Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 31


__ADS_3

Sonia masih saja diam diam mengamati Januar dari jauh, dia tidak menyerah meski pria itu telah mengadakan kalau Sonia bukanlah tipe wanita idealnya.


Di pagi yang serah dan indah itu, Sonia datang ke kantor Januar dan menitipkan satu rantang makanan kepada petugas keamanan. Dia meminta petugas itu untuk memberikannya kepada Januar karena Sonia tidak memiliki keberanian untuk memberikannya secara langsung.


"Maaf, kalo boleh tau nona itu siapanya Pak Januar?" Tanya petugas keamanan itu.


"Aku Sonia, teman dekatnya Januar. Kebetulan aku ada urusan, jadi aku tidak memiliki waktu untuk memberikannya secara langsung, aku harus buru buru pergi," sahut Sonia.


"Baik kalau begitu, nanti saya sampaikan pada Pak Januar," ucap satpam itu.


"Oke terimakasih,"


Sonia pergi meninggalkan kantor Januar, tapi dia tidak benar benar pergi. Dia bersembunyi di suatu sudut menunggu Januar datang. Sonia penasaran melihat reaksi Januar saat mendapatkan perhatian lebih dari Sonia.


Tak lama, Januar datang. Dia turun dari mobil dan petugas keamanan itu dengan cepat menghampiri atasannya sambil membawa rantang makanan pemberian Sonia.


"Pak, tunggu Pak!" Cegah satpam itu.


"Iya, ada apa?" Tanya Januar.


"Tadi ada teman Bapak menitipkan ini ke saya, katanya untuk Bapak," menyerahkan rantang makanan.


"Siapa namanya?"


"Kalau tidak salah, namanya Sonia Pak,"


"Oh... Sonia. Ambil saja makanan itu untukmu, jangan lupa bagi bagi dengan temanmu yang lain ya,"


"Siap Pak!"


Meski sedikit jauh, Sonia bisa mendengar pembicaraan dua orang itu. Sonia merasa kesal karena Januar menolak makanan pemberiannya, padahal makanan itu dia beli dari restoran bintang lima.


"Selalu saja menolakku, apa dia tidak tau betapa mahalnya harga makanan itu? Menyebalkan!" Umpat Sonia lirih.

__ADS_1


Didalam kantornya Januar duduk termenung, dia merasa heran bagaimana bisa Sonia tau alamat kantornya? Apa selama ini wanita itu diam diam menguntitnya kemanapun dia pergi? Januar bertanya tanya dalam hati.


🍄🍄🍄


Sore harinya, pulang kerja. Sonia kembali berusaha mendekati Januar. Dia menunggu ditepi jalan dan berpura pura mengalami ban mobil bocor. Niat hati ingin meminta tumpangan, saat mobil Januar lewat Sonia memberi kode dengan tangan. Bukannya memberi tumpangan, mobil Januar terus melaju seolah tidak melihat keberadaan Sonia.


"Pria sial! Awas saja kamu, aku pasti bisa mendapatkan mu!" maki Soraya.


Desta tertawa melihat kelakuan konyol Sonia, wanita genit yang tak berhasil menggoda Januar dengan berbagai cara. Rupanya kini Januar telah menjadi sosok pria yang setia. Wanita karena nona April.


"Ada apa kamu tertawa seperti itu?" Tanya Januar.


"Saya hanya merasa lucu dengan kelakuan Nona Sonia saja,"


"Dia memang pantas ditertawakan, perempuan bermuka tembok yang tidak tau mau!"


Januar mampir ke toko bunga. Dia membeli seikat bunga mawar merah untuk April, dia juga mampir ke toko perhiasan untuk membeli sepasang cincin baru.


"Jadi kita tidak langsung pulang ke rumah Bos?" Tanya Desta pada Januar yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Tidak, kita langsung ke rumah April saja," perintah Januar.


"Siap Bos!"


🍄🍄🍄


Sore itu, April nampak cantik mengenakan dres bunga bunga warisan Ibunya. Seolah ada bisikan gaib yang meminta wanita cantik itu untuk mengenakannya.


April tersenyum melihat pantulan bayangannya sendiri di cermin. Begitu manis dan anggun, seperti setangkai bunga lili yang siap untuk dipetik oleh seorang pangeran berkuda putih.


"Cie, dandan rapih banget. Mau jalan kemana?" Goda Juli sambil memegangi gagang pintu kamar Kakaknya.


"Aku tidak jalan kemana mana kok, hanya saja hari ini sepertinya aku ingin tampil rapih saja. Ngomong ngomong, aku cantik tidak?" Tanya April adiknya.

__ADS_1


"Cantik lah, kan perempuan. Masa ganteng sih," sahut Juli sambil tertawa.


"Cantik tidak?" Tanya April lagi karena belum puas dengan jawaban dari Juli.


"Cantik kok, cantik." Sahut Juli.


April tersenyum, dia mengambil satu botol parfum dan menyemprotkannya beberapa kali pada area ketiak dan leher. Tiba tiba dua wanita itu mendengar suara mobil parkir dihalaman rumah, mereka keluar ke teras secara bersama sama.


"Itu Kak Januar kan?" Bisik Juli.


"Iya, tumben dia kesini tidak memberi kabar dulu,"


"Asik, dibawakan buket bunga. Jangan jangan dia mau melamar Kakak secara resmi," goda Juli.


"Itu yang aku harapkan. He... He... He.."


Januar memberikan buket bunga itu pada April, April menerimanya dengan senang hati. Kemudian Januar merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah berisi sepasang cincin.


"Tuh kan benar tebakanku, Kakak mau dilamar," celetuk Juli.


"April, kamu mau tidak jadi istriku lagi? Kita mulai segalanya dari nol bersama sama," ucap Januar lantang.


"Aku mau," sahut April dengan wajah senang. Dia bahkan melompat lompat seperti anak kodok yang sedang mengejar nyamuk.


Januar memakaikan cincin ditangan April, begitu juga sebaliknya. Kini keduanya telah sah bertunangan dengan Juli dan Pak Desta sebagai saksi.


"Kakak ipar, cincin itu cantik sekali. Aku juga mau dibelikan cincin, sukur sukur sama antingnya sekalian," ceplos Juli tanpa rasa sungkan. Sejak kecil dia memang tidak pernah memakai barang mewah itu, wajar jika Juli menginginkannya. April pun tak marah padanya.


"Nanti aku kasih uang, kamu beli sendiri ya," sahut Januar.


"Terimakasih Kakak Ipar,"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2