
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Ketiga gadis itu sudah menempati tempat mereka masing-masing. Ada tiga meja yang disediakan oleh Koscielny untuk menguji kemampuan memasak para calon menantunya. Seperti disebuah ajang penjurian masakkan dilengkapi dengan alat-alat masak dan bahan masakkan yang lengkap sesuai dengan menu yang di inginkan oleh lelaki paruh baya itu.
Devan menghela nafas panjang. Ada-ada saja Ayah nya ini. Ini pasti gara-gara Cia calon istri adiknya, Delvano. Wenny tak memiliki pengalaman memasak sama sekali. Bagaimana bisa dia memasak masakkan yang di perintahkan oleh Ayah nya itu.
Begitu juga dengan Dave. Dia cuek-cuek bebek saja tanpa ada niat membantu Sri. Sri adalah wanita yang dijodohkan dengan Dave dan dia masih belum menerima perjodohan itu dikarenakan dia memiliki tambatan hatinya sendiri.
Berbeda dengan Delvano yang sibuk memasang klemek ditubuh kecil Cia. Dia tampak sabar memasang klemek ditubuh gadis itu. Takut kalau nanti baju Cia malah kotor. Apalagi Delvano pencinta kebersihan, dia selalu menjaga kebersihan nya.
"Sayang rambut nya di ikat saja ya?"
"Iya Om." Cia mengambil ikatan karet yang kebetulan ada diatas meja tersebut.
'"Rambut kamu bisa rusak?"
"Enggak Om. Rambut Cia tahan banting," jawab gadis itu.
Delvano mengikat rambut Cia dengan pelan. Seperti nya dia perlu persediaan ikat rambut saat bersama Cia. Gadis ini ceroboh sekali pada rambutnya. Cantik-cantik tapi ceroboh.
Koscielny menatap tak percaya putra yang dia besarkan sejak bayi itu. Dia mengenal putranya luar dan dalam. Ini pertama kalinya Delvano memperlakukan perempuan dengan begitu istimewa. Lihatlah cara dia memperlakukan Cia, persis seperti seorang pria yang benar-benar mencintai wanita nya.
"Devan, bantu Wenny."
"Dave, bantu Sri."
"Dan Delvano bantu gadis an_"
"Cia Ayah mertua." Cia tersenyum sambil mengerjab-ngerjabkan matanya.
Koscielny mendengus kesal. Tidak perlu di ingatkan juga dia tahu nama gadis itu. Hanya saja dia malas menyebut nama Cia. Gadis itu sudah membuatnya emosi setengah mati.
Perlombaan masak itu dimulai. Tampak Devan yang menunjukkan beberapa alat supaya Wenny mengambilnya. Keduanya sama-sama buta masalah alat dapur.
"Ambil itu Sayang." Perintah Wenny tampak sibuk.
__ADS_1
"Sayang daging nya yang masih segar." Tintah Sri.
"Kamu ambil saja sendiri." Ketus Dave. Dia paling tak suka diperintah. Harus dia yang memerintah.
Sri mendengus kesal. Wanita itu menghentakkan kakinya meraju. Dave tak pernah memperlakukan nya romantis. Padahal kedua orang tua mereka mendukung hubungan mereka apalagi mereka memang dijodohkan sejak kecil. Tapi Dave tak pernah mau menerima perjodohan gila ini. Itulah sebabnya dia masih enggan menikahi Sri.
Berbeda dengan pasangan baru yang tengah jatuh cinta, tapi hanya Delvano. Kalau Cia dia belum paham jatuh cinta. Bukan karena dia anak kampung atau terlalu polos, tapi didikan sang Ayah menegaskan untuk tidak mengenal cinta sebelum menyelesaikan pendidikan nya.
"Sayang ini yang mana lagi?" Tanya Delvano bingung "Saya enggak tahu." Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Cia juga enggak tahu Om. Kita liat resep nya dulu Om. Nahh ini tulisannya. Om siapin ya. Ntar langsung cuci daging nya." Perintah Cia.
"Ini doang?"
"Iya Om."
Delvano dan Cia tampak sibuk dengan masakkan mereka berdua. Delvano menyiapkan bahan-bahan, sementara Cia yang memasak sambil melihat resep. Jangan ragukan kemampuan nya meski dia polos tapi dia mahasiswa terbaik dikampus nya dan bahasa Inggris Cia boleh diuji.
