
Tak ada petir, tak ada hujan, tiba tiba saja Justin datang ke rumah April. Entah apa yang ada dalam hati dan pikiran pria itu, yang jelas April sangat tidak suka dengan kemunculannya yang tiba tiba.
"Mau apa kamu datang kemari?" Tanya April.
"Apa hubunganmu dengan Januar?" Tanya Justin balik.
"Bukan urusanmu!" sahut April.
"April, kamu itu wanita baik baik. Jangan dekat dekat dengan pria brengsek seperti Januar," Justin memberi nasihat seperti orang bijak.
"Berkaca lah Justin, kamu juga brengsek kan?" April tidak terima suaminya di hina.
"Kita sudah tidak ada urusan lagi, berhentilah ikut campur dalam urusanku. Urusi saja urusanmu sendiri dengan nona Mei," ucap April.
"April, aku..." Justin terbata bata.
"Pergi dari sini!" Usir April.
"Aku hanya..." Ucapan Justin terpotong.
"Pergi dari sini, istriku sudah mengusir kamu tadi. Apa telingamu tuli?" Januar muncul dari balik pintu sambil memandang remeh Justin.
"Apa katamu? Istri? Ka... Kapan kalian berdua menikah?" Justin merasa sangat terkejut.
"Bukan urusanmu, cepat pergi dari sini!" Usir Januar.
Justin emosi, dia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Meski begitu dia menuruti perintah Januar untuk pergi dari rumah itu karena tidak mau April melihat sifat aslinya keluar.
Januar tak habis pikir, Justin benar benar tak tau malu. Sudah selingkuh dengan Mei, masih juga berani mendekati April. Apa dia punya dendam pribadi pada Januar? Sampai sampai dua wanita milik Januar ingin direbut olehnya secara bersamaan?
"Apa setelah putus kalian masih berkomunikasi dengan baik?" Januar menatap April penuh selidik.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, aku juga heran kenapa dia datang ke sini tiba tiba," sahut April santai.
"Mulai sekarang, jangan keluar dari kamar tanpa seizin ku. Dan jangan sembarangan membuka pintu untuk tamu, mengerti!" Pesan Januar.
"Iya, aku mengerti." April mengangguk patuh.
🍄🍄🍄
Prakk...
Justin melempar gelas ke tembok, dia tak terima mantan kekasihnya dinikahi oleh Januar. Meski sudah lama putus, Justin masih menyukai April. Gadis kalem pemilik senyum paling manis didunia.
Justin mengakui kesalahannya karena telah berselingkuh dengan Mei, tapi Justin tidak rela April dinikahi oleh Januar yang menurutnya jauh lebih brengsek dan lebih jahat darinya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan hah?" Areta panik melihat putranya mengamuk seperti orang kesurupan.
"Kak Janur Bu, dia berani menikahi wanita yang masih aku sukai," tutur Justin.
"Iya Bu, siapa lagi memangnya?"
"Itu semua gara gara kamu, kamu sendiri yang mulai menyenggol Mei duluan. Anggap saja kamu sedang mendapat hukuman dari Tuhan, kamu tidak perlu mengamuk," Areta menceramahi Justin dan tidak berniat untuk membelanya.
"Ibu, kenapa Ibu selalu saja membela pria itu?"
"Ya karena Ibu tau kamu salah, makanya Ibu bela dia." Kilah Areta.
"Ibu sama saja menyebalkan seperti Kak Januar!"
Justin kembali pergi meninggalkan rumah, padahal baru beberapa detik dia kembali. Areta hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan buruk Justin. Sejak kecil, Justin tumbuh tanpa sosok Ayah. Dia kurang perhatian dan kasih sayang, oleh karena itu Areta sekali memanjakannya.
Kini Areta menyesal, karena terlalu memanjakan anak ternyata membawa dampak buruk. Andai waktu bisa diputar, Areta ingin mengulang semuanya dari nol lagi. Agar Justin bisa tumbuh menjadi pria baik yang bertanggung jawab, tidak seperti sekarang ini.
__ADS_1
Justin pergi menemui Mei dirumahnya, sama seperti Justin, ternyata Mei juga baru saja selesai mengamuk. Terlihat dari perabotan yang ada diruang tengah berserakan dilantai.
"Mei, kamu tidak apa apa kan?" Tanya Justin khawatir.
"Apanya yang tidak apa apa? Hatiku hancur, sakit. Suamiku pergi dengan wanita lain dan tidak kembali ke rumah," Mei berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Dia tidak akan kembali ke sini, apa lagi mereka berdua ternyata sudah menikah," ucap Justin.
"Apa? Menikah? Jadi selama ini aku dan dia sama sama berselingkuh?" Mei merasa tidak percaya.
"Iya," sahut Justin singkat.
"Ini tidak adil! Kenapa dia marah seperti itu padaku? Padahal kami sama sama selingkuh,"
"Mungkin otaknya sudah geser," canda Justin.
"Aku harus bertemu dengannya,"
"Besok aku akan mengantar kamu menemuinya, sekarang sudah malam, sebaiknya kamu beristirahat saja."
Mei mencoba meredam amarahnya yang meledak, dia menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan. Setelah sedikit tenang, dia bersiap untuk berbincang dengan Justin lagi.
"Ada apa kamu menemui ku malam malam begini?" Tanya Mei.
"Aku hanya ingin bilang padamu kalau aku masih mencintai April, aku ingin kita bekerja sama untuk memisahkan mereka berdua,"
"Bagaimana caranya?" Mei penasaran.
"Aku ada satu cara, tapi kamu harus menurut pada perintahku." Justin menatap Mei dengan tatapan serius sambil tersenyum licik.
Bersambung...
__ADS_1