
Pagi itu langit sedikit mendung, hawa sekitar terasa dingin hingga menusuk tulang sumsum belakang. April pergi ke pasar untuk mencari bahan makanan, dia secara tak sengaja bertemu dengan Kevin yang sedang membeli bubur Ayam untuk sarapan.
April hendak kabur, tapi Kevin sudah mencegahnya terlebih dahulu tanpa berani menyentuh wanita itu.
"Tunggu April," tahan Kevin.
"Ada apa?" Tanya April malas.
"Apa benar kamu sudah menikah dengan pria matang itu?" Kevin penasaran.
"Iya, kenapa memangnya?" Tanya April balik.
"Apa kamu menerimanya karena dia kaya?" Tuduh Kevin.
"Apa maksud kamu Kevin? Aku bukan perempuan matre seperti yang kamu tuduhkan!" Omel April.
"April, setelah lulus kuliah nanti aku akan menjadi orang sukses untukmu. Tak bisakah kamu memberiku kesempatan untuk memilikimu?" Kevin memasang wajah memelas.
"Apa kamu gila Kevin? Kamu sedang mencoba merayu perempuan bersuami," April memaki kebodohan Kevin.
"Aku tidak peduli, entah mengapa aku merasa kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu itu." Kevin hendak meraih telapak tangan April tapi langsung ditepis oleh seseorang.
"Maaf, anda dilarang sembarangan menyentuh istri Tuan Muda kami," ucap Pak Desta yang tiba tiba saja muncul entah dari mana.
"Anda siapa?" Tanya Kevin balik. Dia penasaran dengan sosok paruh baya berpenampilan rapih itu.
"Mulai saat ini, saya adalah pengawal pribadi Nona April yang akan menjaganya dari pria pria tak tau diri seperti anda," sahut Pak Desta.
"Pe... Pengawal pribadi?" Kevin terbata.
April melongo, dia tak menyangka Januar akan mempekerjakan seseorang khusus untuk mengawalnya. Padahal saat ini dia hanya berada beberapa kilo meter dari rumahnya.
Pulang dari pasar, April menaruh keranjang belanjaannya dan melihat kedalam kamar. Januar masih tidur dengan posisi telungkup, dia masih nyenyak dalam pelukan selimut hangat.
"Duduklah," perintah April pada Pak Desta.
"Sejak kapan Bapak selalu membuntuti aku kemanapun aku pergi?" Tanya April.
"Sejak hari ini. Saya dipindah tugaskan untuk mengawal anda Nona,"
__ADS_1
"Aku tidak nyaman dibuntuti oleh orang lain saat pergi kemana mana, bisa tidak Bapak sudahi saja acara kawal mengawalnya?"
"Maaf Nona, tidak bisa. Saya tidak mau digantung hidup hidup oleh Tuan Januar."
April mendelik mendengar jawaban dari Pak Desta, apa Januar brutal itu? Dia tidak terlihat menyeramkan dan sekejam itu pada orang lain. Begitulah isi pikiran April saat ini.
🍄🍄🍄
Juli pulang dari tempat les, dia kaget melihat Pak Desta tengah menyapu dan mengepel lantai rumahnya. Sejak kapan pria tua itu bekerja menjadi juru bersih bersih dirumahnya?
Ah, abaikan saja lah. Harusnya Juli senang karena tidak perlu capek capek merapihkan dan membersihkan rumah lagi.
Juli pergi ke dapur, dia melihat April sedang menyuapi Januar seperti bayi. April merasa mual seketika, romantis boleh, tapi apa yang mereka lakukan terlalu lebay!
"Kenapa baru pulang sore sore begini?" Celetuk Januar.
"Jalanan macet," sahut Juli.
"Mau tidak aku belikan sepeda motor?" Ucap Januar sambil terus menguyah makanan yang ada didalam mulutnya.
"Mau lah, dibelikan barang bagus masa tidak mau," Juli tersenyum.
"Motor matik keluaran baru, body ramping juga ringan,"
"Nanti aku pesankan untukmu,"
"Asik, punya motor baru juga. Terimakasih Kakak Ipar,"
"Hem...." Sahut Januar pelit.
Juli melompat lompat menuju kamarnya, dia kelewat senang karena akan memiliki kendaraan pribadi yang selama ini dia inginkan. Sementara April merasa sedikit tidak suka dengan sikap Januar yang terlihat seperti sedang memanjakan adiknya.
"Sayang, jangan terlalu memanjakan dia," protes April.
"Aku tidak memanjakannya, aku hanya mencari solusi agar dia pulang ke rumah tidak terlalu sore," Januar membela diri.
"Terserah kamu saja lah," ucap April.
"Kamu mau aku belikan mobil?"
__ADS_1
"Tidak mau, aku bahkan tidak pernah keluar rumah. Untuk apa aku punya mobil?"
🍄🍄🍄
Malam harinya, sesuatu yang mengejutkan hati April dan Januar terjadi. Mei tiba tiba saja datang ke rumah itu dengan wajah penuh emosi dan bersungut sungut. Terlebih saat dia melihat Pak Desta sedang melayani April seperti seorang Nyonya muda.
"Mei, mau apa kamu kesini?" Tanya Januar.
"Kamu tidak pulang tiga hari ini, jadi aku menyusul kamu. Aku takut kamu lupa jalan pulang," ucap Mei.
"Aku akan pulang besok, sekarang kamu pulang saja," usir Januar.
"Tidak mau, aku tidak akan pulang jika kamu tidak ikut denganku," ucap Mei.
"Pak Desta, antar Mei pulang," Perintah Januar.
"Baik Tuan!" Sahut Pak Desta.
"Aku bilang tidak mau!" Sentak Mei.
"Pulanglah Tuan, aku tidak mau terjadi keributan dirumah ini," bujuk April.
"Aku masih betah disini," seloroh Januar.
"Kamu lebih betah disini, dirumah wanita murahan itu dan mengabaikan istrimu yang sedang hamil muda? Jahat kamu Januar!"
"Aku tidak akan sejahat ini kalau bukan kamu yang memulainya," bentak Januar.
"Cukup Tuan, sebaiknya sekarang Anda pulang saja. Jangan cemaskan aku, aku akan baik baik saja," bujuk April lagi.
"Baik, aku akan pulang. Maaf karena sudah membuat keributan di rumah ini,"
Cup...
Januar mencium kening April mesra, Mei terbakar api cemburu. Dia mengepalkan tangannya sambil menahan tangis. Bagaimana bisa Januar tega melakukan hal itu padanya? Padahal, mereka berdua sudah tinggal satu atap cukup lama.
Ternyata melihat pasangan mencium orang lain itu sangat sakit, pantas Januar begitu sangat benci dan marah kepadanya. Mei benar benar menyesal, dia berjanji tidak akan mengulangi kebodohannya lagi.
Bersambung...
__ADS_1