
Hamil membuat April banyak makan, tubuhnya menggendut sesuai seiring berjalannya waktu. April tidak pede dengan penampilannya yang sekarang, wajahnya terlihat kusam, berbintik dan sedikit berminyak.
Semua karena hormon kehamilan, ternyata menjadi wanita hamil banyak sekali yang dikorbankan, tidak hanya tenaga dan uang saja. Januar mungkin terlihat biasa saja dengan semua perubahan itu, yang penting anak dan istrinya sehat. Tapi tetap saja rasa cemas ada di otak April, cemas Januar diambil oleh pelakor.
Terlebih, Jesi masih kerap mengirim pesan singkat kepada Januar. Mengajak bertemu lah, bilang rindu lah, dan bla bla bla. Untungnya Januar tidak memperdulikan wanita genit itu dan memilih tetap setia pada istrinya.
Sore itu Januar pulang dari tempat kerja dengan hati senang dan bahagia. Dia baru saja menemukan sepasang nama untuk calon anak anaknya nanti.
"Kakak, kenapa senyum senyum sendiri?" Juli menatap dengan tatapan aneh.
"Aku tidak kenapa-napa kok," sahut Januar.
"Kakak tidak sedang jatuh cinta lagi kan?" Cicit Juli.
"Sembarangan saja kamu kalau bicara!" Omel Januar.
"Begitu saja marah, aku kan hanya bercanda!"
Januar masuk ke dalam kamarnya, dia melihat April sedang sibuk melihat bayangannya sendiri di depan cermin. Wajahnya cemberut, seperti ada sesuatu yang dia tidak sukai dari dirinya sendiri.
"Masih tidak terima berat badanmu naik ya?" Oceh Januar.
"Iya, bagaimana ini?"
"Ya mau bagaimana lagi? Diterima saja dengan lapang hati. Besok habis lahiran juga berat badanmu turun,"
"Kalau tambah melar bagaimana?"
"Aku akan membawamu ke klinik kecantikan terbaik, tenang saja,"
__ADS_1
April bergelayut manja di lengan suaminya, seperti seekor kupu kupu yang hinggap di ranting pohon. Januar membelai lembut perut April yang ukurannya sedikit bertambah.
"Aku sudah menyiapkan dua nama untuk anak kita, satu untuk laki laki, satu lagi untuk perempuan," kisah Januar.
"Apa tidak terlalu dini, aku belum melakukan pemeriksaan USG,"
"Nanti sore kita USG ya," Januar begitu sangat bersemangat.
"Boleh, tapi kalau belum empat bulan tetap saja belum kelihatan jenis kelaminnya. Kamu yang sabar ya," ucap Apri sambil tertawa.
🍄🍄🍄
Di tempat lain...
Jesi sedang menyiapkan rencana jahat bersama salah satu pegawai kantor Januar. Dia meminta tolong pada pegawai bernama Rudi itu untuk memasukan obat p*rangsang pada minuman yang biasa dipesan oleh Januar. Tentu saja Jesi menjanjikan imbalan yang begitu besar, yaitu sepuluh juta rupiah.
"Non, tapi nanti kalau ketahuan bagaimana?" Tanya Rudi. Dia merasa sedikit cemas dan khawatir pada keberlangsungan karirnya kalau sampai rencana jahat mereka berdua ketahuan.
"Kalau sampai ketahuan, jangan sampai kamu membawa bawa namaku. Kalau tidak, aku akan mengambil paksa anakmu yang masih tergeletak lemah dirumah sakit itu!" Ancam Jesi.
"Jangan Non, saya akan berusaha bekerja dengan baik dan rapih," ujar Rudi.
Jesi tertawa puas karena berhasil menekan pria yang bekerja sebagai OB itu, sebentar lagi Januar akan menjadi miliknya. Dan tidak akan ada yang bisa menghalanginya untuk menguasai Januar secara penuh.
Jesi bukan hanya cinta pada fisik Januar saja, dia juga cinta pada harta kekayaan yang Januar miliki. Harta itu tak terbilang banyaknya, selama menjadi selingkuhan Januar dulu Jesi berhasil membeli sebuah rumah dari uang pemberian Januar.
Apa lagi kalau Jesi berhasil menjadi pasangan hidup Januar? Jesi mungkin akan bisa membeli sebuah pulau, membangun Hotel, restauran juga sebuah pusat perbelanjaan.
"Apa wanita itu sudah gila? Dia begitu sangat berambisi mendapatkan Bos Januar, tapi tidak berkaca bagaimana penampilannya saat ini. Ah, sudahlah. Aku butuh uang pemberiannya." Batin Rudi panjang lebar.
__ADS_1
🍄🍄🍄
Kembali pada Januar dan April di dalam kamarnya...
"Ngomong ngomong, apa saja nama yang sudah kamu siapkan untuk anak kita itu?" Tanya April sambil menyisir rambut Januar yang baru saja selesai mandi.
"Yang pertama Ratu Eliza, yang kedua Radja Permana. Bagus tidak?" Januar mengalihkan pandangannya pada April.
"Namanya cukup bagus, tapi apa tidak terlalu kebarat baratan? Bagaimana kalau kita pakai nama orang lokal saja. Misalnya Dewi Sekar Arum atau Jaka Pradipta Permana," usul April.
"Kita lihat bagaimana nanti saja lah ya,"
Tiba tiba aroma mi goreng spesial tercium menyengat di hidung April. Dia menebak Juli sedang membuat mi instan di dapur. Segera April pergi ke dapur dan meninggalkan Januar begitu saja.
"Hey, kamu mau kemana?" Tanya Januar.
"Aku mau mengisi ulang perutku yang lapar," sahut April.
"Dia bilang lapar? Baru setengah jam yang lalu dia baru selesai ngemil dua tangkup roti bakar," Januar geleng geleng kepala.
April merangkul pundak Juli dari belakang, karena kaget Juli melompat dan hampir membuat mangkuk mi miliknya terjatuh.
"Kakak, mengagetkan aku saja!" Omel Juli.
"Minta dong minya," rengek April.
"Tidak bisa, Kakak kan sedang hamil!"
April merasa kecewa karena hal itu, alhasil dia hanya bisa melihat Juli makan mi sambil menelan air liur.
__ADS_1
"Dasar adik yang jahat!" Maki April lirih.
Bersambung...