
Mei menaruh sedikit rasa curiga pada Januar, akhir akhir ini dia jarang sekali protes pada apapun yang dilakukan Mei. Dia terlihat lebih santai, jarang marah dan terlihat lebih bahagia. Padahal Mei jarang sekali ada dirumah, mereka berdua jarang menghabiskan waktu bersama. Jangan jangan Januar memiliki dayang baru diluar sana?
Januar mengganti pakaiannya, setelah itu dia merebahkan tubuhnya keatas kasur. Dia bersiap untuk pergi tidur walaupun hari belum siang.
"Tumben sekali kamu ada dirumah Mei? Apa sedang tidak ada pemotretan?" Tanya Januar.
"Aku ambil cuti, aku ingin menghabiskan waktu berdua bersama kamu," sahut Mei.
Bukannya senang, Januar malah menunjukan ekspresi wajah datar. Membuat Mei merasa kesal dan parah hati. Kemana perginya Januar yang ekpresif dan manja seperti dulu? Kenapa dia berubah jadi sedingin es batu?
Mei menghentakkan kakinya dilantai, dia keluar dari kamar meninggalkan Januar sendirian. Januar sama sekali tidak tau kalau Mei sedang merajuk, kepekaan pada wanita itu telah hilang semenjak Januar memiliki istri baru.
Mei ingin kembali meraih perhatian dan pujian dari suaminya, dia pergi ke dapur dan diam diam memasak makan malam untuk januar. Mei tidak pandai memasak, tapi sekarang bumbu masakan sudah banyak yang instan dan memudahkannya untuk membuat makanan enak.
Setelah berkutat selama satu jam di dapur, berbagai menu berhasil Mei buat. Ada cah kangkung, ada ikan goreng, sambal, lalapan dan hidangan lainya.
"Dia pasti senang aku memasak banyak makanan untuknya," ucap Mei lirih.
"Hem... Baunya harum sekali, pasti rasanya enak," Januar muncul dari ruangan sebelah.
"Tumben sekali kamu mau masak? Biasanya takut kena minyak atau takut kuku kuku cantikmu itu patah," Lanjut Januar. Dia menyindir sang istri secara halus.
"Sekali kali ingin memanjakan suami, boleh kan?" Ucap Mei.
"Boleh dong, setiap hari juga boleh." Januar tertawa lebar.
Januar senang melihat ada sedikit perubahan dalam diri Mei, dia berharap perubahan yang positif itu akan abadi, bukan muncul lalu hilang lagi seperti janji pelangi kepada awan.
🍄🍄🍄
__ADS_1
April baru saja selesai menata baju bajunya kedalam lemari, telinganya mendengar seseorang datang bertamu. April segera membuka pintu dan mencari tau siapa tamu yang datang malam malam begini.
Ternyata, tamu itu adalah Kevin teman satu kelas April saat SMP dulu. Pria itu berbeda sekali sekarang, dulu tampil cupu dan kuno, tapi sekarang malah mirip dengan idol K-Pop. Glowing, modis, keren parah.
April tau kalau sejak dulu Kevin menyukainya, tapi dia pura pura tidak tau. April terlalu minder untuk menerima cinta dari seorang pria karena dia terlalu miskin. Di jaman modern seperti sekarang ini, jarang sekali ada orang yang mau mencintai pasangannya dengan tulus tanpa embel embel tertentu, begitulah isi pemikiran April.
"Hallo April," sapa Kevin.
"Hallo, kamu tau dari mana rumahku ada disini?" April menaikan alisnya sebelah.
"Ada deh," Kevin tertawa renyah.
"Mari masuk," ajak April.
Keduanya duduk di sofa tamu dan berhadap hadapan, tak lama Juli keluar dari dalam kamarnya. Juli tersenyum, setelah sekian lama akhirnya ada juga pria yang apel ke rumah ini.
"Aku makan sehari bisa empat kali Mas, wajar kalau aku cepat besar," sahut Juli asal.
"Juli, tolong buatkan minuman ya," pinta April.
"Oke," sahut Juli.
Kevin diam diam memandang kecantikan April, dari dulu dia tidak banyak berubah. Tetap terlihat sederhana dan anggun. Sama seperti perasaan Kevin padanya, tidak berubah meski mereka tidak bertemu beberapa tahun.
Sebenarnya April pernah suka pada kevin, tapi Ibunya melarangnya untuk berpacaran. Kini Ibunya sudah tidak ada, April dan Kevin tetap tidak bisa berpacaran karena takdir menjadikan April istri simpanan Tuan Januar.
"Ada perlu apa kamu datang ke sini?" Tanya April. Dia merasa sangat penasaran.
"Emhmmm... Aku kesini untuk menyatakan perasaanku padamu. April kamu mau tidak jadi pacar aku?" Kevin terus terang.
__ADS_1
April tertegun, dia merasa sesak karena harus menolak pria idamannya itu karena Tuan Januar. Pria mata keranjang yang punya stamina seperti seekor kuda. Apa yang harus April lakukan sekarang? Bolehkah dia bermain api dan berselingkuh? Bukankah Januar juga sedang berselingkuh dari istri pertamanya? Pikiran buruk tiba tiba saja muncul di otak April.
"Kevin, terimakasih karena kamu sudah menyukai aku. Kamu pria baik, ramah dan sopan, aku bukanlah wanita yang cocok untukmu," seloroh April.
"Kamu menolak cintaku? Apa kamu sudah memiliki kekasih?" Kevin melotot.
"Ya, aku sudah memiliki kekasih," April menghela nafas pendek.
"Siapa pria beruntung itu?" Kevin sangat penasaran.
"Cepat atau lambat kamu akan mengetahuinya nanti," ucap April.
Selepas kepergian Kevin, Juli datang menghampiri April dan mengajaknya berbincang. Dia penasaran dengan sosok kekasih sang Kakak yang belum pernah dia lihat batang hidungnya.
April tidak pernah membawa pulang laki laki ke rumah, wajar saja jika Juli sedikit heran kalau April ternyata memiliki kekasih. Apa mungkin pengakuan April tadi hanya sekedar penolakan secara halus saja?
"Kakak punya pacar? Orang mana?" Tanya Juli. April mendelik karena ternyata Juli mencuri dengar obrolannya dengan Kevin tadi.
"Orang kota,"
"Kota mana?"
"Mana saja boleh,"
"Idih, Kakak. Aku bertanya serius tapi Kakak jawabnya bercanda," Juli merasa kesal dan tak puas dengan jawaban April.
"Kita lanjut besok saja ngobrolnya, sudah malam, Kakak mau tidur dulu." April melarikan diri ke dalam kamarnya.
Bersambung...
__ADS_1