
Januar begitu mendamba sentuhan seorang April. Malam itu, diiringi suara rintik rintik hujan, April bermain diatas Januar dengan penuh semangat. Dia berhasil memberikan pelayanan terbaiknya untuk pria itu, dia senang karena berhasil menjerat Januar lebih dalam untuk masuk kedalam dekapannya.
Suara seksi keduanya terdengar hingga keluar kamar, Juli yang tak sengaja mendengar hal itu langsung merinding dan menutup lubang telinganya dengan headset. Keringat dingin keluar lewat celah pori pori kulit Juli, tubuhnya gemetar seperti orang kesurupan.
"Apa senikmat itu rasanya? Sampai sampai Kakakku dibuat menggila," celoteh Juli dalam hati.
Sepertinya malam itu Juli tidak akan bisa tidur, permainan hot itu mungkin akan terulang beberapa kali hingga membuat kegaduhan. Beginilah resiko tinggal serumah dengan pengantin baru, tiap malam jantung dibuat berdebar debar tak karuan.
Selesai melakukan aksi panas, keduanya terkapar lelah diatas ranjang dalam keadaan tubuh polos tanpa tertutup selimut. Anehnya, meski udara dingin keduanya tetap merasakan panas.
"Pulanglah ke rumah, Nona Mei mungkin sedang menunggu anda," ucap April.
"Apa kamu sedang mengusirku secara halus?" Januar menatap mata April dalam dalam.
"Bukan mengusir, tapi wanita hamil membutuhkan perhatian dan penjagaan lebih," jelas April.
"Aku masih ragu kalau anak yang ada diperut Mei adalah anakku, terlebih dia juga kerap bermain gila dengan mantan kekasihmu itu," ucap Januar.
"Berhentilah berburuk sangka, siapa tau kali ini yang dikatakan Nona Mei adalah kebenaran." Bela April.
April menganut paham tidak semua pembohong selalu mengatakan kebohongan dari mulutnya. Terkadang mereka juga berkata jujur, terutama jika dalam keadaan kepepet.
Januar merasa April jauh lebih dewasa daripada usianya, dibandingkan dengan istri pertamanya Mei, April jauh lebih unggul. Januar merasa bersalah karena belum bisa menunaikan janjinya untuk menjadikan April istri satu satunya. Mei tiba tiba hamil dan membuatnya berubah pikiran.
"Baiklah, aku akan mengikuti nasihatmu. Aku akan kembali kerumah itu untuk menemui Mei, dua hari lagi aku akan datang ke sini menjenguk mu," janji Januar.
"Oke." April setuju.
Keduanya berpelukan satu sama lain, membagi kehangatan lewat sentuhan kulit mereka. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari pada berpelukan dengan suami, rasa nyaman muncul memberi ketenangan dalam jiwa dan raga.
__ADS_1
🍄🍄🍄
Menjelang siang, Juli mengajak April jalan jalan ke Mall untuk mengurangi rasa sedih Kakaknya. Dia mengajak April bermain di time zone, makan di food court dan berbelanja pakaian. Uang yang mereka gunakan tentu saja pemberian Januar, pria yang telah membuat April bersedih.
"Jangan terlalu memikirkan dia Kak, nanti Kakak pusing sendiri. Dibawa santai saja," ucap Juli.
"Iya, aku mengikuti saran mu," ucap April.
"Kita pergi ke kedai ice cream yuk, kata temanku di lantai dua ada yang jual ice cream enak," ajak Juli.
"Ayo, aku akan ikut kemanapun kamu pergi,"
April dan Juli menuju lantai dua dengan menaiki tangga berjalan, keduanya menikmati kondisi sekitar yang begitu ramai pengunjung. Mata Juli menangkap sosok yang dia kenal diantara kerumunan orang itu, seorang pria yang lama dicari oleh April dan Juli.
Langsung saja Juli menghampiri pria itu, April mengikuti langkah kaki adiknya dengan tergopoh-gopoh.
"Plak....!"
"Pria tak tau diri, bisanya cuma mengemis uang wanita saja!" Bentak Juli.
"Apa maksudmu bocah?" Tanya seorang Tante yang sedang menggandeng tangan Febri.
"Pria yang ada di samping Tante adalah seorang playboy cap gayung. Dia hobi bergonta ganti pasangan dan merampok uang dari pacar pacarnya hingga jatuh miskin," sambung April.
Wanita berpenampilan nyentrik itu melotot, dia menatap Febri dengan tatapan tajam. Tentu saja Febri langsung membela diri, dia tidak mau harga dirinya diinjak injak oleh anak mantan kekasihnya itu.
"Apa yang dikatakan dua bocah itu benar?"
"Tidak sayang, mereka berdua bohong," ucap Febri.
__ADS_1
"Bohong katamu? Ayo kita ke rumah kami, kami akan menunjukan catatan hutang peninggalan Ibu kami untuk membiayai hidup pria ini," ucap Juli.
"Mana mungkin Febri melakukan hal hina itu, dia kan orang kaya," ucap wanita itu.
"Kaya? Dia bahkan pernah tinggal di kolong jembatan dekat rumah kami," Juli tersenyum sinis.
"Jadi, dia aslinya pria miskin?"
"Iya, dia pria miskin tak berguna." sahut April.
Wanita itu melepaskan genggaman tangannya pada Febri, perlahan tapi pasti dia mundur dan menjauh dari Febri.
"Sayang, jangan percaya dengan kata kata wanita gila itu," Febri terlihat frustasi.
"Memalukan, berpura pura menjadi pria kaya untuk merayu wanita. Kamu sangat menjijikan Febri!" Wanita itu melangkah pergi dan menghilang ditelan kerumunan orang.
Febri mengepakkan kedua tangannya, dia marah karena April dan Juli telah membuatnya kehilangan mangsa. Mereka juga telah sukses mempermalukan Febri didepan umum.
"Awas kalian ya!" Ancam Febri. Dia pergi menyusul kekasihnya yang jauh lebih tua usianya darinya.
"Kita harus berhati hati," bisik Juli.
"Tenang saja, dia tidak akan berani macam macam. Apa lagi kalau tau siapa suamiku," April tersenyum lebar.
Di dalam sebuah mobil sewaan, Febri menumpahkan kekesalannya pada Juli dan April dengan meninju sebuah boneka berulang ulang. Dia merasa sakit hati karena telah dipermalukan didepan umum.
"Wanita wanita ******, lihat saja nanti. Aku akan membalas perbuatan kalian berdua!" ucap Febri dengan nada benci. Sorot matanya menyimpan dendam yang begitu besar, bahkan lebih besar dari ukuran bumi tempat dia tinggal.
"Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa mendapatkan uang dan aset dari wanita itu, tapi harus gagal karena dua wanita sial itu!" Gerutu Febri kesal.
__ADS_1
Bersambung...