
April pulang ke rumah, sekujur tubuhnya terasa lemah dan tak bertenaga. Sore itu, Juli sudah menunggu kepulangan April dengan wajah cemas dan was was. Wajar saja, Kakaknya menghilang selama 24 jam dan tak bisa dihubungi karena baterai ponsel April lowbat.
April kebingungan saat melihat Juli mondar mandir di depan pintu sambil menggigit ujung jarinya. Gadis itu pasti akan langsung menghujani April dengan banyak pertanyaan, April harus tetap tenang agar tidak grogi saat menjawab semua pertanyaan adik semata wayangnya itu.
"Kakak, dari mana saja? Kenapa semalam Kakak tidak pulang?" Tanya Juli. Dia mengamati tubuh April dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan curiga.
"Semalam, aku membantu Bos merawat Ibunya yang sakit. Jadi, aku kemalaman dan tidak berani pulang," sahut April sekenanya. Tubuh April sedikit gemetar karena takut kebohongannya pada sang adik akan terbongkar.
"Kenapa Kakak tidak menelfon ku? Ponsel Kakak juga tidak bisa dihubungi," Juli cemberut.
"Aku ketiduran, tau tau sudah pagi. Soal ponselku, aku lupa tidak membawa cas hape. Sudahlah, aku mau istirahat, tubuhku lelah sekali," April menepuk nepuk pundaknya sendiri.
Dalam sehari April diwawancarai oleh dua orang terdekat dalam hidupnya, otaknya pusing memikirkan efek dari terus menerus berbohong pada kedua manusia itu. Apa lagi jika kebohongannya terbongkar, habislah kepercayaan Juli dan Sonia kepadanya.
Saat ini, memang tidak ada yang bisa April lakukan kecuali berbohong. Dia tidak mungkin juga menjawab pertanyaan Sonia dan juli dengan jujur, bisa habis dia dicemooh dan diceramahi.
April harus bersabar, hanya satu tahun saja dia menyandang gelar sebagai simpanan istri Tuan Januar. Setelah itu, dia bisa melenggang bebas tanpa beban hutang dan pikiran.
Tidak mungkin selamanya langit akan mendung, setelah mendung pasti ada saatnya mentari bersinar terang. Roda kehidupan akan berputar, kesedihan dan keterpurukan yang sedang April alami saat ini suatu saat nanti akan berganti jadi kebahagiaan.
Juli membuka pintu kamar kakaknya, dia membawa nampan berisi segelas susu dan satu piring nasi goreng. Juli paham betul pada kebiasaan buruk April, jika sudah lelah dia akan langsung pergi tidur tanpa mandi dan makan terlebih dahulu.
"Sayang, kamu tidak perlu melayani aku seperti itu. Aku bisa mengambilnya sendiri jika lapar dan haus," ujar april. Dia merasa tidak enak hati pada adiknya.
"Kakak sudah bekerja keras untukku dan melunasi hutang hutang Ibu, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk Kakak," Juli tersenyum.
__ADS_1
"Kamu memang adik yang paling baik sedunia,"
"Terimakasih atas pujiannya, silahkan dinikmati sajian dariku ini. Maaf, ala kadarnya. Namanya juga koki amatir." Juli tertawa lebar.
🍄🍄🍄
Keesokan harinya, April berangkat kerja dengan tubuh lebih segar setelah semalaman tidur nyenyak. Dia berdoa didalam hati semoga saja pelanggan tokonya hari ini banyak agar omset toko naik, jika omset toko naik itu artinya bulan ini April akan mendapatkan bonus.
Doa April terkabul, dari pagi hingga siang hari toko tempat April bekerja ramai pembeli. Saking ramainya, April sampai tidak bisa istirahat sejenak untuk makan siang.
Seorang wanita cantik datang ke meja April sambil menyodorkan sebuah kertas bertuliskan barang belanjaan yang ingin dia beli. April mengoper kertas itu pada Novi rekan kerjanya agar menyiapkan semua barang itu.
Alangkah terkejutnya April saat sosok pria yang dia kenal tiba tiba muncul memeluk wanita yang sedang berdiri didepan mejanya.
"Sayang, jangan lama lama ya belanjanya. Aku masih ada urusan diluar," ucap pria itu.
Sang pria melirik kearah April, April segera membuang wajah kearah lain. Dia berharap pria itu berpura pura tidak mengenalnya, sama seperti dia berpura pura tidak mengenal pria itu.
"April, kamu kerja disini?" Sapa Januar.
"Ah, iya," April meringis.
"Kamu mengenalnya?" Tanya Mei pada Januar.
"Dia anak mendiang ART di rumah kita," sahut Januar.
__ADS_1
"Oh..." Mei membuka mulutnya hingga membentuk huruf O.
Bukan Januar namanya jika dia tidak melakukan hal gila. Didepan istrinya, diam diam Januar menggoda April sambil membuat kode untuk bertemu malam ini ditempat biasa.
April mendelik, dia hanya menatap kelakuan konyol Januar tanpa berani merespon. Dia takut kepergok oleh Mei lalu dijambak dan dihajar ditempat itu saat itu juga.
Barang pesanan Mei datang, April langsung menghitung jumlah uang yang harus Mei bayarkan.
"Semuanya jadi lima ratus limapuluh ribu," ucap April.
"Ini uangnya, ambil saja kembaliannya untukmu," ucap Mei sambil menyodorkan uang enam ratus ribu rupiah.
"Terimakasih," ucap April lirih.
Mei dan Januar keluar dari toko itu, hati April yang tadinya deg deg ser langsung merasa sedikit lega. Ternyata Mei adalah wanita baik, April sampai heran kenapa Januar tega menduakan istri sebaik dan secantik Mei.
Jika dibandingkan dengan Mei, April tidak ada seujung kukunya. April cuma menang body semok dan montok. Seketika April minder pada dirinya sendiri, jika Mei sampai tau Januar telah menikah siri secara diam diam dengan wanita seperti April, Mei pasti akan mentertawakan dirinya habis habisan.
"Cuy, bagi dua ya," Novi mengalungkan tangannya ke leher April.
"Iya," sahut April malas.
"Rejeki kita hari ini, bisa buat beli nasi padang," Novi tertawa.
"Ah... Kamu ini, isi pikirannya hanya makanan saja!"
__ADS_1
Bersambung...