
Januar tidak mengunjungi April dalam waktu lama, dia terlalu sibuk mengurus Mei karena dia sering sakit dengan alasan ngidam. Tentu saja ngidam palsu, sampai detik ini Januar masih saja tidak tau.
April kesepian, dia tidak bisa tersiksa karena rindu seperti ini disaat umurnya masih muda. Diluar sana, masih banyak pria singgel yang bisa dijadikan suami, untuk apa April bertahan dengan Januar dan menumbalkan perasaanya sendiri?
"Aku memang mencintainya, tapi sepertinya aku tidak sanggup jika harus memendam perasaan seperti ini. Aku harus segera mengakhirinya," batin April.
April memilih untuk menyibukkan diri dirumah dengan melakukan kegiatan bersih bersih. Semua dia lakukan agar pikirannya tidak terfokus pada Januar saja.
Tak lama, Justin tiba tiba saja datang sambil membawa seikat bunga. Dia tampil rapih, seperti mau mengutarakan cinta pada wanita pujaan hatinya. April mengerutkan kening, mau apa pria tidak tau malu itu datang ke rumahnya?
"April," panggil Justin.
"Ada apa? Mau apa kamu kesini?" Sahut April ketus.
"Galak sekali, aku kesini bukan untuk mengajakmu ribut tapi aku ingin mengajakmu bicara baik baik,"
"Mau bicara apa?" Tanya April.
"Aku ingin meminta maaf padamu, aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku dimasa lalu. Bisakah kita bersama lagi seperti dulu?"
"Tidak bisa," tolak April mentah mentah.
"April aku..." Ucapan Justin terpotong.
"Pak Desta..." Panggil April. Desta keluar sambil membawa sebilah pisau, kebetulan dia sedang memasak di dapur.
"Usir pria tidak tau malu itu pergi," perintah April.
"Baik, Non." Desta mengangguk patuh.
Desta meraih tangan Justin dan membawanya menjauh dari rumah itu. Justin berontak, sepanjang jalan dia berteriak memanggil nama April tapi dia tidak peduli.
Itulah resiko menjadi wanita cantik, menjadi rebutan tiga pria sekaligus. Cantik tak selamanya membawa bahagia, semoga kalian semua para wanita selalu ingat untuk senantiasa bersyukur.
🍄🍄🍄
Sore harinya, tak disangka Januar datang ke rumah itu setelah pergi tanpa kabar selama beberapa minggu. Dia melempar senyum kecil tapi April mengabaikannya.
Januar paham betul kalau April tengah marah kepadanya, dia terima karena memang semua karena kesalahan Januar semata. Januar memeluk April untuk mengobati rindu, tapi April diam saja dan tak memberikan respon.
__ADS_1
"Ada apa April?" Tanya Januar.
"Aku ingin bercerai denganmu," ucap April tiba tiba. Hal itu membuat jantung Januar berhenti berdetak dan mau copot.
"Apa katamu? Kamu bilang menyukai aku tapi kenapa kamu tiba tiba meminta cerai? Apa karena aku tidak bisa selalu ada untukmu?" Januar seolah tak terima.
"Kamu sudah tau jawabannya, kenapa masih bertanya kepadaku?"
"April, tak bisakah kamu bersabar sampai anak itu lahir? Aku janji akan selalu ada untukmu," Januar menggenggam jemari April erat.
"Kamu tega meninggalkan anakmu sendiri demi aku? Jika kamu tega, aku yang tak tega pada anak itu,"
"Jadi kamu serius ingin mengakhiri segalanya?"
"Ya, aku serius. Aku berjanji akan mencicil semua hutangku sampai lunas,"
"Oke, kalau itu mau kamu. Hari ini juga aku talak kamu!"
April berkaca kaca, tubuhnya gemetar tak berdaya. Sementara itu Januar mengemasi barang barangnya kedalam koper dan bersiap untuk pergi meninggalkan wanita itu.
April memalingkan wajahnya kearah lain, rasanya sakit sekali melihat pria yang dia cintai pergi. Tapi mau bagaimana lagi? Mentalnya terlalu lemah untuk menjadi istri kedua.
"Tuan, kalau kalian bercerai saya bagaimana?" Ucap Pak Desta yang sejak tadi menguping pertengkaran mereka.
