
"Saya mendapat telfon dari Ibu Areta, katanya Tuan Justin akan menikah dengan Mei," kisah Desta pada Januar.
"Penjahat memang cocoknya menikah dengan penjahat bukan?" Januar tersenyum sinis.
"Jangan seperti itu, bagaimanapun beliau adalah saudara anda. Dan satu satunya yang anda miliki saat ini,"
"Ya, kamu benar. Jadi kapan dua manusia menyebalkan itu akan menikah?"
"Untuk jelasnya, saya tidak tau. Tapi yang pasti sebentar lagi,"
April keluar dari dalam kamar, tak seperti biasanya dia berdandan agar terlihat anggun dan cantik. Dia ingin selalu tampil menarik di mata Januar, sempurna dan tanpa cela.
April merasa penasaran dengan topik pembicaraan yang sedang diperbincangkan oleh Januar dan asistennya, wajah mereka terlihat serius juga langsung terdiam ketika melihatnya keluar dari dalam kamar.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kelihatannya serius sekali," ucap April. Dia duduk menempel pada Januar suaminya.
"Itu, Mei akan menikah dengan Justin,"
"Menikah? Kapan?" April sedikit terkejut.
"Belum tau," Januar mengangkat kedua bahunya.
"Syukurlah kalau begitu, biar tidak berbuat dosa terus," celetuk Apri.
"Berbuat dosa?"
"Itu, kumpul kebo kan salah satu dosa besar," jelas April.
"Ah... Iya."
Desta tertawa melihat April seolah telah tau kebiasaan dua pasangan selingkuh itu. Kenyataanya menikah memang lebih baik daripada hanya pacar pacaran saja, apa lagi di zaman yang serba moderen seperti sekarang ini.
__ADS_1
🍄🍄🍄
Disebuah cafe yang sedang ramai pengunjung...
Justin menggenggam erat tangan Mei, dia merasa senang karena akhirnya sebentar lagi mereka berdua bisa segera melangsungkan pernikahan. Justin berharap, pernikahannya dengan Mei kali ini akan menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupnya.
"Sayang, besok kita menikah dengan cara sederhana saja ya. Aku malu sama tetangga kalau menggelar pesta mewah, aku kan janda," ucap Mei.
"Iya, terserah kamu saja. Tapi meskipun sederhana, aku akan membawa seserahan dan mas kawin yang layak untuk seorang Dewi seperti kamu," ujar Justin.
"Aku tidak meminta apapun darimu, aku hanya mau kamu setia dan bertanggung jawab saja," Mei berucap dengan ekspresi wajah serius.
"Aku janji padamu, aku akan selalu setia dan bertanggung jawab pada keluarga kecil kita," Justin menggenggam jemari tangan Mei dan menciumnya.
"Lalu soal anak bagaimana?" Mei mulai khawatir masa tua mereka kesepian tanpa kehadiran seorang anak.
"Kita bisa adopsi, kalau kamu mau,"
"Semoga dia mengizinkan ya,"
"Iya, semoga saja."
Tampilan Justin dan Mei saat ini seperti remaja 17 tahun yang sedang dimabuk asmara. Mereka saling merayu, mencumbu, walaupun mereka sadar sedang berada ditempat umum. Beberapa pasang mata yang melihat mereka merasa risih, tapi mereka bersikap cuek dan acuh.
Untuk pernikahan keduanya kali ini, Mei berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga hati hanya untuk Justin seorang. Dia tidak akan selingkuh, atau melakukan perbuatan yang membuat Justin dan keluarganya kecewa padanya.
Mei sudah sangat belajar dari masa lalunya. Dia berharap masa depannya bersama Justin akan jauh lebih cerah dan bahagia. Mei sangat bersyukur karena masih ada pria yang mau menerimanya meskipun tau dia mandul, pria seperti hanya ada seribu satu di dunia ini.
"Kamu mau pesan makanan apa?" Tanya Justin.
"Terserah kamu saja,"
__ADS_1
"Tunggu disini ya, aku mau pesan makanan dulu. Jangan kemana mana!" Pesan Justin.
"Iya, khawatir sekali aku tinggal." Mei tertawa geli.
Dari meja sebelah, Mei bisa mendengar beberapa orang tengah menggunjingnya. Sepertinya mereka tau kalau Mei adalah mantan model majalah dewasa.
"Tidak tau malu, bermesraan didepan umum," ucap salah seorang wanita pada temannya.
"Dia itu mantan model majalah dewasa, urat malunya sudah putus sejak dia berani berpose fulgar di depan kamera," cibir yang lainnya.
Mei hanya diam membisu dan berpura pura tidak mendengar semuanya. Mereka tidak tau bagaimana rasanya memiliki hobi yang digaji, jadi mereka hanya bisa menghina prestasi dan perjuangan orang lain yang sudah berusaha dengan sangat keras untuk mencapai puncak karir.
"Sayang, kamu kenapa?" Justin cemas saat melihat wajah Mei tiba tiba cemberut.
"Aku tidak kenapa napa kok," sahut Mei.
Seorang waiters datang mengantar makanan dan minuman. Justin dan Mei mulai bersantap siang bersama.
🍄🍄🍄
"Mas, apa kamu tidak cemburu mendengar mandan kekasihmu akan menikah dengan Justin?" Tanya April penuh selidik.
"Tentu saja tidak. Kenapa aku harus cemburu? Aku sudah tidak punya perasaan. Apa apa lagi pada Mei,"
"Syukurlah kalau begitu."
April berdoa dalam diam, semoga pernikahan Justin dan Mei berjalan lancar. Semoga mereka bisa hidup damai dan bahagia sama seperti dirinya.
"Sayang, kenapa kamu bertanya seperti itu tadi? Apa kamu cemas aku masih memiliki perasaan kepada Mei?"
"Tadinya aku cemas, tapi sekarang tidak kok," April mengukir senyum manis.
__ADS_1
Bersambung....