Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 46


__ADS_3

Malam hari, Mei memberanikan diri untuk keluar dan menemui anggota keluarga Justin yang sedang berkumpul. Mereka mengajak Dodit main, satu satunya hiburan yang dimiliki oleh keluarga itu.


Dodit adalah cucu pertama dari anak pertama keluarga Areta, ayahnya bekerja diluar negri dan hanya kembali tiga kali dalam satu tahun. Tapi Dodit sama sekali tidak merasa kesepian, karena dia selalu dikelilingi oleh orang orang yang mencintainya. Ibu, Nenek, Om dan Tantenya.


Sungguh menggemaskan tingkah laku anak anak seusia Dodit, andai Mei bisa memiliki anak, hidupnya pasti akan terasa lebih sempurna dan berwarna. Apakah perlu Mei mengakui soal kekurangannya pada Areta dan Niken? Mei disergap rasa bimbang dan ragu.


"Jam segini kok baru turun? Ngapain saja kamu? Berapa?" Sindir Areta.


"Maaf Bu, badanku pegal linu baru perjalanan jauh jadi aku tiduran terus dikamar," sahut Mei.


"Pemalas! Pantas saja kamu ditalak oleh Januar,"


"Bu, bisa tidak jangan bawa bawa masa lalu? Mei sekarang itu istriku," bela Justin.


"Istri yang tidak berguna!" Areta bangkit dari sofa. Dia pergi ke kamarnya yang ada di lorong paling belakang.


Mei menangis, dia mencoba untuk tidak tersinggung dengan ucapan mertuanya tapi tidak bisa. Niken merasa kasihan pada Mei, dia memeluk Mei dan tangis Mei pun pecah sejadi jadi.


Justin murka pada sang Ibu karena telah membuat Mei menangis tanpa henti. Dia langsung kembali ke kamarnya, mengemasi barang barangnya dan mengajak Mei keluar dari rumah itu.


"Kamu mau kemana?" Tanya Niken.


"Aku mau pulang ke kampung Mei, disini Ibu tidak mau menghargai istriku sama sekali," sahut Justin.


Niken meminta Justin menunggu sebentar, dia mengambil perhiasan, pakaian dan tas yang pernah dia beli untuk Mei. Barang yang harusnya memang diberikan kepada menantu baru oleh Ibu mertuanya sendiri sebagai bentuk cinta kasih dan penerimaan.


"Apa ini Kakak? Banyak sekali," ucap Mei. Dia tidak enak hati menerima pemberian Niken. Terlebih, harga barang barang itu sangat mahal. Bahkan ada yang seharga sebuah sepeda motor.

__ADS_1


"Ambil saja, ini kenang kenangan dariku," Niken memeluk Mei dan Justin bergantian. Mereka berdua pun akhirnya pergi meninggalkan rumah Areta tanpa pamit kepada sang tuan rumah.


🍄🍄🍄


Keesokan harinya...


Areta mendapati rumahnya nampak sepi, tidak ada suara seseorang bercakap cakap. Yang pasti dia tidak melihat sosok Justin yang biasanya jam segini sedang minum kopi di dapur.


Niken keluar dari kamar, dia menggandeng Dodit hendak membawanya pergi ke taman bermain. Dia mengacuhkan Ibunya karena kesal dengan sikap wanita tua itu yang lebih mirip dengan seorang zombie daripada seorang Ibu.


"Niken, Justin mana?" Tanya Areta. Dia mencari cari kesana dan kemari tapi sosok putra kesayangannya tak ditemukan.


"Dia sudah pulang ke kampung halaman Mei semalam,"


"Apa katamu? Kenapa dia pergi tanpa pamit padaku,"


"Biarkan saja dia pergi bersama wanita itu, mau sampai kapan pernikahan mereka akan berjalan baik. Kita lihat saja kedepannya," ucap Areta ketus.


Niken menggeleng gelengkan kepalanya, dia tak habis pikir kalau Ibunya yang baik dan perhatian akan berubah jadi orang jahat. Hanya karena perbedaan status, Areta tega mengintimidasi menantu barunya.


🍄🍄🍄


Sementara itu di dalam bis...


"Sayang, apa tidak apa apa kita pergi dari rumah begitu saja? Ibumu pasti akan khawatir," ucap Mei.


"Kamu memang wanita baik Mei, sudah diperlakukan buruk seperti itu saja kamu masih mau menghawatirkan Ibuku," Justin mengusap kepala Mei lembut.

__ADS_1


"Tentu saja aku khawatir, bagaimanapun dia kan Ibu mertuaku," ucap Mei.


Justin melihat lebih dalam kearah sepasang mata istrinya, terlihat ketulusan yang begitu nyata disana. Ibunya benar benar buta, sampai sampai tidak bisa melihat hal baik yang ada di dalam diri Mei.


Sejak saat itu Justin berjanji dalam hatinya, dia akan berusaha keras untuk membahagiakan Mei seumur hidupnya. Tidak ada yang boleh membuat Mei sedih, apa lagi bersikap buruk padanya.


"Sayang, terimakasih karena kamu begitu sangat membelaku di depan Ibumu," Mei menyandarkan kepalanya di bahu justin.


"Sama sama sayang, itu semua sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang suami.


🍄🍄🍄


Baru dua hari ditinggal pergi oleh Mei, Agung merasa cemas dan khawatir. Dia takut Mei tidak diperlakukan baik oleh keluarga Justin, terlebih Mei tidak memberi kabar padanya sama sekali.


Ingin rasanya Agung menelfon Mei terlebih dahulu, tapi dia merasa tidak enak pada menantunya. Takut mengganggu keromantisan pengantin baru itu.


"Pak, aku dengar anak Bapak sudah menikah lagi ya?" Tanya pembeli roti bakar Pak Agung.


"Iya, benar,"


"Dengan orang mana?"


"Orang kota,"


"Kemarin saja nikah sama orang kota cerai, sekarang nikah sama orang kota lagi. Nanti kalau cerai lagi bagaimana?" Ledek pembeli itu.


"Jangan sembarangan bicara, doakan saja yang terbaik untuk anakku." Ucap Agung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2