
Mei terbangun dari tidur panjangnya, ternyata bangun tanpa membawa kepura puraan itu melegakan sekali. Ada rasa damai dan tenang dihatinya.
Mei duduk ditepi ranjang, dia mengikat rambutnya keatas. Tubuh Mei terlihat ramping dan bagus jika dilihat dari belakang, Justin saja sampai menelan air liur. Bagaimana bisa Januar mengabaikan Mei begitu saja?
Pastinya karena wanita itu jauh lebih menggoda daripada Mei, dan juga jauh lebih baik. April memang menawan, dibalik kesederhanaanya tersimpan banyak kelebihan. Hanya saja dia sedikit sulit di luluhkan, terutama untuk diajak tidur.
"Mau sarapan apa?" Tanya Justin sambil keluar dari dalam selimut. Keduanya tidur satu ranjang semalam.
"Terserah kamu saja, aku sedang malas memasak," sahut Justin.
Justin pergi ke dapur, dia membuat dua cangkir kopi dan dua tangkup roti bakar. Hanya itu yang bisa dia buat untuk Mei dan dirinya.
Untung saja Ibu Justin tengah pergi ke luar negri, jadi dia bebas membawa wanita manapun masuk kedalam rumah termasuk Mei. Semoga saja wanita tua itu tidak segera pulang kerumah, agar tidak terjadi perang dunia kedua.
Diruang tamu, Mei melihat foto masa kecil Januar dan Justin. Mereka nampak akur menggemaskan dan lucu. Semenjak Justin berselingkuh dengan Mei, hubungan keluarga diantara mereka putus.
Sebenarnya Mei merasa bersalah, tapi tidak ada yang bisa mengendalikan perasaan manusia bukan? Termasuk manusia itu sendiri.
"Apa yang sedang kamu lihat?" Tanya Justin sambil menaruh sarapan diatas meja.
"Aku sedang melihat foto masa kecilmu dengan Januar," sahut Mei.
"Sepertinya aku memang pantas untuk dicampakkan begitu saja, aku terlalu kotor karena telah merusak hubungan persaudaraan seseorang. Ini harga yang harus aku bayar untuk sebuah penghianatan yang aku lakukan," lanjut Mei panjang lebar.
"Sayang, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Aku juga ikut salah dalam hal ini," ujar Justin.
__ADS_1
Keduanya saling menundukkan kepala, nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa mengembalikan mereka ke masa lalu. Menyesal sudah terlambat, keduanya sudah sama sama kehilangan orang yang paling mereka sayang.
Waktu tidak bisa diputar kawan, pikirkanlah sesuatu dengan baik sebelum melakukannya. Tentunya agar kamu tidak menyesal dikemudian hari seperti Mei dan Justin.
🍄🍄🍄
Siang harinya, Mei pamit kepada Justin. Dia hendak pergi ke kampung tempatnya berasal untuk menemui Ibunya, dia sangat berterimakasih pada Justin karena sudah memberikan tumpangan malam ini dirumahnya.
Justin memaksa untuk mengantar Mei ke terminal, tapi Mei menolak karena tidak mau menyusahkan orang terlalu banyak. Banyak hal yang ingin Mei renungi, dia butuh waktu untuk sendirian.
Sepanjang jalan menuju kampung halamannya Mei terus meratapi nasibnya. Kehilangan karir dan suami dalam waktu bersamaan benar benar membuatnya sedih. Apa yang harus Mei katakan pada sang Ayah jika bertemu dengannya nanti?
Ayahnya sangat menaruh harapan tinggi pada Mei, tapi ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Pria galak itu pasti akan sangat marah, terlebih Mei yang bersalah atas hancurnya kehidupannya saat ini.
Delapan jam terlewati, bus yang Mei tumpangi berhenti. Mei segera mengumpulkan tenaganya dan bergegas turun dari bus. Setelah itu Mei menaiki ojek untuk sampai kerumah Ayahnya.
Agung baru saja selesai memberi makan burung burung kesayangannya saat Mei tiba tiba muncul didepannya sambil menyeret sebuah tas.
"Mei," Agung sedikit terkejut. Dia merasa ada yang tidak beres karena melihat mata Mei sedikit bengkak dan sembab.
"Ayah," Mei menjatuhkan tasnya. Dia memeluk Agung dan menangis tersedu sedu.
"Sebaiknya kita masuk dulu ke rumah," ajak Agung. Mei mengangguk dan melepaskan pelukannya.
🍄🍄🍄
__ADS_1
"Apa? Januar mengusir kamu dari rumah?" Mata Agung terbelalak lebar.
"Aku akan membuat perhitungan dengannya," ancam Agung.
"Jangan Ayah, jangan bersangkutan dengan Januar lagi. Aku dan dia sudah bercerai, dan dia sudah memiliki penggantiku," Ladang Mei.
"Apa katamu? Bercerai? Bagaimana bisa kalian bercerai?" Tanya Agung penasaran.
"Aku... Aku berselingkuh dengan Justin sepupu dari Januar," Mei menjawab dengan jujur dan hati hati.
Hampir saja Agung terkena serangan jantung, dadanya terasa sesak dan kesulitan bernafas. Anak yang dia didik sejak kecil untuk menjadi wanita baik, saat besar malah menjadi wanita murahan.
Agung meneteskan air mata, dia kecewa pada kelakuan nakal putrinya. Dia tidak hanya membuat Ayahnya malu, tapi juga membuat mendiang Ibunya merasa sedih di alam baka.
"Ayah, tolong maafkan aku. Jangan usir aku dari rumah, aku tidak tau harus kemana aku pergi jika Ayah mengusirku," ucap Mei memelas.
"Aku tidak akan mengusir kamu, bagaimanapun kamu adalah putriku. Aku harus mau menerima dan memaafkan kesalahan kamu." Agung mendengus pasrah.
Ada yang berbeda dari Agung saat itu, dia tidak segalak biasanya. Dia berubah, mungkin karena usianya yang semakin tua membuatnya menjadi sedikit bijak.
"Aku akan memasak makan malam, istirahatlah dulu. Nanti aku panggil jika semuanya sudah siap," ucap Agung.
"Baik Ayah."
Bersambung...
__ADS_1