Istri Simpanan Tuan Januar

Istri Simpanan Tuan Januar
Bab 48


__ADS_3

Kepala April tiba tiba terasa berat dan pusing, dia berjalan sambil berpegangan pada dinding menuju dapur. Dia ingin mengambil air minum karena tenggorokannya terasa kering dan haus.


"Ada apa dengan tubuhku? Kenapa aku seperti tak mempunyai tenaga?" Ucap April terbata bata.


Brakk...


April jauh ke lantai, dia tak sadarkan diri. Mendengar ada suara sesuatu jatuh, Juli langsung berlari keluar kamarnya dan mencari sumber suara itu sendiri. Juli kaget bukan main saat mendapati Kakaknya terkulai lemas dilantai. Dia langsung meminta bantuan tetangga terdekat dan melarikannya ke rumah sakit.


Berkali kali Juli menghubungi nomor Januar, tapi pria itu tidak mengangkat telfon darinya. Satu jam berlalu, Januar menelfon balik. Juli langsung menceritakan keadaan Kakaknya dan memberi tahu dimana tempat dia dirawat.


"Tolong jaga istriku, secepat kilat aku akan sampai ke sana," ucap Januar pada Juli.


"Baik Kak, hati hati dijalan ya!" Pesan Juli.


Dengan mobilnya, Januar menuju rumah sakit tempat April dirawat. Dia mengebut, menyalip diantara padatnya lalulintas Ibukota sore itu. Dia tidak peduli kalau tindakannya itu bisa merugikan pengendara lain, yang penting dia bisa segera sampai ke rumah sakit.


Tiba dirumah sakit, Januar langsung mencari kamar tempat istrinya dirawat inap. April tersenyum lebar saat bayangan suaminya muncul dibalik pintu.


"Sayang, kamu tidak apa apa kan? Apa yang terjadi?" Januar menggenggam tangan sang istri erat. Matanya berkaca kaca karena tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam.


"Dia hamil, jangan terlalu cemas seperti itu," sambung Juli. Juli mencoba membuat pria bertubuh kekar itu kembali tenang.


"Apa katamu? April hamil? Itu artinya aku akan menjadi seorang Ayah?" Januar masih tak percaya. Dalam waktu sekejap mata apa yang dia dan istrinya inginkan akhirnya menjadi kenyataan.

__ADS_1


"Iya, Kakak hamil. Dan Kakak ipar akan menjadi seorang Ayah, berbahagialah kalian berdua," tambah Juli sambil menyunggingkan senyum lebar.


Januar melompat tinggi, dia menari nari seperti anak kecil yang sedang bermain dibawah guyuran air hujan. Dia bahagia bukan main, seolah dia baru saja menang undian berhadiah senilai milyaran rupiah.


"Oh... Astaga, suamiku. Kamu ini kekanakan sekali," ucap April sambil tertawa.


"Biarkan saja dia mengekpresikan kebahagiaanya Kakak." Bela Juli.


🍄🍄🍄


Januar memposting berita tentang kehamilan April, berita itu segera dilihat oleh Justin dan juga Mei. Keduanya saling bertatap mata, lalu tersenyum kecil. Mereka senang karena sang mantan akan memiliki anggota keluarga baru, mereka juga mendoakan kebahagiaan dua orang itu.


"Akhirnya, Januar bisa memiliki sesuatu yang sangat di idam idamkan olehnya selama ini," celetuk Mei.


"Kamu jangan iri, jangan pula berpikir macam macam. Aku sudah cukup bahagia karena bisa memiliki kamu," ucap Justin.


"Apa ada berita yang mengharukan?" Agung keluar dari kamarnya dan terkejut melihat anak menantu sedang berpelukan.


"Ia, ada kabar baik. Istri Januar hamil," sahut Justin.


"Oh... Syukurlah kalau begitu. Semoga mereka berdua sehat sehat saja," ucap Agung.


"Amin." Ucap Mei dan Justin kompak.

__ADS_1


🍄🍄🍄


Pasca pulang dari rumah sakit, Januar memperlakukan April seperti orang sakit parah. Dia tidak boleh melakukan aktifitas apapun kecuali, makan, tidur dan ke kamar mandi. Padahal, orang hamil muda tidak perlu istirahat total. April merasa sehat, dia malah harus aktif bergerak dan berolahraga.


"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Januar saat melihat April turun dari kasur.


"Aku mau ambil air di dapur,"


"Jangan bergerak, kembali ke tempatmu. Biar aku yang mengambil air untukmu,"


April mengerutkan dahi, dia merasa perhatian dan larangan yang diberikan oleh Januar padanya sudah sangat berlebihan. Jika terus begini, April akan merasa jenuh juga bosan.


Siang hari, saat Januar tidak sengaja ketiduran. April diam diam keluar dari kamar, dia pergi ke warung sebelah untuk membeli satu porsi ketoprak dan beberapa bungkus ice cream. April memakan semua makanan itu sendiri di dapur, tentunya tanpa diketahui oleh Juli atau Januar.


"Kakak, apa yang sedang Kakak lakukan di kolong meja?" Tegur Juli saat melihat April makan seperti seekor kucing.


"Aku sedang makan ketoprak dan ice cream, aku sengaja makan di kolong agar Januar tidak mengetahuinya,"


"Ada ada saja. Kakak kan bisa makan di kamarku, Kakak Januar tidak akan pernah berani masuk ke dalam kamarku begitu saja,"


"Ah, iya. Kamu benar. Lain kali aku akan pinjam kamarmu,"


"Tapi ingat ya, jangan makan makanan sembarangan! Bagaimanapun Kakak sedang hamil," pesan Juli.

__ADS_1


"Iya, kamu cerewet sekali!" April memonyongkan bibirnya.


Bersambung...


__ADS_2