Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 37


__ADS_3

Justin pamit pada sang Ibu pagi itu, dia menyeret sebuah koper berukuran besar berisi pakaian dan pernak perniknya.


"Mau kemana kamu?" Tanya Areta penasaran.


"Ada pemotretan diluar kota, jadi aku mau keluar kota beberapa hari,"


"Pulangnya jangan bawa oleh oleh ya,"


"Iya, Mama tenang saja. Aku akan bawa oleh oleh yang banyak untuk Mama,"


Justin mencium punggung tangan Areta lalu bersiap untuk pergi. Tiba tiba saja keponakannya berlari dan melambaikan tangan kepadanya.


"Om, kalau capek istirahat ya. Jangan ngejar ngejar cinta wanita itu terus," celetuk bocah laki laki itu.


"Mengejar cinta wanita?" Areta menaikan alisnya sebelah. Dia pusing mendengar ucapan bocah itu, baru lima tahun tapi kelakuan seperti anak tujuh belas tahun.


"Dodit, tutup mulutmu!" Omel Justin yang menahan langkah kakinya. Sang keponakan berlari menjauh karena takut di jewer oleh Om nya. Dasar bocah tengil, sudah diberi uang tutup mulut masih saja membuka rahasia.


"Justin, apa yang dibicarakan oleh keponakan mu itu? Kamu sedang mengejar cinta seorang wanita?" Areta menatap curiga.


"Jangan dengarkan dia Ma, dia hanya sedang bicara ngelantur. Sudah dulu ya Ma, Justin pergi dulu,"


"Iya, hati hati di jalan,".


Berbekal sebuah alamat dan nomor telfon, Justin nekat menyusul Mei ke kampung halamannya. Meski dia tau kalau Ayah Mei kemungkinan akan menendang dan memukulnya. Dia tetap nekat menemui Mei karena perasaanya yang tak bisa dibendung lagi.


🍄🍄🍄


Mei merasa kedutan di bagian kelopak matanya. Kata orang, hal itu akan menjadi pertanda dia akan bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak dia temui. Siapakah orang itu? Mei bertanya tanya dalam hati.


"Kamu kenapa Mei?" Tanya Agung.

__ADS_1


"Mataku kedutan, sepertinya aku mau bertemu dengan seseorang," sahut Mei.


"Itu cuma mitos, jangan dipercaya," seloroh Agung.


"Tidak selalu mitos itu takhayul, terkadang mitos juga bisa jadi kenyataan," ujar Mei.


"Iya, terserah kamu saja. Ngomong ngomong, kamu betah tidak kerja di toko baju?"


"Tentu saja betah, Bosku orang baik, pelanggannya juga ramah ramah,"


"Bagus deh kalau betah, jadi kamu tidak bosan karena dirumah terus seharian,"


Agus menurunkan sangkar burung kesayangannya, dia mengganti air minum, mengisi makanannya dan menjemur burung itu agar sehat. Memelihara burung tak hanya untuk menjadi hiburan bagi Agus, tapi juga untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang positif.


Sejak istrinya meninggal, Agus harus memiliki banyak kesibukan. Kalau tidak, dia akan selalu ingat pada sosok wanita yang telah lama menjadi pendamping hidupnya itu.


"Aku sudah memasak banyak lauk di meja makan, enak tidak enak Ayah harus tetap mau memakannya. Aku mau berangkat kerja dulu," pamit Mei. Dia mengalami sang Ayah dan beranjak pergi dari rumah.


"Iya..." Sahut Mei.


🍄🍄🍄


Sementara itu di dalam Bus antar kota antar provinsi...


Justin memperhatikan orang orang yang ada disekelilingnya. Mereka terlihat beraneka ragam dengan gaya fashion dan kepribadian masing masing.


Ada yang pakaiannya sederhana tapi perhiasannya sudah melebihi toko emas, ada mba mba super cuek yang terus saja bermain ponsel sepanjang perjalanan, ada juga orang tua yang terus tertidur sambil mendengkur.


Ini pertama kalinya Justin menaiki angkutan umum jarak jauh, dia tidak pernah mengalami mabuk perjalanan, tapi karena aroma macam macam orang yang ada disana perut Justin mulai mual dan kepalanya pusing.


"Mei, kamu harus tau perjuanganku untuk menemui dirimu. Aku sampai seperti ini, semoga saja kamu mau menerima cintaku nanti," gumam Justin didalam hati.

__ADS_1


Justin mengambil ponselnya di dalam tas, dia mengirim pesan singkat kepada Mei.


"Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu, nanti jemput aku ya di terminal kota," tulis Justin.


Drrrrttt.... Drrrrtttt...


Ponsel Mei bergetar, dia mengambil ponsel di sakunya dan mengecek dia mendapat pesan singkat dari siapa.


"Justin mau kesini menemui ku? Apa ada gerangan?" Mei terkaget kaget.


"Baiklah, kabari aku jika sudah sampai terminal kota," balas Mei.


Justin tersenyum lebar mendapat balasan dari Mei. Wanita itu tidak melarang Justin untuk berkunjung, dan terlihat welcome kepadanya. Tinggal mencari cara untuk meluluhkan hati Ayah Mei saja nanti.


"Kamu mau kemana nak?" Tanya penumpang yang duduk disisi Justin.


"Aku mau ke kota D," sahut Justin singkat.


"Oh... kota D. Pulang kampung ya?"


"Tidak, aku mau mengunjungi seseorang disana,"


"Pacar ya?" Tebak wanita tua itu asal.


"Ko Ibu bisa tau?"


"Jelas tau lah, orang kamu senyum senyum sendiri sambil lihat foto cewek tadi."


Justin menggaruk garuk kepalanya yang gatal, dia salah tingkah dan sedikit malu karena ternyata gerak geriknya ada yang mengamati sejak tadi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2