Istri Tuan Muda Delvano

Istri Tuan Muda Delvano
Salah sasaran


__ADS_3

****Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**


Dara masuk kedalam ruangan Ryan dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Gadis ini cukup cekatan dan mudah memahami dunia pekerjaan sehingga hanya beberapa Minggu saja dia sudah menguasai semua pekerjaan yang di berikan Ryan padanya.


"Permisi Tuan, ini data yang anda minta," Dara memberikan beberapa dokumen pada lelaki itu.


"Hem, terima kasih," Ryan sedikit berdehem. Tak lupa lelaki itu membuka dua kancing baju nya dengan jas yang sengaja ia lepaskan dan kemejanya ia gulung sampai siku. Berharap Dara akan terpesona dengan ketampanan nya.


"Anda kepanasan Tuan?" tanya Dara heran melihat kancing baju Ryan serta kemeja yang lelaki itu gulung.


Wajah Ryan langsung berubah masam seperti nya ia salah sasaran. Data sama sekali tak terpesona dengan ketampanan dirinya. Apakah ada yang kurang dengan wajah nya?


"Hem, suhu AC nya kurang," sahut Ryan menutupi kegugupannya. Padahal niat hati ingin menggoda gadis itu.


"Ohh sebentar Tuan," Dara mengambil remote AC lalu menaikkan suhu nya agar lebih dingin. "Bagaimana Tuan?" tanya nya setelah menaikkan suhu AC tersebut.


"Pas," jawab Ryan, padahal dia sudah kedinginan. Mau pasang jas kembali, ia memiliki gengsi setinggi langit takut ketahuan Dara.


Dara duduk di bangku depan meja Ryan sambil menjelaskan data yang baru saja dia berikan pada Ryan.


Sementara mata Ryan bukannya fokus menyimak penjelasan Dara. Ia malah menatap bibir munggil itu yang bergerak-gerak sambil berucap. Pikiran nya sudah berfantasi dan melalang buana kemana-mana. Membayangkan jika dirinya ******* bibir itu dan pasti rasanya manis.


"Bagaimana Tuan apakah Anda paham?" tanya Dara melihat Ryan yang tersenyum tidak jelas.


Ryan bukannya menjawab dia malah fokus menganggumi kecantikan Dara, lebih tepatnya mendambakan bibir manis gadis itu dan membayangkan dia dapat mengecup bibir itu meski sekilas.


"Tuan," panggil Dara saat melihat Ryan yang seperti orang kebingungan.


"Ehhh iya," Ryan segera tersadar dari lamunannya.


"Ya sudah, jam 2 nanti ada meeting bersama Tuan Delvano," jelas Dara.


Ryan langsung mendengus kesal mendengar nama Delvano. Ia tidak lupa jika lelaki itu sudah merebut Cia nya.


"Batalkan saja," sambil mengibaskan tangannya

__ADS_1


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi," pamit Dara.


"Ehhh Dara," panggil Ryan.


"Iya Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" Dara tersenyum halus.


"Kita makan siang di sini saja," jawab Ryan


Dara mengangguk. Biasanya mereka makan siang di restourant Rianti. Namun entah kenapa lekaki itu tiba-tiba ingin makan kedalam ruangan.


Ryan menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa susah sekali menggoda dara. Gadis itu sama sekali tidak tertarik padanya. Cara apa lagi yang akan ia lakukan supaya Dara melirik dirinya yang notabene play boy kelas kakap itu.


Ryan stress menghadapi sifat Dara yang terlalu cuek padanya. Biasanya para wanita yang mengemis-ngemis pada nya. Sekarang malah terbalik dia harus yang harus mengemis.


"Ck, ini enggak benar. Gue harus buat Dara terpesona sama gue," ujar Ryan kesal. Lelaki itu mengecilkan kembali suhu AC diruangannya.


Berbagai cara Ryan lakukan untuk menggoda gadis yang menjadi sekretaris nya itu. Tapi ia selalu gagal karena Dara yang cuek dan terkesan tak peduli. Kadang Ryan berpikir, apakah Dara tidak suka laki-laki?


.


.


.


"Apalagi sihh?" Rianti menepis tangan Fahri. Ia memalingkan wajahnya dan tidak berani menatap lelaki yang sampai kini masih melekat didalam bayang-bayang.


