
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Delvano menatap Cia dengan penuh cinta, dia sungguh tak sabar ingin memiliki gadis ini. Gadis unik yang menurut Delvano sangat langka. Meski Cia sering membuatnya kesal dan naik darah tapi dia merasa nyaman dengan gadis kecil ini.
“Om, Ayah mertua emang gitu yaa orangnya gengsian sama bawel,” ucap Cia.
Delvano mendelik kearah Cia yang mengatakan Ayahnya gensian dan bawel, hanya Cia yang berani mengatakan hal tersebut. Kalau orang lain mana berani, karena takut mendapat amukkan dari pria tua yang memang memiliki sifat aroggant.
“Ehem,” Delvano hanya menanggapi dengan deheman saja
“Sama kayak Om.” Celetuk Cia sambil mengedipkan mata nya jahil.
“Kamu……” Delvano mendengus kesal.
Cia ngakak melihat wajah cemberut dan juga kesal. Pria pemaksa ini kalau sudah kesal bukannya menakutkan malah terlihat imut dan juga menggemaskan. Makanya Cia suka membuat Delvano mengomel karena dia suka mentertawakan pria itu.
Namun sejenak gadis itu terdiam, dia ingat perbincangannya dengan Laurent tadi yang ingin menemui kedua orangtuanya dikampung untuk membicarakan hubungan mereka berdua. Bisa jantungan Ayah nya kalau tahu Cia datang-datang membawa calon suami. Pasti tentangganya pada heboh dan dia akan menjadi artis dadakan hanya dalam waktu singkat.
“Kamu kenapa?” Delvano heran sendiri melihat gadis ini berhenti berbicara.
“Om serius beneran sama Cia?” Dia menatap Delvano
“Kenapa emang?” Kening Delvano berkerut heran
“Om kan tahu kalau Cia enggak cinta sama Om. Om juga enggak cinta sama Cia. Gimana kita bisa nikah Om. Kata Bapak nikah itu harus pakai cinta, karena untuk menjalani kehidupan rumah tangga kita butuh cinta untuk saling menguatkan.” Jelas Cia.
Delvano menatap gadis yang berceloteh didepannya meski sifat Cia ba-bar dan menyebalkan tapi gadis ini terdidik. Terlihat dari cara dia yang selalu mengingat ucapan sang Ayah.
“Kita bisa belajar saling mencintai.” Jawab Delvano enteng “Saya belajar cinta sama kamu dan begitu juga sebaliknya.” Jelas Delvano
Okkhy hanya mendengarkan percakapan kedua orang dibelakangnya dan masih focus menyetir, sekalian belajar juga kalau sudah menemukan kekasih hatinya.
“Belajar saling mencintai, seperti apa Om, Cia enggak paham?” Tanya gadis itu polos
__ADS_1
Cia mana pernah jatuh cinta, dia sibuk sekolah, sibuk mengejar pendidikannya. Sang Ayah memang tak mengizinkannya untuk memulai hubungan diusia muda. Apalagi zaman sekarang menjaga anak gadis itu seperti sebuah telur, sedikit saja retak bisa pecah dan hancur berantakkan.
Delvano mengusap wajahnya kasar, dia saja tidak tahu bagaimana belajar saling jatuh cinta itu. Selama ini dia tidak pernah jatuh cinta dekat dengan wanita saja membuatnya ingin muntah, Cia adalah wanita pertama yang dekat dengannya.
“Ehem, saya juga enggak tahu.” Jawabnya jujur sambil menggaruk tengguknya yang tidak gatal
Okkhy yang duduk didepan menahan tawa mendengar percakapan kedua orang yang sama-sama polos dan belum pernah saling jatuh cinta itu. Sepertinya akan menarik kalau mereka menikah nanti.
“Om.” Mata Cia kembali berkaca-kaca
“Kamu kenapa?” Delvano panic “Kamu sakit dimana yang sakit? Ayo bilang sama saya!” Desaknya. Kenapa melihat gadis ini menangis dia begitu panic.
“Anda baik-baik saja Nona?” Okkhy ikut menimpali. Aneh sekali gadis ini, baru saja tertawa kenapa tiba-tiba menangis.
“Om, hiks.” Cia menyeka air matanya.
