
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
"Pak kamu ngajarin anak asal-asalan," protes Lenny pada suaminya.
Bernadus menghela nafas panjang dan kikuk melihat tatapan tajam istrinya. Dia sendiri tak menyangka jika Cia benar-benar menuruti kata-katanya padahal itu hanya menakut-nakuti Cia saja agar tidak dekat-dekat dengan lelaki sebelum waktunya.
"Hiks Bu, masa Cia hamil sebelum belum nikah?" Gadis itu masih terisak dipelukan Ibunya.
Sedangkan Delvano mendengus kesal. Belum juga malam pertama sudah takut begini. Bagaimana kalau malam pertama nanti, bisa-bisa Cia kabur dari kamar gara-gara dirinya.
Sementara sang pendeta hanya bingung sambil menatap Cia dan Delvano bergantian. Baru kali ini dia melayani pasangan seperti Delvano dan Cia. Bisa dibilang pasangan aneh namun lucu dan juga menggemaskan.
"Cia dengarin Ibu," Lenny melepaskan pelukan anaknya. "Yang dibilang Bapak itu enggak benar. Bapak cuma nakut-nakutin kamu aja. Mana ada cium dikening langsung hamil," Lenny geleng-geleng kepala.
"Masa sih Bu?" Cia tampak berpikir keras. "Bapak bohong sama Cia?" Gadis itu menatap Ayahnya tajam
"Enggak kok," kilah Bernadus.
"Udah ahh kamu ini, enggak malu sama calon suami kamu?" Ucap Lenny.
Cia kalau menangis air mata nya tidak keluar sama sekali. Dia seperti anak kecil yang suka merajuk dan berpura-pura menangis padahal air matanya tak jatuh sama sekali.
Cia langsung tersadar dia melihat kearah calon mertua dan calon kakak iparnya serta pendeta yang memberkati pertunangan mereka menatapnya dengan aneh.
"Hehehe. Maaf," gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu ini....." Delvano benar-benar diuji kesabaran nya.
"Dek jangan biasain gitu ya," tegur Dhanny geleng-geleng kepala. Dia malu sendiri melihat tingkah kekanak-kanakan adiknya ini. Dan Ayah nya juga sudah tahu anak perempuan nya masih polos dan tidak paham masalah hubungan masih saja dia diajarkan hal-hal yang membuat Cia menurut.
"Iya Kak,"
Cia kembali duduk disamping Delvano. Dia langsung mengangkat tangannya dengan huruf v ketika melihat Delvano kesal.
__ADS_1
Sedangkan Laurent tak mampu lagi menahan tawanya. Sungguh gadis ini benar-benar menarik dan tak salah jika Delvano menjadikan Cia sebagai istrinya. Hanya saja sikap Cia yang memang masih seperti anak-anak dan Laurent memaklumi itu karena cia yang hidup dikampung jauh dari pergaulan kota. Tapi jauh dari hal itu, Laurent menyukai semua yang ada pada diri Cia. Gadis sederhana yang tidak neko-neko.
"Maaf ya Jeng, maaf ya Pak. Maklumin Cia emang masih belum dewasa," ucap Lenny tak enak hati sendiri.
"Enggak apa-apa Jeng. Saya suka Cia yang apa adanya," senyum Laurent.
Dave dan Devan geleng-geleng kepala saja. Pasti suasana rumah nanti akan ramai jika Cia sudah resmi menikah dengan Delvano. Gadis itu pasti bisa membuat seisi rumah tertawa gemes dengan ucapan nya yang menyeleneh.
Delvano mengelus dadanya sabar. Seperti nya dia perlu menyetok kesabaran lebih banyak. Resiko dia yang menikahi gadis aneh seperti Cia. Namun semakin aneh sikap Cia semakin besar juga cinta Delvano pada Cia. Kadang Delvano heran, apakah Cia ini memiliki magnet sendiri sehingga mampu menarik nya mendekat?
"Om, maafin Cia ya?" Bisik gadis itu pelan dan malu-malu.
"Lain kali jangan diulangi, kamu itu bikin malu aja," ketus Delvano kesal. Rasanya dia ingin menenggelamkan kepala Cia sakit gemes nya dengan gadis tersebut.
