Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 42


__ADS_3

Kring... Kring... Kring...


Telfon Januar berdering, Januar tertidur begitu pulas hingga tidak mendengar ada suara telfon masuk ke ponselnya. April terbangun, dia melirik kearah jam dinding. Sudah pukul 23.00 malam, siapa yang telfon malam malam begini? April bertanya tanya dalam hati.


"Hallo..." Keluar suara perempuan dari balik telfon.


"Ya, hallo. Siapa ini?" Tanya April.


"Januar mana?" Tanya perempuan itu.


"Dia sedang tidur, kamu siapa ya?" Tanya April ulang.


"Aku Jesi, teman mainnya. Kamu siapa?" Tanya Jesi.


"Aku istrinya. Maaf ya Jesi, kalau mau telfon orang jangan tengah malam, kecuali ada hal hal darurat,"


"Cerewet sekali kamu, seperti nenek nenek. Heran aku, kenapa Januar bisa mau menikah denganmu," oceh Jesi.


Klik...


April menutup telfon itu tanpa pamit, dia malas mendengar ocehan perempuan tidak jelas tengah malam begini. Untuk mencegah orang itu telfon kembali, April mematikan ponsel Januar dan memasukannya kedalam laci lemari.


"Teman mainnya dia bilang? Main apa?" April bertanya tanya.


"Awas aja nanti kalau sudah bangun, aku akan menjambak rambutmu," lanjut April.


Matahari muncul, Januar bangun dari tidur dan bergegas mandi. Sementara itu April masih bermalas malasan diatas kasur karena semalam mengalami sulit tidur.


Selesai mandi, Januar memakai pakaian kerjanya. Dia mencari cari keberadaan ponselnya dimana mana tapi tidak ketemu, akhirnya Januar membangunkan April.


"Sayang, kamu tau ponselku tidak?" Tanya Januar.


"Ada di laci," sahut April.

__ADS_1


"Kenapa ditaruh laci?" Tanya Januar.


April bangun dan duduk diatas kasur, dia bersiap untuk menceritakan kejadian semalam pada suaminya. Tentunya dengan perasaan kesal dan luapan cemburu di dalam dadanya.


"Semalam teman main mu telfon, dia menanyakan kamu tapi aku langsung mematikan telfonnya,"


"Teman main? Siapa?"


"Katanya namanya Jesi." Sahut April sambil menatap penuh selidik.


Deg....!


Jantung Januar seperti mau lepas, mau apa perempuan itu mencari keberadaan Januar lagi? Urusan diantara mereka telah lama selesai.


Saat masih berpacaran dengan Mei, Januar pernah berselingkuh dengan Jesi. Perselingkuhan itu berlangsung beberapa minggu saja karena Mei mengungkap kebenarannya dan mengancam ingin putus.


Selama berpacaran, Januar tidak pernah macam macam padanya. Hanya memeluk dan mencium saja, tidak lebih dari itu. Lalu kenapa dia muncul lagi sekarang? Januar benar benar pening. Dia khawatir Jesi membuat masalah pada hubungannya dengan April.


"Dia temanku saat masih kuliah dulu, mungkin baru pulang dari luar negri," Jelas Januar.


"Tentu saja tau, dia memang seperti itu, tidak tau aturan. Sudah lah jangan bahas dia lagi, ayo kita keluar dan pergi sarapan," ajak Januar.


Sepanjang acara makan pagi, ponsel Januar terus berdering. Pria itu mengabaikannya dan membuat telinga Juli dan April merasa terganggu dengan bunyi ponselnya.


"Kakak, kenapa tidak diangkat? Siapa tau penting," tutur Juli.


"Saat makan harus fokus, tidak boleh sambil menelfon," sahut Justin.


"Bilang saja takut obrolan kalian berdua ketahuan olehku," sindir April.


"Sayang..." Keluh Januar yang mulai pusing karena April cemburu.


Tidak seperti biasanya, setalah bersalaman Januar langsung masuk ke dalam mobil. Dia terlihat buru buru sekali, sampai lupa memeluk dan mencium sang istri. April ngambek, dia masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu dan membuat kegaduhan.

__ADS_1


🍄🍄🍄


Kring... Kring... Kring...


Ponsel Januar berdering lagi, januar mengangkat telfon itu.


"Hallo, Januar. Kenapa kamu tidak mengangkat telfonku?" Tanya Jesi.


"Maaf, aku sibuk," sahut Januar ketus.


"Apa bisa kita bertemu sebentar? Aku rindu padamu," ucap Jesi manja.


"Jesi, aku sudah menikah. Aku yang dulu tidak seperti aku yang sekarang, jadi jauhi aku ya. Dan jangan coba coba menghubungi aku lagi!" Pinta Januar.


"Tidak bisa begitu dong Januar, aku sudah...."


Klik...


Januar menutup telfon begitu saja, bahkan sebelum Jesi selesai bicara. Januar melempar ponselnya ke jok belakang dan mengabaikan telfonnya yang terus saja berdering tanpa henti.


Siang hari, di kantor. Jesi datang, dia masuk ke dalam kantor Januar dan langsung memeluk tubuh pria tampan itu erat. Januar melepaskan pelukan Jesi lalu mendorongnya menjauh.


"Hey, jangan sembarangan menyentuh tubuhku!" Omel Januar.


"Apa kamu sedang bercanda? memangnya bagian tubuhmu yang mana yang belum pernah aku sentuh?" Ucap Jesi.


"Jesi, tolong jangan pernah ungkit tentang masa lalu lagi. Aku sudah menikah, tolong mengerti,"


"Aku tidak bisa melupakanmu begitu saja, aku tidak bisa menjauhi kamu. Aku cinta kamu, aku rela menjadi simpanan kamu seumur hidupku, tolong jangan usir aku..."


"Dasar perempuan gila tidak tau malu, cepat pergi dari sini!" Usir Januar.


"Aku tidak mau,"

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan panggil satpam untuk mengusir kamu."


Bersambung...


__ADS_2