Istri Tuan Muda Delvano

Istri Tuan Muda Delvano
Hati yang tidak bisa di miliki


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


"Dave," Sri menghampiri suami nya yang duduk disofa sambil sibuk dengan laptop dipangkuannya.


"Ada apa?" tanya Dave tanpa melihat istrinya itu.


"Hem, Dave apa sebaik nya kita ikut program hamil saja?" saran Sri.


Jujur Sri iri dengan Cia. Apalagi Delvano begitu perhatian pada istrinya yang tengah hamil itu. Delvano menjadi suami siaga yang menjadikan Cia seperti ratu di istana cintanya. Sri juga ingin merasakan hal yang sama seperti Cia. Selama menikah dengan Dave, lelaki itu terus bersikap dingin padanya. Boro-boro memanjakan dia seperti Cia, bersikap manis padanya saja lekaki itu tidak pernah.


"Untuk apa?" Dave melirik istrinya dingin


"Aku ingin punya anak Dave seperti Cia," jawab Sri lirih.


Dave menutup laptopnya. Lelaki itu melirik istrinya.


"Sri, dari awal kamu sudah tahu bahwa pernikahan ini hanya untuk bisnis. Aku sama sekali tidak mencintai kamu. Dan kamu juga tahu aku butuh waktu untuk menerima kamu menjadi istriku. Selama aku belum cinta sama kamu, aku tidak akan menyentuh mu. Tolong pahami itu," jawab Dave berdiri dari duduknya sambil membawa laptop ditangannya.


"Tapi sampai kapan Dave?" tanya Sri berdiri.


Langkah kaki Dave terhenti. Ia juga tidak tahu sampai kapan karena ia belum bisa melupakan wanita yang pernah ada di masa lalu nya. Menikahi Sri bukan pilihannya tapi ia di paksa oleh sang Ayah.


"Aku tidak tahu. Jika kamu sabar menunggu, bertahanlah. Tapi kalau kamu ingin menyerah, pergilah,"


Deg


Semudah itu Dave menyuruh Sri pergi. Sri tidak bisa pergi, ia mencintai Dave sepenuh hatinya. Walau pernikahan mereka hanya karena perjodohan, tapi ia mencintai suaminya itu. Bagaimana bisa Dave menyuruh nya pergi dan menyerah.


Dave keluar dari kamarnya. Ia tidak bisa menyalahkan diri dan hatinya sendiri. Ia memang belum bisa membuka hati untuk Sri. Ia butuh waktu yang lama.


"Kak Dave," panggil Cia. Wanita itu sedang mengambil minum didapur. Sedangkan Delvano melakukan perjalanan bisnis ke Bandung.

__ADS_1


"Cia," balas Dave tersenyum menatap adik iparnya itu. Usia kehamilan Cia memasuki bulan ketiga, perutnya sudah sedikit terlihat membuncit. "Kenapa tidak suruh pelayan saja? Delvan bisa mengamuk kalau kamu bangun malam-malam begini," ucap Dave terkekeh. Adiknya itu memiliki jiwa posesif luar biasa pada istrinya. Cia tidak boleh melakukan aktivitas berat. Bahkan mengambil air putih saja harus Delvano yang turun tangan karena menurutnya itu berat takut jika Cia kelelahan.


"Enggak Kak. Kata Bapak selama kita bisa melakukannya sendiri. Jangan bergantung pada orang lain," sahut Cia sambil menunggak air dalam gelasnya.


Dave terkekeh. Ia menatap perut Cia. Dave membayang jika istrinya yang hamil apakah ia akan sama seperti Delvano, posesif bukan main.


"Kakak habis dari mana?" tanya Cia duduk di sofa.


Koscielny dan Laurent sedang pulang ke Amerika. Karena orang tua Koscielny meminta keduanya pulang untuk bertamu.


"Biasa. Kerjakan tugas," jawab Dave menyusul. "Bagaimana kandungan kamu?" tanya Dave saat Cia mengusap perut nya.


"Sehat Kak," sahut wanita itu.


"Pasti menyenangkan yaaa jadi Ibu hamil?" seru Dave.


"Sangat Kak. Ini kan hasil kerja kerasnya Om Suami. Jadi Cia harus jaga baik-baik. Kata Bapak, harus di hargai," celetuk Cia. Awalnya wanita itu merenggut kesal saat tahu dirinya hamil. Ia belum siap menjadi seorang Ibu di usia yang masih muda. Namun, perlahan ia mulai terbiasa dan menikmati perannya sebagai seorang Ibu.


