Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 36


__ADS_3

April pergi ke toilet, ditempat itu dia tidak sengaja bertemu dengan Sonia mantan Bosnya dulu. Dengan tenang April menyapa Sonia, seolah dia masih menjadi pegawainya.


Tak ada yang berubah dari sikap April pada Sonia, dia masih menaruh hormat dan bersikap ramah kepadanya.


"Hallo, apa kabar?" Sapa April ramah.


"Tidak usah basa basi, aku tidak suka bertegur sapa denganmu!" Balas Sonia. Matanya memperhatikan penampilan April, dia kini terlihat anggun dan menawan dengan balutan busana mahal.


"Ngomong ngomong pelet apa yang kamu kenakan sampai bisa mendapatkan pria kaya?" Sonia memandang remeh April. Seolah wanita seperti April tidak pantas untuk dicintai apalagi mendapatkan orang kaya.


"Aku tidak menggunakan pelet apapun, aku sudah pernah bilang dulu," sahut April. Dia membela diri, dia menegaskan bahwa semua tuduhan Sonia kepadanya tidak benar.


"Benarkah? Kalau begitu kamu pasti menggunakan tubuhmu untuk merayunya bukan? Dasar manusia murahan!" Maki Sonia.


April malas berdebat dengan mantan Bosnya, terlebih ditempat umum dan banyak mata yang menyaksikan. April melenggang pergi begitu saja meninggalkan Sonia, membuat wanita itu marah dan merasa dihina secara tidak langsung. Padahal, April tidak melakukan apapun.


Tak terima diacuhkan oleh April, Sonia terus mengikuti April dan memakinya dari samping. Dia tak peduli meskipun April diam dan tak menanggapinya.


Sosok Januar muncul, dia melihat dan mendengar segalanya. Sonia langsung menutup mulut rapat rapat, dia takut Januar murka dan memakinya balik.


"Sayang, kamu lama sekali dikamar mandi? Kamu tidak apa apa kan?" Tanya Januar.


"Aku tidak apa apa, ayo kita pergi," ajak April.


"Hei, aku belum selesai bicara!" Cegah Sonia.


"Tadi itu bukan bicara namanya, tapi ngajak ribut. Dan aku tidak suka diajak ribut!" Sentak April.

__ADS_1


Sonia mendelik, sejak kapan April bisa jadi wanita galak dan pemberani? Biasanya dia hanya diam dan menangis saja kalau dimarahi.


"Kamu dengar itu Nona Sonia? Dia tidak mau bicara denganmu!" Ucap Januar.


Sonia memutar bola matanya, dia cemberut karena Januar terlihat begitu membela istrinya. Sepertinya Sonia harus menyerah, dia tak boleh terlalu berharap bisa meluluhkan hati Januar. Hati pria itu sudah dipenuhi oleh April, sampai kapanpun tidak akan mungkin bisa terganti.


Sementara itu April merasa sangat puas melihat Bosnya patah hati dan kecewa, dia melangkah pergi dengan bangga karena berhasil menunjukan siapa pemilik Tuan Januar tanpa perlu banyak berkata.


🍄🍄🍄


Di dalam mobil...


"Sepertinya wanita itu sangat tergila gila padamu," celetuk April sambil memonyongkan bibirnya ke depan.


"Dia pria tampan dan banyak uang, wanita mana yang tidak suka padanya?" Sambung juli.


"Jangan terlalu memuji Kakak Iparmu, nanti bajunya sempit," oceh April.


"Bukan memuji, memang kenyataanya begitu kok. Kalau dinilai, dia pantas mendapatkan angka sembilan puluh sembilan persen," ucap Juli.


"Terimakasih Adik Iparku yang manis, aku akan menambah uang saku bulananmu mulai sekarang juga," ucap Januar.


Mendengar hal itu Juli langsung berjoged ria, akhirnya dia bisa nonton drakor hingga puas tanpa takut kehabisan uang untuk membeli kuota.


"Oh... Jadi ini tujuanmu memuji suamiku ya?Ternyata ada maunya!"


🍄🍄🍄

__ADS_1


Sementara itu Justin tengah bersiap membereskan baju, dia berniat untuk mencari keberadaan Mei dikampung halamannya. Januar hampir gila karena lama tak berjumpa dengan Mei, dia tidak mau menjadi benar benar gila jika dia tidak bisa bertemu dengan Mei lagi.


"Om, mau kemana?" Tanya Dodit keponakan Januar yang baru berusia lima tahun.


"Om mau mengejar cinta sejati Om," sahut Justin asal.


"Memang cinta sejati Om lari lari ya? Pakai acara di kejar segala," ucap anak polos itu.


Justin tertawa, bisa bisanya dia mengatakan tentang mengejar cinta sejati pada anak yang makannya saja masih disuapi oleh orang lain.


"Iya, dia lari. Makannya mau Om kejar,"


"Ngejarnya naik apa Om? Naik Taxi apa naik sepeda motor?"


"Em... Naik motor,"


"Harus isi bensin yang banyak dong Om biar tidak kehabisan dijalan?"


"Iya dong, Om bakal isi bensin nya yang banyak."


Justin geregetan, dia mencubit kedua pipi keponakannya pelan. Tak mau sang keponakan mengadu pada anggota keluarga yang lain, Justin memberikan uang tutup mulut sebesar seratus ribu rupiah kepadanya.


"Ini untukmu, sana pergi main. Tapi ingat ya, jangan mengadu kepada Ibumu dan Nenek kalau aku akan pergi untuk mengejar cinta seorang perempuan," pesan Justin.


"Oke, terimakasih Om uangnya," ucap anak itu sambil melompat lompat bahagia.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2