Koscielny menjadi juri sambil mengawasi seperti di lomba-lomba masak pada umumnya. Sesekali dia mengawasi meja Devan dan Wenny lalu beralih pada meja Dave dan Sri.
Koscielny melihat-lihat masakkan Delvano dan Cia. Kedua orang itu tampak serius. Sesekali Delvano menyeka keringat yang mengucur didahi Cia. Keduanya tampak romantis. Tampak seperti pasangan yang saling jatuh cinta. Kadang Delvano mengipasi wajah gadis itu ketika melihat Cia yang keringatan, alhasil make up nya luntur padahal ruangan ini penuh AC.
Koscielny menatap tiga piring masakkan yang ada didepannya. Dia menghela nafas panjang ketika melihat dua masakkan berwarna hitam dan bau nya gosong. Sedangkan satu piringnya tampak terlihat mengiurkan.
"Mau dicoba Dad?" Laurent bergidik ngeri melihat dua piring masakkan gagal ditempat itu.
"Hem,"
Koscielny mengambil sendok lalu mengambil bagian masakkan Delvano dan Cia. Sedangkan masakkan Devan dan Wenny serta Dave dan Sri, sebab masakkan mereka gagal total.
"Gimana Dad?" Tampak Delvano dan Cia tak sabar menunggu penilaian dari Koscielny.
Koscielny terdiam dia meresapi masakkan itu dilidahnya. Sekilas dia melirik Cia yang tampak tersenyum menggoda.
'Bagaimana bisa gadis lusuh ini bisa memasak makanan seenak ini?' Batin Koscielny
__ADS_1
Koscielny mengambil lagi. Lalu lagi dan lagi, hingga hanya tersisa sedikit. Dia heran kenapa masakkan kesukaan keluarga besar nya ini sangat pas dilidahnya. Potongan dagingnya, saus nya juga begitu pas.
"Enggak enak." Koscielny meletakkan begitu saja sendok diatas meja lalu mengambil tissue dan mengusap bibirnya.
"Enggak kok hampir habis Ayah mertua?" Cia mengangkat piring yang isinya hampir habis itu.
"Iya Dad, kok habis?" Delvano ikutan memegang piring yang diangkat oleh Cia.
Bukannya menjawab lelaki paruh baya itu malah melenggang dan duduk disofa. Perasaan nya sudah ketar-ketir, jangan sampai dia diledek lagi oleh Cia si gadis lusuh dari kampung itu.
Sementara Laurent tersenyum sambil menggeleng gemes. Suaminya memiliki gengsi yang tinggi, jelas sekali kalau masakkan Delvano dan Cia pas dilidahnya masih saja dia bilang tidak enak.
"Gimana Ayah mertua?" Cia menahan tawanya sambil mengedipkan matanya jahil.
"Apa nya yang bagaimana?" Koscielny memincingkan matanya kesal.
"Ehem, Daddy enggak lupa kan sama janji Daddy sendiri?" Tanya Delvano mengintrogasi pria itu.
Sedangkan Devan dan Dave hanya terdiam. Keduanya tak merasa kecewa saat gagal memasak. Memang kenyataan nya mereka tak memiliki bakat memasak dan belum pernah memasak sebelumnya. Ditambah lagi dengan para kekasih mereka yang terlahir dari keluarga kaya dan manja.
"Enggak boleh bohong lho Ayah mertua." Senyum Cia. "Jadi kapan Cia sama Om Delvan bisa naik ke pelaminan?" Dia menahan tawanya. Cia tahu jika calon mertua nya itu sama sekali tak menyukai nya dan dia tidak peduli.
"Terserah!"
Koscielny berdiri lalu meninggalkan mereka yang masih bingung dengan perubahan pria paruh baya itu.
"Enggak usah dipikirin Daddy kalian," ucap Laurent. "Cia, kapan Mommy bisa ketemu orang tua kamu Nak?" Tanya Laurent lembut.
"Emang Mommy mau apa ketemu orang tua Cia?" Gadis itu tampak bingung. "Mau kasih sembako?"
"Pruffffth." Devan dan Dave menutup mulut menahan tawa.
Sementara Laurent bingung sendiri sambil mengusap tengkuknya. Dia menanyakan kapan bertemu orang tua Cia, kenapa gadis ini malah membahas sembako?
Bersambung...
__ADS_1