"Hehehe iya Om, kalau Cia enggak lupa ya," Cia menampilkan rentetan gigi putihnya.
Acara lamaran dilanjutkan dengan makan-makan sekeluarga besar. Ada beberapa aparat desa yang turut menghadiri pertunangan Delvano dan Cia. Kepala Desa. Kepala Dusun. RT. RW. Dan tokoh-tokoh masyarakat yang lainnya juga turut hadir sambil memberi nasehat kepada calon penggantin itu.
Keluarga Cia termasuk keluarga yang di hormati dikampung ini. Dulu Bernadus mantan Kepala Dusun dan menjabat beberapa periode sebelum akhirnya dia lulus dalam test pengawai negeri sipil sepuluh tahun yang lalu. Jadi tak heran jika keluarga itu sangat dihormati dikampung ini.
"Enggak nginap Jeng?" Tanya Lenny.
"Enggak Jeng. Soalnya banyak pekerjaan dirumah," tolak Laurent lembut takut menyinggung calon besan nya itu.
"Ya udah Jeng hati-hati ya," senyum Lenny.
"Terima kasih Jeng,"
"Cia, Mommy pulang ya Nak. Kamu baik-baik sama Delvan. Nanti sampai di kota kalian udah harus nikah. Kalian enggak perlu khawatir nanti masalah pernikahan biar Mommy yang urus," ucap Laurent sambil memeluk calon menantunya itu.
Cia langsung kikuk saat membicarakan pernikahan. Seperti nya dia memang tidak bisa lagi menghindari pernikahan gila ini.
"Iya Mom hati-hati," balas Cia tersenyum.
__ADS_1
Setelah berpamitan Laurent dan kedua anaknya serta pendeta itu pun pulang meninggalkan kediaman Cia dan kembali ke kota. Jarak kampung dari kota memakan waktu cukup lama sekitar dua atau tiga jam. Dan ada beberapa titik jalan yang sudah rusak.
"Cia kamu ganti baju dulu Nak," suruh Bernadus. Cia kalau tidak ditegur begitu bisa lupa
"Entar aja Pak, Cia lagi bantuin Ibu beberes," jawabnya.
Sedangkan Delvano sedang duduk di ruang tamu bersama Dhanny dan Bernadus.
"Van, maaf ya. Cia emang gitu orangnya. Kamu harus sabar kalau udah nikah sama dia nanti. Kayaknya dia bakal uji kesabaran kamu," timpal Dhanny sambil menepuk bahu calon adik iparnya itu.
Delvano mengangguk. "Iya Dhan. Hufhh," Delvano menghembus nafasnya kasar.
Delvano melirik Cia yang tampak sibuk membantu sang Ibu. Meski dilihat manja dan suka membuat kesal namun sebenarnya Cia adalah gadis yang baik dan sabar. Seperti nya Delvano tak hanya cukup menjadi suami tapi dia juga harus menjadi guru agar Cia dewasa.
"Nak Delvano," Bernadus calon menantunya itu.
"Iya Pak," Delvano mengangguk sopan.
"Nak Delvano, kamu kan sudah lihat bagaimana anak Bapak itu. Dia memang belum sama sekali dewasa. Dia masih polos tapi sebenarnya dia anak yang pintar dan baik. Kamu harus pintar-pintar bimbing dia agar enggak salah jalan. Sejujurnya Bapak belum siap lepasin Cia. Tapi Bapak yakin kamu calon suami yang baik untuk Cia," tukas Bernadus. Dia memang berat melepaskan putri kecil nya itu.
"Saya akan menjaga Cia Pak. Saya akan bimbing dia. Bapak enggak usah khawatir dan makasih Bapak udah sama saya buat jagaian Cia," sahut Delvano.
Bernadus mengangguk. Mungkin semua orang akan bangga memiliki besan orang kaya raya seperti keluarga Delvano. Tapi tidak dengan Bernadus. Dia takut putrinya itu nanti malah tersakiti, apalagi derajat mereka yang jauh berbeda.
**Bersambung....
Malam guys...
Maaf cuma update satu bab...
Author lagi selesaikan Novel disebelah..
makasih buat dukungan kalian semua**.
__ADS_1