Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 7


__ADS_3

"Sayang, apa kamu mengenal baik gadis muda tadi?" Tanya Mei pada pria yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.


Mei mendadak diserang rasa tidak nyaman karena melihat tatapan mata Januar pada kasir toko tadi, begitu manja dan sedikit menggoda. Benar benar mengundang tanda tanya dan rasa curiga.


"Tentu saja kenal, dia kan anak dari mendiang ART kita, aku sudah mengatakannya padamu tadi," sahut Januar santai.


Seolah dia tidak memiliki hubungan apapun dengan April, Januar memang pandai sekali berakting. Kemampuannya patut diacungi jempol. Jangankan Brad Pitt, Salman Khan dan Jeremy Thomas saja mungkin kalau jika beradu akting dengan Januar.


"Hanya sekedar kenal saja atau..." Mei menahan ucapannya. Dia takut Januar tersinggung dan marah kepadanya. Saat ini Mei sedang malas bertengkar, jadi dia harus bisa lebih menahan diri.


"Atau apa?" Desak Januar. Dia tidak suka diajak mengobrol tapi dipotong potong.


"Kamu jarang sekali menyapa wanita lain, kecuali rekan bisnismu saja. Tapi dengan wanita muda itu," Mei menaruh curiga. Dia mengatakannya secara tidak langsung kepada Januar dan pria itu bisa menangkapnya dengan baik.


"Jangan berpikiran bodoh, aku tidak mungkin ada main dengan seorang wanita biasa. Aku punya banyak uang, kalau aku mau aku bisa mengencani artis atau wanita sekelas sosialita lainya," Januar tertawa. Dia merasa ekspresi wajah Mei saat itu sangat lucu, ternyata wanita cuek dan datar seperti Mei bisa cemburu juga.


Mei mencubit pinggang Januar, dia kesal dengan perkataan suaminya itu. Meski hanya bercanda hati Mei tak terima jika Januar ada main dengan wanita lain. Padahal, Mei memiliki selingkuhan, tapi dia tidak mau Januar punya selingkuhan. Lucu bukan?


Mei selingkuh dengan Justin hanya karena butuh kehangatan dan kepuasan dari pria itu, begitu juga sebaliknya. Bisa dibilang, hubungan Mei dan justin hanya sekedar simbiosis mutualisme saja.


Meskipun Januar jarang bisa memuaskan hasrat Mei, Mei sangat menyayangi Januar. Pria itu sangat perhatian, lembut dan royal kepadanya. Dia mudah marah, tapi mudah sekali untuk dirayu. Oleh karena itu Mei enggan melepaskan Januar, Mei ingin memilikinya sekaligus memiliki Justin.


Bukannya serakah, kedua pria itu memberi warna bak pelangi dalam hidup Mei. Tanpa kedua pria itu hari hari Mei akan terasa hampa, kosong dan sunyi tanpa cerita. Seperti buku tulis yang baru dipakai separuh lalu dibiarkan begitu saja didalam lemari.

__ADS_1


"Nanti malam aku tidak tidur dirumah, aku harus menemani temanku yang masuk rumah sakit," tutur Januar.


"Tapi besok pagi aku akan pergi ke kota X loh selama beberapa hari, apa kamu tidak mau melepas rindu denganku dulu?" Mei seolah tidak mengizinkan Januar keluar rumah.


"Tidak, semalam aku sudah cukup puas dengan pelayanan mu," Januar tersenyum


"Memangnya, siapa temanmu yang sakit itu?" Mei penasaran.


"Dijelaskan juga kamu tidak tau," sahut Januar.


Mei cemberut, dia kesal karena januar seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Januar Yang dulunya selalu terbuka dalam hal apapun, sekarang jadi sedikit lebih tertutup.


Januar jadi lebih senang menyimpan segalanya sendiri tanpa mau membagi keluh kesahnya dengan Mei.


Malam hari, ditempat biasa. April tiba dengan wajah bad mood karena tubuh terasa lelah. Bau keringat setelah bekerja seharian masih menempel ditubuhnya, April memutuskan untuk mandi dulu sebelum melayani sang suami agar PD.


Januar menunggu April mandi dengan setia, dia enggan menerobos masuk ke dalam kamar mandi itu karena takut April marah dan mogok melayaninya. Padahal, dia sangat ingin melakukannya sambil melakukan gaya baru di dalam kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka, April keluar dengan mengenakan baju mandi. Aroma sabun dan sampo menyeruak di seluruh sudut ruangan, membuat hasrat Januar seketika meninggi dan tak terkendali.


"Aku belum makan malam, mana punya tenaga untuk melayani Anda Tuan," celetuk April.


"Makannya nanti saja ya kalau kita sudah selesai bergulat," sahut Januar.

__ADS_1


"Tidak mau, aku mau makan dulu," Rengek April seperti anak kecil yang minta permen.


"Hah, baiklah. Aku akan pesankan makanan untukmu."


Januar menyerah, dia memesan makanan via telpon untuk April dan menunggu hingga wanita itu selesai makan. Menunggu adalah hal yang tidak disukai oleh Januar, tapi untuk April ada pengecualian.


Melihat April makan dengan lahap membuat Januar geleng geleng kepala, April terlihat seperti manusia yang tidak makan selama seminggu terakhir. Hanya dalam hitungan beberapa menit saja, semua makanan yang Januar pesan habis tanpa sisa.


Satu porsi nasi goreng, dua lembar tempe mendoan dan tiga biji bakwan goreng. Apa lambung April seluas samudra? Bagaimana bisa seorang wanita menghabiskan makanan begitu banyak sekali makan?


"Sudah kenyang kan? Kita langsung ke permainan?" Januar terlihat begitu sangat bersemangat. Bagaimana tidak? Burung puyuhnya sejak tadi sudah meronta.


"Tunggu setengah jam dulu Tuan, agar makanan di dalam perutku turun ke lambung. Kalau baru selesai makan langsung main, aku bisa muntah," seloroh April sambil meringis.


"Oke, hanya setengah jam saja. Tidak ada waktu tambahan ini dan itu lagi,"


"Oke Tuan."


Setengah jam berlalu, terlalu sibuk bermain ponsel Januar tidak memperhatikan kalau April telah tertidur lelap disisinya. Tiba tiba saja, telinga Januar menangkap suara dengkuran seseorang dan Januar langsung menoleh kearah April.


"Wanita penipu, aku tidak mau lagi percaya denganmu!" Umpat Januar kesal. Burung puyuh yang tadinya berdiri tegap pun langsung loyo seketika.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2