
Jesi nekat menemui Januar saat week end dirumah, dia sengaja melakukan hal itu untuk menyulut api cemburu dihati April. Tapi ternyata Jesi mendapatkan kejutan tak terduga, sesuatu yang tidak dia kehendaki terjadi.
Januar sedang bersantai sambil minum kopi di teras rumahnya, Jesi berjalan mendekat dan berdiri tepat disisinya.
"Januar," sapa Jesi sambil melempar senyum kearah pujaan hatinya itu.
"Mau apa kamu kemari Jesi?" Tanya Januar ketus. Dia memasang ekspresi wajah tidak suka saat Jesi muncul tiba tiba dihadapannya.
"Tentu saja aku mau bertemu denganmu," sahut Jesi santai.
"Aku sudah bilang padamu, jangan dekat dekat aku lagi!" Ucap Januar dengan nada penuh penekanan.
"Aku sudah mencoba untuk menahan diri, tapi rasanya aku tidak bisa," keluh Jesi.
Tak disangka April mendengar semua celotehan Jesi, kupingnya terasa panas dan nyeri.
"Apa perlu aku membantumu Jesi," April keluar sambil membawa sepiring kue untuk Januar.
Januar panik saat melihat ekspresi wajah April, dia seperti singa betina yang kelaparan. Sepertinya sebentar lagi perang dunia ke tiga akan dimulai, Januar harus menjaga jarak dari dua wanita itu.
"Dari rumah sakit dan kuburan, yang mana yang paling membuat kamu takut?" Tanya April pada Jesi.
"Apa maksudmu?" Jesi kebingungan.
"Kamu bilang, kamu tidak bisa menjauhi suamiku. Jadi biar aku bantu kamu agar bisa menjauhi pria milikku, mau aku bawa kamu ke rumah sakit atau ke kuburan?" Tanya April lagi.
"Apa kamu sedang mengancam ku?" Jesi merasa sedikit tertekan.
"Bukan mengancam, hanya sekedar memberi peringatan saja. Kalau kamu selamat, sebaiknya kamu jaga jarak dengan suamiku, mengerti?" Tekan April.
Jesi mendelik, ternyata wanita yang terlihat pendiam dari jauh itu sangat galak. Dia tidak mudah ditindas apa lagi di intimidasi. Sebaiknya untuk saat ini Jesi mengalah saja, dia belum memiliki trik khusus untuk mengalahkan lawan cintanya itu.
__ADS_1
"Pergi dari sini sekarang juga, atau aku akan mencukur rambutmu sampai botak," ancam April.
Jesi pergi dari rumah itu, dia melenggang dengan hati kesal dan dendam yang membara.
"Tunggu saja tanggal mainnya, aku pasti akan menghabisi kamu wanita galak!" Batin Jesi.
Hari ini April menang dalam perang mulut dengan calon pelakor, tapi besok belum tentu dia bisa menang. April bukannya seorang pemberani, dia hanya tidak mau dipandang rendah dan diremehkan oleh orang lain.
Prok... Prok... Prok....
Juli keluar dari dalam rumah sambil bertepuk tangan, dia takjub dengan permainan silat lidah yang baru saja Kakaknya lakukan.
"Aku baru tau kalau Kakak itu pandai berbicara," celetuk Juli.
"Maksud kamu, pandai bersilat lidah dan menjatuhkan orang lain?" Ucap April.
"Iya, betul. Itu keren sekali," puji Juli.
🍄🍄🍄
Disebuah restoran cepat saji...
Jesi bertemu dengan salah satu temannya, namanya Katrina. Dia mencurahkan segala isinya pada wanita itu termasuk menceritakan bagaimana April mengancam dan mengintimidasinya.
Bukannya membela, Katrina malah mentertawakan kelakuan Jesi.
"Didunia ini, ada banyak pria tampan, kaya dan lajang. Untuk apa kamu mengejar pria beristri?" Sindir Katrina.
"Januar itu tipe pria idealku, bagaimana bisa aku melepaskannya begitu saja?"
"Lepaskan saja, apa kamu mau dimakan dan dicabik cabik oleh singa betina itu?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak,"
"Aku juga seorang istri, aku tau bagaimana perasaan wanita itu. Kalau suamiku diganggu, aku pasti akan melakukan hal yang sama dengannya," ucap Katrina.
Wanita cantik itu berusaha memberi nasihat pada Jesi, tapi kepala Jesi sangat batu. Jangankan hanya teman, orangtuanya saja tidak bisa mengendalikannya.
"Berhentilah menceramahi aku, hal itu tidak akan mempan bagiku," cicit Jesi.
"Terserah kamu saja lah! Yang penting jika nanti terjadi sesuatu padamu aku tidak akan mau membantumu, dan jangan pernah curhat tentang wanita itu lagi." Ucap Katrina.
🍄🍄🍄
April dan Januar baru saja selesai melakukan penyatuan. Tidak ada kegiatan saat waktu luang membuat mereka senang menghabiskan waktu untuk melakukan hal yang sangat mereka sukai.
Apa kamu begitu sangat mencintai aku?" Tanya Januar.
"Kenapa masih bertanya? Tentu saja aku cinta padamu," ucap April.
Senyum cerah mengembang di wajah Januar, ada rasa bangga dalam dirinya ketika dianggap berharga oleh pasangannya. Wanita itu jangankan beradu mulut, beradu fisik pun pasti akan berani untuk melindungi suaminya dari godaan pelakor.
"Harusnya Jesi tidak berani mengejar ngejar aku lagi," gumam Januar.
"Jangan senang dulu, wanita jahat selalu punya seribu satu cara untuk mendapatkan keinginannya,"
"Maksudnya, dia akan muncul kembali dengan rencana baru?"
"Iya. Dan saat itu terjadi, aku akan memotong rambutnya sampai botak dan meneriakinya pelakor di tempat umum,"
"Kejam sekali." Januar bergidik ngeri.
Bersambung...
__ADS_1