
Agung baru saja bersiap menutup jendela dan pintu rumahnya, tiba tiba matanya menangkap bayangan Mei dan Justin keluar dari dalam Taxi. Agung langsung pergi menghampiri anak menantunya dengan perasaan gundah gulana. Baru dua hari sudah kembali kesini lagi? Agung mengira sesuatu telah terjadi disana.
Perasaan seorang Ayah tidak mungkin salah, terlebih Mei terlihat berwajah sedih dan murung seperti sedang tertekan oleh sesuatu. Bibir boleh berbohong, tapi ekspresi wajah tidak sama sekali.
"Ayah," Mei memeluk tubuh pria itu erat. Jantung Justin berdegup kencang, dia takut Mei menceritakan perangai buruk Ibunya kepada sang Ayah lalu memantik api perkelahian diantara dua keluarga.
"Kamu baik baik saja kan sayang?" Tanya Agung. Dia menatap wajah putrinya penuh selidik.
"Mei baik baik saja, kenapa Ayah bertanya seperti itu?" Mei merasa sedikit bingung. Mungkinkah pria itu tau kalau dirinya sedang ada masalah? Insting seorang Ayah memang kuat, sama seperti insting seorang Ibu.
"Ayo kita masuk, diluar dingin," ajak Agung. Dia mencoba untuk bersikap biasa saja walau tau anaknya sedang berbohong.
Ketiganya masuk ke dalam rumah. Usai meletakan koper dan barang bawaan mereka, Mei dan Justin pergi ke ruang makan untuk menunaikan makan malam.
Agung memasak sendiri menu makan malam sederhana itu, meski sederhana rasanya sudah pasti bakal enak. Karena Agung dari muda sudah hobi memasak.
"Bagaimana kabar Ibumu dan Kakakmu disana Justin?" Agung membuka pembicaraan.
"Mereka baik baik saja," sahut Justin datar.
"Syukurlah kalau begitu. Ngomong ngomong, katanya mau disana dua minggu. Kenapa baru dua hari sudah pulang?" Tanya Agung. Dia menatap wajah sang putri dan berharap gadis kecilnya itu mau berkata jujur kepadanya.
"Aku tidak bisa tidur disana," sahut Mei asal.
__ADS_1
"Kenapa tidak bisa tidur Mei? Itu kan rumah Ibu mertuamu?" Agung merasa bimbang dan ragu.
"Itu juga rumah mantan Bibiku Ayah, Ayah paham yang aku maksud bukan?" Mei menuntut Ayahnya untuk tau tanpa dirinya harus berkata panjang lebar.
"Apa mereka mengungkit statusmu di masa lalu?" Tebak Agung.
"Emh... Ayah, sebenarnya mereka hanya perlu sedikit waktu saja untuk bisa menerima semuanya," sela Justin.
"Aku rasa juga begitu." Agung menyendok beberapa sendok nasi goreng dan meletakkannya ke piring Mei.
Meski tidak marah, raut wajah tidak suka terpampang nyata di wajah Agus. Justin harus berhati hati dalam berbicara dan bersikap padanya, jangan sampai sikap tenang pria itu berubah menjadi seperti harimau ganas.
🍄🍄🍄
Agung merasa ada sesuatu yang di tutup tutupi oleh Mei, dia mengajak Mei berbicara diluar saat Justin sedang sibuk menata pakaiannya ke dalam lemari.
"Tante Areta tidak mau menerima aku menjadi menantunya, dia menganggap aku remeh karena aku adalah seorang janda dari Januar," tutur Mei.
"Sudah aku duga, hal itu pasti terjadi. Tapi kamu tidak boleh terlalu menyalahkan Areta, karena bagaimanapun hubunganmu dan Justin awalnya adalah sebuah kesalahan,"
"Iya, aku tau Ayah. Tapi bukan berarti aku tidak layak untuk dihargai atau dihormati,"
"Bersabarlah nak, semua pasti akan indah pada waktunya." Agung menepuk pundak Mei pelan dan mencoba menguatkan hatinya.
__ADS_1
Mei sangat beruntung karena memiliki Ayah yang selalu ada untuk mendukungnya, dalam suka maupun duka. Agung berjanji pada dirinya sendiri, dia akan terus bersama anaknya hingga akhir umurnya nanti.
Justin keluar kamar, dia mengajak Ayah mertua dan Mei berbincang di ruang tamu. Wajahnya terlihat serius, seolah dia akan membicarakan soal hidup dan mati seseorang.
"Mei, Ayah, aku mau membuka usaha di desa ini," ujar Justin.
"Usaha apa?" Mei penasaran.
"Tempat pencucian motor dan mobil, nanti aku taruh kedai kopi disisinya agar lebih ramai lagi pengunjung yang datang," tutur Justin.
"Aku suka ide kamu, aku akan mendukungmu dengan sepenuh hati," ucap Mei.
"Tapi aku butuh pinjaman dana darimu Mei, Ibuku pasti telah memblokir kartu ATM yang aku pegang. Selama ini hasil ku bekerja Ibu yang memegangnya," Justin menundukkan sedikit wajahnya karena malu.
"Kamu tenang saja, aku pasti akan membantu berapapun uang yang kamu butuhkan," lanjut Mei.
"Terimakasih sayang, semoga usaha yang kita rintis bersama sama dari nol bisa membuahkan hasil seperti yang kita inginkan,"
"Amin..."
Agung tersenyum melihat kekompakan suami istri itu, rasa tidak suka dihatinya pada Justin berangsur angsur berkurang. Pria itu benar benar menunjukan kesungguhannya untuk mencintai dan menyayangi Mei dengan sepenuh hati.
Di dalam hati Justin berdoa, semoga hati Ibunya yang keras bisa mencair dan mau menerima Mei sebagai menantunya. Mei adalah wanita baik, hanya saja dia telah termakan bujuk rayu Justin hingga akhirnya melakukan sebuah kesalahan besar.
__ADS_1
Tiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk Mei dan Justin. Tapi tiap orang juga memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan berubah menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Bersambung...