
Pada akhirnya Justin dan Mei benar benar menikah, walaupun tak satupun anggota keluarga Justin hadir untuk menghormati acara tersebut. Agung curiga, keluarga Justin sebenarnya tidak menyetujui pernikahan antara Justin dan putrinya. Makannya tidak ada yang mau datang ke rumahnya.
Agung mencoba menepis kecurigaan itu, terlebih saat melihat Mei begitu sangat bahagia. Justin berniat membawa Mei pulang ke rumahnya beberapa hari, dia ingin mengenalkan Mei sebagai istri kepada teman dan anggota keluarga yang lain.
"Setelah ini kamu tidak boleh bekerja, cukup bersantai dirumah saja. Biar aku yang mencari nafkah untuk keluarga kita," ucap Justin.
"Iya sayang, aku akan patuh pada segala perintahmu," Mei memeluk suaminya erat.
Selesai acara, tamu undangan pergi. Suasana rumah yang tadinya ramai jadi sepi. Justin menggiring Mei masuk kedalam kamar pengantin mereka, dia sudah tidak sabar untuk mengajak istri barunya itu bermain perang perangan.
"Jika sudah sah, rasanya pasti akan berbeda," ucap Justin.
"Berbeda bagaimana?"
"Lebih greget dan plong saat melakukannya,"
"Ah, kamu bisa saja."
Justin mengunci pintu dan jendela kamar, dia juga menutup gorden dan mematikan lampu kamar.
"Apa kita akan melakukannya sekarang?" Tanya Mei.
"Tentu saja sekarang juga, memangnya mau menunggu apa lagi?" Justin tertawa nakal.
🍄🍄🍄
__ADS_1
Niken menyiapkan beberapa set perhiasan emas, pakaian, tas dan sepatu cantik. Semua yang dia siapkan untuk Mei, adik Iparnya yang sebentar lagi akan berkunjung kerumah mereka.
Niken merasa kasihan pada Mei karena Ibunya tidak menyiapkan apapun untuk menyambut kedatangan anggota keluarga baru mereka. Bahkan urusan makanan, kue dan jamuan lain semua Niken yang mengatur.
Areta memang mau mengizinkan Justin menikah dengan Mei, tapi dia tetap tidak suka pada wanita itu. Dia bahkan tidak akan pernah menganggapnya sebagai menantu.
"Untuk apa kamu repot repot menyiapkan semua itu Niken, itu terlalu mahal untuk seorang janda," celetuk Areta.
"Ibu, jangan seperti itu pada menantu sendiri. Tidak ada yang tau bagaimana nanti saat Ibu tua, mungkin dia yang kelak akan mengurus Ibu," omel Niken. Kali ini dia merasa sikap Ibunya sudah sangat keterlaluan.
Niken juga seorang wanita, seorang Ibu dan menantu. Dia sangat ingin diperlakukan baik oleh orang lain, terutama keluarga suaminya. Oleh karena itu sebisa mungkin dia selalu berusaha bersikap baik pada orang lain.
"Kamu tidak tau bagaimana Mei, dia selingkuh dari Januar. Bisa jadi dia nanti juga menyelingkuhi Justin,"
"Tiap orang pernah melakukan kesalahan Ibu, dia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Jadi berhentilah menilai buruk Mei, karena Justin sendiri juga seperti itu!"
🍄🍄🍄
Januar membuka ponselnya, dia melihat Mei memposting foto pernikahannya dengan Justin. Wanita itu terlihat sangat bahagia, bahkan jauh lebih bahagia saat dia masih bersamanya.
Tidak ada rasa cemburu di dalam hati Januar, karena dia juga telah memiliki pasangan hidup yang baru. Hanya saja semua terasa seperti mimpi, wanita yang dulu dia nikahi sekarang menjadi istri sepupunya sendiri.
Sejak dulu, Justin memang selalu senang dengan barang barang miliknya. Dia sering meminjam baju, sepatu, tas atau mainan milik Januar, setelah bosan dia akan mengembalikannya. Januar berharap dia tidak akan merasa jenuh dan bosan pada Mei, karena Mei pasti sudah berharap begitu banyak darinya.
"Serius sekali, sedang lihat apa?" Tanya Juli.
__ADS_1
"Ini, Mei menikah dengan Justin hari ini," sahut Januar.
"Syukurlah, semoga saja mereka bisa hidup bahagia sampai tua. Dan tidak ada drama selingkuh lagi," ucap Juli.
"Kamu ini masih ABG bicaranya sudah seperti orang tua saja," sindir Januar. Dia tertawa karena Juli manyun saat disindir seperti itu.
"Bukannya pria jauh lebih suka dengan wanita berpikiran dewasa?"
"Kata siapa kamu?"
"Kata Kak April,"
April keluar dari pintu dapur, dia membawa sepiring pisang goreng dan menyajikannya diatas meja tamu.
"Apa yang sedang kalian perdebatkan? Kenapa namaku ikut disebut?" April penasaran.
"Kami tidak sedang berdebat, hanya sedang bercanda ria saja," ucap Juli.
Justin menyantap makanan buatan istrinya dengan lahap, seolah dia belum makan sejak jaman purbakala. Dua potong, tiga potong, total enam potong pisang goreng dia lahap sendirian.
"Kakak, aku bahkan belum mencicipi pisang gorengnya," Juli merajuk seperti anak bayi. Bukannya merasa bersalah Januar malah tertawa terbahak bahak.
"Sudahlah Juli, jangan menangis ya. Aku akan membuatkannya lagi khusus untukmu, di dapur masih ada tiga sisir pisang matang yang bisa digoreng," April mencoba menenangkan perasaan adiknya.
"Iya Kak, tapi nanti kalau dihabiskan dia lagi bagaimana?" Juli menunjuk kearah Januar.
__ADS_1
"Tidak akan, perutnya kan sudah besar seperti balon. Kamu lihat saja tuh, besarkan?" Cibir April.
Bersambung....