalu diberi waktu sisa.
__ADS_1
Bersambung....