Di dalam mobil, Januar terus melamun. Sesekali dia melayangkan tinjunya pada kaca jendela untuk mengurangi rasa sesak yang ada di dadanya.
"Apa Tuan benar benar mau melepaskan Nona April begitu saja? Pagi ini, Tuan Justin datang ke rumahnya untuk mengutarakan cinta," kisah Pak Desta.
"Pria itu memang sialan! Sudah meniduri Mei masih juga mengejar ngejar April, aku harus membuat perhitungan dengannya." Gerutu Januar kesal.
"April, kita mungkin sudah bercerai. Tapi aku tidak akan pernah melepaskan kamu begitu saja," janji Januar dalam hati.
🍄🍄🍄
April terus menangis sepanjang malam, dadanya terasa sesak dan nyeri. Juli yang kebingungan karena April tak mau menjawab pertanyaannya segera menelfon Novi untuk segera datang.
Satu jam kemudian, Novi datang. Dia masuk kedalam rumah dengan langkah terburu buru dan perasaan khawatir. Novi takut telah terjadi sesuatu pada sahabatnya, terlebih setelah keluar dari tempat kerja mereka tidak pernah bertemu lagi.
"April, kamu kenapa?" Novi menyentuh pundak April yang naik turun karena menangis.
__ADS_1
"Sakit sekali," sahut April.
"Apanya yang sakit, jangan membuat aku bingung," April menepuk dadanya pelan.
Novi dan Juli berpandangan, sekarang mereka tau apa yang menyebabkan April menangis. Ternyata April sedang patah hati, Juli menebak telah terjadi sesuatu antara Kakaknya dan Januar.
"Juli, ambilkan air dingin di kulkas," perintah Novi.
"Oke Kak," ucap Juli.
Novi meminta Juli untuk minum, April menurutinya dan menenggak minuman dingin itu hingga habis. April merasa sedikit tenang saat ini, dia mencoba untuk mengatur ritme nafasnya.
"Katakan padaku, apa yang terjadi?" Novi menatap wajah temannya dalam dalam.
"Tuan Januar menceraikan aku," ucap April.
"Cerai? Memangnya kalian berdua sudah menikah?" Novi kebingungan. Dia satu satunya orang yang tidak tau tentang hubungan istimewa antara April dan Januar.
"Kami menikah secara siri,"
"Apa?" Novi semakin syok. Dia memijit kepalanya yang tiba tiba terasa sakit dan pusing. Dia tidak menyangka, selain polos ternyata April bodoh juga. Di zaman seperti sekarang ini masih saja mau dinikahi oleh pria secara siri.
"Sudahlah Kak, yang pergi jangan ditangisi. Mungkin dia memang bukan jodoh Kakak," ucap Juli.
"Jadi, kamu mengetahui pernikahan mereka Juli?" Tanya Novi.
"Tau lah, aku kan adiknya," sahut Juli.
"Kamu mengizinkannya begitu saja?" Novi tak menyangka.
"Awalnya aku tidak tau, tau tau mereka berdua sudah menikah dan tinggal satu rumah. Kalau aku tau sebelum itu pasti aku akan melarangnya untuk menikah dengan pria kaya itu." Jelas Juli.
Novi menarik nafas panjang pendek, kini dia harus bisa meyakinkan Novi kalau semuanya akan baik baik saja. Dia harus bisa move on dan melupakan masa lalunya dengan Januar, semanis apapun masa lalu itu.
"Dunia tidak akan berakhir begitu saja setelah Tuan Januar pergi, kamu harus bersiap menjalani hidupmu lagi. Jadi, berhentilah menangis," ucap Novi. Dia memeluk tubuh April dan mengusap punggungnya pelan.
"Terimakasih karena kamu masih mau peduli padaku," ucap April.
"Apa maksudmu? Kita teman, tentu saja aku akan selalu peduli padamu." Ucap Novi.
__ADS_1
April menyeka air matanya, Juli memeluknya tiba tiba. Juli merasa kasihan pada nasib April sekarang, semua terjadi gara gara April menanggung beban hutang yang cukup banyak. Andai Juli bisa membantu April, semua pasti tidak akan berjalan kacau seperti ini.
Bersambung...