Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 45


__ADS_3

Sore itu, sinar mentari yang terik mulai meredup. Daun daun kering berguguran dari dahan pohon karena tertiup angin.


Mei dan Justin tiba dirumah Areta, mereka turun dari Taxi dan melangkah menuju bangunan megah itu. Sayangnya, kedatangan mereka disambut dengan wajah datar dan acuh seorang Areta. Areta sangat berharap putranya memiliki masa depan cerah, istri yang tak hanya cantik tapi juga berpendidikan dan memiliki karir bagus. Bukannya mantan model majalah dewasa seperti Mei.


Mei paham betul kalau Areta tidak menyukainya, saat Mei mengajak dia berbicara, dia sama sekali tidak mau melihat wajahnya dan memalingkan pandangannya kearah lain. Seolah olah di wajah Mei ada kotoran yang menempel dan terlalu menjijikan untuk dilihat.


Meski begitu Mei tetap percaya diri untuk menyapa Ibu mertuanya, bersikap ramah dan memberi kesan plus dalam jumpa pertama mereka setelah sekian lama.


"Hallo, bagaimana kabarnya Bu?" Tanya Mei.


"Baik," sahut Areta singkat.


Melihat sifat judes Ibunya, Justin langsung membawa Mei masuk kedalam rumah. Menunggu Areta mempersilahkan mereka masuk sepertinya tidak akan pernah terjadi.


Niken memberikan pelukan hangat untuk Mei dan Justin, sambutan baik dari wanita cantik itu memberi secercah harapan pada Mei akan ada keluarga yang mau menerimanya apa adanya tanpa mengungkit kekurangannya.


"Naik apa tadi ke sini?" Niken basa basi.


"Naik Bis Kak,"


"Cepat juga ya, jam segini sudah sampai rumah,"


"Iya, kebetulan jalanan tidak macet,"


"Ayo kita ke ruang makan, kalian berdua pasti lapar kan setelah melakukan perjalanan panjang." Ajak Niken.


Dalam diam, Justin bersyukur karena Niken mau menerima dan menyambut Mei dengan baik. Dia sempat dilanda khawatir kalau Niken akan bersikap sama seperti Ibu mereka.


Niken, Mei dan Justin duduk di kursi meja makan. Mei celingukan karena Ibu mertuanya tidak ikut bergabung bersama mereka. Sebenci itulah Areta kepada Mei?


"Kak, kenapa Ibu tidak ikut makan bersama kita?" Tanya Mei.

__ADS_1


"Dia sudah makan duluan tadi, jadi kita makan bertiga saja ya," Niken berbohong. Matanya melirik kearah Justin seolah meminta dukungan.


"Iya, Kakak benar. Mari kita makan." Sambung Justin.


Ketiganya makan dengan lahap, makanan yang tersaji begitu beragam dan enak. Membuat siapa saja yang melihatnya langsung memiliki nafsu makan tinggi.


"Ngomong ngomong, si kecil mana?" Justin mencari keponakan kesayangannya.


"Dia sedang tidur, kamu kangen ya?" Ledek Niken.


"Kangen lah, Kakak tau sendiri aku sangat suka pada anak kecil,"


"Kalau begitu, segeralah memiliki momongan. Jangan ditunda tunda ya!"


Batin Mei terasa teriris, Justin mungkin mau menerima kenyataan kalau dirinya mandul. Tapi bagaimana dengan Niken dan Areta? Mei sangat yakin kalau mereka tidak akan menerimanya.


Nafsu makan Mei hilang seketika, bayang bayang buruk mulai melintas di otaknya. Bagaimana jika suatu saat nanti keluarga itu menendangnya keluar dari rumah itu, dia akan menjadi janda untuk kedua kalinya.


"Benar kata Ayah, aku tidak boleh tinggal seatap dengan keluarga ini," batin Mei.


"Ah, iya," Mei terlihat gugup.


"Ada apa Mei? Apa makanannya tidak enak?"


"Enak kok, aku suka." Mei meringis menunjukan senyum palsu.


Justin tau ada yang tidak Mei sukai dengan ucapan Kakaknya tadi, dia jadi merasa bersalah karena telah membuka obrolan tentang anak anak.


Selesai makan, Mei membawa Justin ke dalam kamarnya. Dia ingin membawa istrinya duduk dan berbincang dengan Areta tapi dia takut Areta malah bersikap tidak baik pada Mei.


"Sayang, sepertinya Ibumu tidak menyukaiku," celetuk Mei.

__ADS_1


"Jangan berprasangka buruk, kalau dia tidak menyukai kamu pasti dia tidak mengizinkan aku menikah denganmu," Justin mencoba menutupi kenyataan pahit itu.


"Aku bukan wanita bodoh Justin, aku juga sudah pernah memiliki mertua,


"Sudahlah Mei, jangan terlalu memikirkan soal Ibuku. Kita hanya sebentar saja disini, jadi berpura pura lah bersikap manis padanya,"


Mei tertidur dengan lelap selepas mandi, Justin memanfaatkan hal itu untuk turun menemui Ibunya dan mengajaknya berbicara empat mata. Areta masih terjaga, dia duduk dengan tenang di depan Tv.


"Bu, bisa kita bicara sebentar,"


"Soal apa? Kalau itu soal Istrimu aku malas bicara,"


"Bu, tolong hargai pilihanku. Kalaupun Ibu tidak suka padanya tidak apa apa, tapi berpura pura lah ramah sedikit saja,"


"Aku tidak pandai berpura pura, aku kan bukan artis. Sejak awal Ibu sudah bilang padamu, kalau kamu tatap nekad menikahi Mei maka kamu harus menerima konsekuensinya, yang Ibu maksud adalah ini,"


"Bu, kami disini hanya sebentar jadi..."


"Sebentar? Apa yang kamu maksud?" Areta kaget.


"Aku akan pindah dan tinggal bersama Mei di kampung halamannya,"


"Jadi kamu tega meninggalkan Ibu dan memilih dia?"


"Aku tidak meninggalkan Ibu, aku hanya tinggal disana. Tiga bulan sekali aku akan datang untuk mengunjungi Ibu, aku janji."


Justin menggenggam tangan Areta erat, wanita itu menitihkan air mata mengisyaratkan rasa kecewa yang begitu besar. Dari kecil, Justin adalah anak kesayangan Areta, saat ini dia malah pamit ingin tinggal jauh dari Areta.


"Bu, aku sayang sekali pada Ibu. Ibu juga sayang kepadaku kan?" Tanya Justin.


"Kamu ini bicara apa? Tentu saja aku sayang padamu,"

__ADS_1


"Kalau begitu, tolong restui hubunganku dengan Mei. Bersikaplah baik padanya, sayangi dia seperti Ibu menyayangi anak anak Ibu."


Bersambung...


__ADS_2