
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Netthy turun dari mobil Devan. Lelaki itu turut turun untuk mengantar Netthy sampai didepan kostnya.
"Ingat besok, siapkan data meeting yang saya minta tadi," ucap Devan memperingatkan.
"Iya Om," sahut Netthy.
Wajah gadis itu tampak sedih mengingat tatapan Adit tadi padanya. Sialnya, dia harus bertemu lagi dengan lelaki itu di kost ini.
"Kok belum pulang Om?" Netthy menatap Devan curiga. Aneh sekali boss nya ini.
"Emang kenapa?" tanya Devan sewot padahal alasannya agar berlama-lama dengan Netthy.
"Om, pulang sana. Nanti ketahuan Ibu kost, saya malah dituduh yang enggak-enggak lagi," Netthy setengah mendorong tubuh Devan agar lelaki itu segera pulang dan meninggalkan kost.
Tidak lama kemudian mobil Adit datang. Lelaki itu turun dari mobil dan dia sedikit heran ketika melihat Devan dan Netthy masih berbincang-bincang didepan kost. Kenapa rasanya Adit tidak suka melihat Devan dan Netthy yang begitu dekat?
"Ya sudah saya pulang. Kamu langsung istirahat yaa. Jangan begadang tidak baik untuk kesehatan mu, cup," mata Netthy membulat sempurna saat Devan mengecup keningnya. Ingin sekali dia dorong tubuh lelaki itu. Namun Devan menahannya.
Begitu juga dengan Adit bahkan beberapa kali lelaki itu mengerjabkan-ngerjabkan matanya saking terkejutnya. Hatinya panas. Sangat panas. Ingin sekali dia mengajak Devan baku hantam.
"Om," mata Netthy membulat sempurna.
Devan justru tersenyum sambil mengelus kepala Netty dengan sayang. Gadis ini sangat jauh usianya. Tapi entah kenapa Devan merasa aman dan nyaman saat berada didekat Netthy. Ucapan polos dan spontan Netthy berhasil membawa emosinya masuk saat ke dalam sana.
"Saya pamit," pamit Devan.
"Iya Om hati-hati," jawab Netthy menelan salivanya.
Devan masuk ke dalam mobil nya. Sebelumnya ia sempat tersenyum melihat Adit. Lebih tepatnya senyum mengejek. Devan ingin buktikan pada Adit bahwa perempuan seperti Netthy pantas mendapatkan lelaki yang baik.
Netthy menelan saliva nya susah payah. Dia gugup saat Adit menatapnya lekat begitu. Dalam hati gadis itu sudah menyumpahi si duda Devan yang mencium nya sembarangan.
"Malam Kak," sapa Netthy canggung.
__ADS_1
Adit berjalan kearah Netthy. Ia menatap gadis itu tajam. Ingin rasanya dia marah saat Devan mencium kening Netthy. Namun, Adit tak punya hak lagi untuk itu. Dia sudah meninggalkan Netthy dengan alasan tak memiliki perasaan apapun pada gadis itu. Namun, kenapa saat berjauhan dengan Netthy ia malah merasakan rindu yang teramat sangat.
"Ada hubungan apa kamu sama Tuan Devan?" tanya Adit menatap Netthy. Nada suara nya terdengar tidak suka.
"Dia Boss Netthy di kantor, Kak," jawab Netthy tak enak hati.
Kenapa sekarang perasaan Netthy biasa saja saat melihat Adit? Tidak menggebu-gebu seperti dulu. Ia pikir akan sulit melupakan lelaki ini, tapi ternyata ia bisa hingga kini tak lagi memikirkan Adit. Malah terkesan biasa saja.
"Ada ya boss yang mencium kening karyawan nya?" singgung Adit. Dadanya naik turun dan nafasnya memburu.
Netthy membulatkan matanya sempurna. Mengingat ciuman pertamanya tadi, wajah nya langsung merah. Boss nya itu benar-benar keterlaluan.
"Kak itu_"
"Itu yang namanya boss rasa pacar," cibir Adit melenggang masuk.
Sementara Netthy heran sendiri melihat sifat Adit yang tiba-tiba seperti orang cemburu. Padahal kemarin-kemarin lelaki itu tampak tak peduli padanya dan bahkan Adit mengatakan bahwa dia belum mencintai Netthy.