“Kamu kenapa? Kok nangis?” Tanya Delvano lembut sambil menyeka air mata gadis itu
“Hiks hiks, Cia takut perut Cia nanti besar Om. Apa kata orang-orang kalau liat perut Cia besar, hiks hiks?" Dia menangis segugukan sambil mengusap perutnya.
Kening Delvano kembali berkerut heran “Emangnya kenapa perut kamu besar?” Tanyanya heran.
Untuk sesaat Delvano tercenggang, begitu juga dengan Okkhy yang menyetir didepan, kedua lelaki itu saling melihat satu sama lain, seolah nyawa mereka sedang terbang melayang. Sementara Cia masih segugukan sambil mengusap perutnya yang rata. Anak bungsu ini terlalu polos dengan ucapan orangtuanya.
“Ck,” Delvano mendengus kesal
“Nona. Nona.” Okkhy menggeleng sambil tertawa pelan.
“Otakmu itu kamu gunakan buat apa? Masa iya orang hamil hanya gara-gara dicium keningnya. Luar binasa.” Omel Delvano geram sambil mendorong kening Cia dengan gemes.
“Awwww. Si Om-nya jahat amat sih sama Cia. Kekerasan dalam pencitraan.” Gerutunya
“Apa hubungannya sama pencitraan?” Tanya Delvano tak habis pikir.
__ADS_1
“Ya enggak ada.” Jawab Cia masih mengusap keningnya
“Lagian kamu itu enggak ada cerdas-cerdas nya. Percaya aja sama omongan Bapak kamu itu. Kamu lihat itu buku biologi mana ada sejarahnya orang cium dikening bisa hamil.” Delvano menunjuk kening Cia sambil mengomel dan menggerutu panjang loebar, bisa-bisanya gadis ini membuatnya emosi tak terkendali.
“Hiksss Om jahat sama Cia.” Gadis itu merajuk “Cia juga enggak percaya tapi kata Bapak buktinya Ibu dicium Bapak tiap malam bisa lahirin Cia sama Kakak dan Abang-abang Cia.” Jelasnya dengan bibir menggerecut kesal.
“Sudahlah pusing saya ngomong sama kamu. Bisa-bisa saya yang gila,” ucap Delvano frustasi sambil memijit-mijit kepalanya yang sakit karena mengomeli gadis aneh disampingnya itu.
Sedangkan Cia mulutnya komat-kamit seperti dukun baca mantra karena kesal sat Delvano menjitak keningnya. Dia menyumpahi pria disampingnya itu agar jatuh cinta padanya dan bucin akut nantinya.
Sampai dikost-kostan Cia, mobil Okkhy terparkir. Delvano dan Cia turun dari mobil bersamaan.
“Om ngapain sihh turun?” Cia mendengus kesal, bisa-bisa ada yang melihat dia nantinya.
“Emang kenapa?” Tanya pria itu santai sambil memasukkan kedua tangannya disaku celananya.
“Ihh Om ini gimana sih! Ini udah malam Om, di kost Cia enggak boleh bawa cowok. Apalagi nanti kalau ada yang liat Cia sama Om, bisa digerebek warga kita Om.” Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya kesal.
“Saya enggak peduli.” Sahut Delvano santai sambil bersandar dimobil.
“Tapi Cia mau Om peduli.” Cia benar-benar ingin menendang pria itu.
Delvano acuh saja. Alhasil mereka berdua malah asyik berdebat didepan mobil. Cia tampak mengomel karena kesal melihat Delvano yang keluar dari mobil. Sedangkan Delvano tak peduli.
“Om pulang gihhh. Nanti ketahuan sama Ibu kost, Cia bisa dihukum bersihin toilet Om.” Gadis itu mendorong Delvano masuk kedalam mobil.
“Ck, saya cuma mau pastiin kalau kamu masuk dengan aman.” Tubuh kekar Delvano sama sekali tak bergerak saat didorong oleh Cia.
“Enggak usah, Cia aman kok.” Cia masih memaksa mendorong tubuh besar Delvano.
“Ck, jangan dorong-dorong kamu pikir saya mobil apa?” Gerutu Delvano
“CIA KAMU NGAPAIN BAWA COWOK MALAM-MALAM KE KOST? HAH?” Teriak Zaenab didepan pintu sambil bercakak pinggang.
__ADS_1
‘Mampus gue.'
Bersambung....