"Aku minta maaf Ti. Tolong kasih aku satu kesempatan buat buktiin sama kamu," mohon Fahri menangkup kedua tangan nya di dada. "Aku sama sekali enggak punya hubungan sama Alia, itu semua fitnah supaya kamu marah sama aku, lalu putusin aku. Tolong percaya, Ti," Fahri mengenggam kedua tangan wanita itu berusaha meyakinkan bahwa yang terjadi tidak seperti yang ada di pikiran Rianti.


Rianti menatap Fahri. Jujur, ia pun mencintai lelaki ini hingga kini. Perasaan nya tak bisa beralih sama sekali dari Fahri.


"Tolong yakinin aku Ri, apa yang buat aku percaya sama kamu," pinta Rianti menatap lelaki itu berkaca-kaca.


"Aku janji bakal buat kamu percaya kembali sama aku. Aku janji Ti,"


Rianti mengangguk. Rianti dan Fahri dua pasangan yang saling mencintai. Namun karena sebuah kesalahpahaman membuat keduanya harus berpisah dan putus lalu menjalani kehidupan masing-masing.

__ADS_1


Fahri memeluk Rianti. Dia merindukan wanita cerewet ini. Wanita manja yang membuat dunia sepi nya menjadi ramai dan berwarna.


"Aku berjanji akan jagain kamu," ucapnya sedikit terisak dengan lekukan hangat yang dia berikan pada Rianti.


Rianti memeluk Fahri dengan sejuta rindu. Sejak putus dari Fahri dia tidak berani membuka hati untuk lelaki lain. Hanya Fahri yang membuat nya jatuh cinta dan bisa mencintai seseorang. Rianti berharap ini adalah jalan terbaik untuk hubungan mereka. Dia yakin jika Fahri adalah laki-laki yang dia cari selama ini.


Fahri melepaskan pelukan nya. Ia menyeka air mata Rianti.


"Ti," Fahri mengambil sesuatu dari saku celananya. "Will your merry me?" lelaki itu berjongkok sambil menyedorkan kotak beludru di tangannya.


Rianti menutup mulut tak percaya. Matanya juga berkaca-kaca, jantungnya berdebar kuat.


"Mau kah kamu menikah dengan ku? Mau kah kamu jadi Ibu dari anak-anakku?" ucap Fahri sambil tersenyum.


"Fahri," Rianti tak bisa berkata apa-apa. Wanita itu mengangguk dan menerima lamaran Fahri.


"Terima kasih Sayang,"


Fahri memasangkan cincin permata dengan harga ratusan juta itu ke jari Rianti. Lalu ia mencium punggung tangan wanita itu dengan lembut.


"Aku mencintaimu Rianti,"


"Aku juga mencintaimu Fahri,"


Fahri mengecup bibir ranum dan merah muda yang terlihat begitu menggoda. Ia ******* nya dengan pelan lalu menyesap rasa manis disana.


Perjuangan yang tidak mudah bagi Fahri meyakinkan Rianti tentang perasaan nya. Dia hampir menyerah. Namun dia yakin cinta sejati akan selalu berpulang pada orang yang tepat dan benar. Fahri yakin jika Rianti adalah jodoh yang di kirim Tuhan untuknya, oleh sebab itulah dia tak menyerah menggapai cinta Rianti.


"Aku mencintai mu," bisik Fahri.


Fahri menyatukan keningnya dengan kening Rianti. Nafas keduanya memburu setelah ciuman panas yang membakar seluruh anderlin yang menyengat didalam naluri. Fahri mengusap bibir Rianti yang basah.


"Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan," ucapnya tersenyum hangat dengan usapan lembut di bibir Rianti. "Aku berjanji akan membuatmu bahagia," lalu dia menarik Rianti kembali ke dalam pelukan nya.


"Terima kasih Fahri," Rianti mengusap punggung Fahri. "Maaf aku hampir membuatmu pergi meninggalkan aku," ucap Rianti merasa bersalah.

__ADS_1


Cukup lama dia mendiamkan Fahri. Bahkan tak peduli sama sekali pada lelaki itu. Namun melihat kesungguhan dan perjuangan yang Fahri lakukan untuknya, membuat hati Rianti terenyuh, apalagi dia masih mencintai Fahri.


__ADS_2