"Huh, ini semua gara-gara Om Devan," gadis itu menghentak-hentakkan kaki nya kesal.
.
.
.
Netthy sudah siap dengan seragam kantornya. Dia akan magang selama beberapa bulan di perusahaan Devan. Sialnya lagi dia malah menjadi sekretaris dari lelaki yang hobby nya marah-marah itu. Kadang Netthy heran, apa Devan tidak bosan setiap hari mengomel dengan kesalahan yang sama. Dia saja rasanya bosan mendengar omelan dan dari lelaki yang menjadi boss nya tersebut.
"Enggak kebayang gue nikah sama Om Devan," gadis itu bergidik ngeri. "Ck, sadar Neth. Apa sih yang loe pikirin? Loe itu bukan Cia yang hidupnya beruntung dinikahi cowok kaya," Netthy pikiran buruknya yang membayangkan Devan menikahinya suatu saat nanti.
Sejak pertemuan mereka di taman kemarin. Keduanya memang sangat akrab apalagi Netthy yang langsung diangkat sektaris oleh Devan. Entah apa maksud lelaki itu, mahasiswa magang seperti Netthy bisa menjadi sekretaris nya. Kadang Netthy tidak habis pikir tapi begitulah kenyataan nya.
"Pagi semua," Netthy ikut bergabung untuk sarapan.
"Wah udah rapi amat Neth," puji Mella.
__ADS_1
"Iya dong, gue kan sekarang orang kantoran," jawab Netty tersenyum sumringah.
Adit sedikit melirik penampilan Netthy yang jauh berbeda hari ini. Biasanya juga gadis itu berpenampilan tomboy seperti laki-laki. Jarang sekali berdandan atau sekedar memasang make up di wajah nya.
"Enak banget loe Neth. Magang di perusahaan ternama. Jadi sekretaris boss cakep lagi. Gue mau juga dong ada diposisi elu," ujar Natha.
"Ehem," Hendro langsung berdehem dan Melia kekasihnya tajam.
"Hehehe bercanda Sayang," Natha hanya cenggesan saja.
"Gimana magang kamu Neth?" tanya Zaenab. Dia penasaran saat mendengar cerita Natha dan Mella yang mengatakan bahwa Netthy sangat dekat dengan boss nya.
"Lancar Bu," jawab Netthy.
"Semua. Gue berangkat duluan yaa," sambil melirik arloji nya. Tak lupa Netthy bersalaman dengan Zaenab selalu ibu kost.
"Biar Kakak antar," tawar Adit.
Mereka semua menoleh kearah Adit. Pasal nya lelaki ini biasanya terkesan cuek pada Netthy. Tapi kenapa malah terlihat peduli sekarang.
"Kakak mau anterin Netthy?" tanya nya menyakinkan. Siapa tahu dia salah dengar. Karena lelaki ini yang meninggalkan dia.
Adit mengangguk lalu ikutan berdiri. Dia belum kembali ke Surabaya. Jadi dia memiliki banyak waktu untuk menghabiskan cuti nya di jakarta.
"Ohh enggak usah Kak... Enggak usah ragu maksudnya," Netty cengengesan. Sifat gadis ini memang sebelas dua belas dengan Cia. Bedanya Cia hobby nya membuat orang kesal dan naik darah.
Zaenab menatap Adit penuh selidik. Tak biasanya putra semata wayangnya itu bersikap manis seperti ini pada Netthy. Apa Adit sekarang menyukai Netthy? Terlihat sekali tatapan putranya itu yang tak seperti biasanya.
Semoga saja, Adit kembali lagi dengan Netthy. Zaenab berharap Netthy menjadi menantunya karena gadis itu sangat baik.
Setelah berpamitan kedua orang itu berangkat. Netthy merenggut kesal ketika Devan terus menelponnya dan meminta ia segera ke kantor sekarang. Laki-laki itu benar-benar seperti seorang kekasih yang selalu meneror pacarnya.
"Iya Om. Bentar lagi saya kesana. Ini udah di jalan," sahut Netthy berbicara sangat keras di telpon.
**Bersambung... **
__ADS_1