"Malam," Devan ikut bergabung bersama Kakak dan adik iparnya itu. "Malam Cia," sapa Devan.


Bagaimana Delvano tak kesal, Cia memanggil kakak pada Dave dan Delvan. Sementara dirinya dipanggil Om oleh istrinya sendiri. Keterlaluan sekali Cia, namun bagaimana pun mengomeli nya ia takkan mengubah nama panggilan nya pada sang suami.


"Lagi bahas apa?" tanya Devan tersenyum. Seperti percakapan Dave dan Cia menarik.


"Lagi bahas kandungan Cia, Kak," sahut wanita itu. "Cia masih enggak nyangka kecebong nya Om Suami hidup disini," ujar Cia. Wanita itu cekikikan seperti orang gila.


Sedangkan Dave dan Devan hanya tersenyum gemes saja. Mereka memang sering berbincang-bincang dengan Cia. Cia sosok yang menyenangkan dan mudah berbaur dengan siapa saja.


"Kak, kalian kapan lagi?" Cia tersenyum menggoda kedua Kakak iparnya.


Kedua lelaki itu sama-sama terdiam bingung menjawab pertanyaan Cia. Jika ditanya mereka kapan, keduanya pun tak tahu entah kapan?


Cia tersenyum. Sebenarnya ia sudah tahu masalah rumah tangga Dave dan Devan. Tapi kata Delvano tidak boleh ikut campur urusan orang lain. Jadilah Cia cuek-cuek saja.

__ADS_1


"Entahlah," sahut Dave. "Belum waktu nya kali," jawab lelaki itu asal.


"Ehem, jangan lama-lama Kak. Nanti kecebong Om suami gede, punya Om malah baru keluar," ujar wanita itu ngakak.


Dave dan Devan hanya tersenyum saja. Tidak mungkin mereka menceritakan betapa pahit nya menikah dengan orang tidak di cintai.


"Ya sudah Kak. Cia masuk kamar dulu ya," wanita itu berdiri.


"Bisa?" tanya Dave perhatian. Ia melihat Delvano begitu perhatian pada Cia. Jujur ia pun iri, namun ia tak bisa melakukan itu pada istrinya.


"Bisa Kak," sahut Cia. "Ohh ya Kak. Jangan lupa di kuatin goyang nya biar kecebong Kakak cepat tumbuh di rahim Kak Sri," Cia mengedipkan matanya jahil.


Dave tertawa pelan menutupi luka di hatinya. Jangankan kecebong nya akan tumbuh di rahim istrinya. Menyentuh wanita itu saja, Dave tidak pernah.


"Iya. Sudah masuk ke kamar sana. Kamu istirahat. Nanti Delvan marah lagi," ucap Dave. .


Dave dan Devan kembali duduk di sofa sambil menatap punggung Cia yang masuk kedalam kamarnya.


"Kak," Devan melirik katanya. "Sampai kapan kita akan seperti ini?" Devan menghela nafas panjang.


Dave menggeleng. "Entahlah. Ini semua karena Daddy yang memaksa," Dave menghela nafas panjang. "Tapi Kakak sedang berusaha menerima Sri," sambung Dave.


"Sama Kak. Aku juga sedang berusaha menerima Wenny. Ternyata tidak ya Kak menikah sama orang yang kita tidak cinta," curhat Devan.


Dave mengangguk setuju karena ia sedang mengalami fase ini.


"Ya sudah masuk kamar sana," Dave berdiri dari duduknya dms kembali masuk kedalam kamar nya.


Dave menatap Sri yang sudah terlelap dikasur king size milik mereka. Dave tidak tahu kenapa hatinya belum bisa memiliki wanita ini seutuhnya.


Lelaki itu duduk dibibir ranjang. Ia menatap wajah Sri yang terlelap sambil memeluk bantal gulingnya. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut wanita yang terlelap itu.


"Maaf," lirih nya penuh rasa bersalah. "Aku akan belajar mencintaimu. Semoga aku bisa," gumam Dave berbicara pelan.

__ADS_1


Dave ikut berbaring disamping Sri sambil menatap wajah wanita itu. Ini pertama kali nya ia melihat wajah Sri dari jarak dekat.


**Bersambung.....**


__ADS_2