Istri Tuan Muda Delvano

Istri Tuan Muda Delvano
Fitting gaun penggantin & Prewedding


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Delvano membawa Cia ke butik langganan Ibunya. Hari ini mereka berdua akan fitting gaun penggantin.


"Wahh Om gaun nya bagus-bagus banget Om. Tapi ini muat enggak ya Om. Badan Cia kan kecil Om?" Cia memperhatikan beberapa gaun penggantin yang sengaja di pasang pada manekin-manekin yang berdiri dibutik tersebut.


"Saya sudah pesan kan gaun buat kamu," ucap Delvano ketus padahal penuh perhatian.


"Benarkah Om?" Mata Cia berbinar-binar. "Bagus enggak Om gaun nya? Jangan yang gede-gede yaaa Om, Cia kan kecil entar malah kayak lomba karung lagi," celetuk Cia.


"Ehem," Delvano kembali berdehem. "Ayo," Delvano menarik tangan Cia agar berjalan masuk kedalam butik.


"Selamat siang Tuan Delvano. Nona Cia," sapa semua pengawai butik itu sambil berbaris rapi menyambut kedatangan Delvano dan Cia.


"Ehem, tolong bantu dia pakai gaun yang saya pesan kemarin," suruh Delvano.


"Baik Tuan," sahut mereka serentak.


"Mari Nona," sambil mengajak Cia dengan sopan.


Cia mengangguk dengan wajah polosnya. Dia tak berhenti mengagumi gaun-gaun indah itu. Harganya pasti mahal atau mungkin seharga dengan ginjal nya Cia.


Sementara Delvano melipat kedua tangannya sambil tersenyum lebar. Jauh-jauh hari dia memang sudah memesan gaun penggantin khusus untuk calon istrinya itu. Sebab badan Cia kecil, pasti ukurannya akan berbeda dengan gaun-gaun yang sudah disediakan di butik tersebut.


"Aku janji Cia. Aku akan jagain kamu. Semoga kamu pelabuhan terakhir cinta aku. Aku cinta sama kamu," gumam Delvano sambil duduk. Namun sayang ungkapan cinta nya itu hanya mampu dia simpan didalam hati nya tanpa mau mengungkapkan nya pada Cia.


Delvano duduk di sofa ruang tunggu. Tamu terhormat seperti nya tentu akan disediakan ruangan khusus yang nyaman.


"Ehem, apa aku kasih Cia apartemen aja ya biar sebelum nikah? Aku enggak mau si Dit-dit itu dekatin Cia," gumam Delvano setengah kesal kalau mengingat wajah Adit.


Sebagi seorang lelaki tentu dia tahu tatapan Adit pada Cia. Tatapan itu adalah tatapan saat lelaki sedang jatuh cinta pada lawan jenisnya dan Delvano tidak akan biarkan itu terjadi. Delvano takut jika hati Cia malah memilih Adit, apalagi saat ini Cia belum sama sekali jatuh cinta padanya. Tentu saja Delvano takut, takut dirinya akan di selip oleh Adit.

__ADS_1


"Tapi...." Lelaki itu mendesah. "Belum tentu lagi si Perusuh Kecil itu menerima pemberianku. Dibelikan barang aja dia protes," Delvano bernafas berat. "Satu bulan masih terlalu lama. Pernikahan Kak Dave dan Kak Devan juga masih dua minggu lagi. Kalau begini ceritanya, Adit pasti punya banyak cara buat dekatin Cia. Huffh, aku harus paksa Perusuh itu menerima pemberianku. Awas aja kalau dia enggak mau terima. Bakal aku gantung dia di tiang listrik," Delvano bermonolog sendiri. Ekspresi kesal nya seperti sedang berbicara dengan Cia.


Delvano takkan biarkan siapapun mendekati calon istrinya itu. Cia adalah calon istrinya. Wanita yang akan menjadi istri dan Ibu dari anak-anak nya nanti, jadi tidak ada yang boleh mendekati gadis itu selain dirinya sendiri.


"Om,"


Delvano Cia dari ujung kaki lalu perlahan dia mengangkat pandangan nya. Sontak Delvano berdiri ketika melihat gadis manis itu sudah tersenyum sambil menampilkan rentetan gigi putihnya.


Gaun yang Delvano pesan untuk calon istrinya sangat pas. Pas sekali dengan ukuran tubuh cia yang munggil. Model gaun itu juga mewah dengan mutiara yang melingkar dibagian pinggang nya. Dadanya tertutup, dengan lengan yang sampai bahu namun tidak seksi, pas lah untuk ukuran tubuh Cia yang munggil.


Delvano tersenyum, tak sia-sia dia menghabiskan waktu untuk memilih desain gaun penggantin istrinya karena memang gaun ini tak hanya mewah dan mahal tapi juga cocok saat dipakai Cia.


"Kenapa Om terpesona ya?" Sambil mengedipkan matanya jahil.


Senyum Delvano langsung memudar dan perasaan nya yang melambung tinggi sambil membayangkan dirinya dan Cia bersanding di pelaminan langsung buyar.


"Ck, jangan kepedean," kilah nya sambil menyembunyikan senyum nya.


"Enggak apa-apa Om enggak bilang Cia cantik, tapi Cia udah ngerasa cantik kok Om. Walau pun cuma Cia aja sih yang ngerasa," gadis itu nyengir kuda sambil tersenyum.


Setelah fitting baju di lanjutkan dengan foto prewedding. Tema nya adalah tentang hutan. Delvano menyukai hal-hal yang klasik namun natural.


Keduanya memakai pakaian putih. Cia memakai gaun putih yang senada dengan kemeja putih yang di kenakan oleh Delvano. Keduanya menyukai sesuatu yang simple dan tidak ribet hingga memilih tema yang sederhana saja tanpa memakai gaun penggantin.


"Ihhh Om, kenapa peluk-peluk pinggang Cia?" Protes Cia.


"Ck, makanya konsentrasi. Dengarin tuh apa yang dibilang sama fotografer nya," ketus Delvano kesal sendiri.


Beberapa kali mereka berganti gaya untuk mengambil foto agar terlihat indah. Namun tetap saja di bumbui dengan perdebatan. Apalagi Cia yang tidak suka dipegang-pegang, terjadilah perdebatan diantara kedua orang berbeda usia dan jenis kelamin itu.


"Tangan mu itu peluk pinggang saya," Delvano melingkarkan tangan Cia dipinggangnya.

__ADS_1


"Emang harus gitu ya Om?" Tanya Cia heran


"Enggak," ketus Delvano kesal


Okkhy hanya senyam-senyum saja sambil menikmati perdebatan kedua pasangan yang selalu berdebat setiap hari itu. Seperti nya bukan Cia yang suka membuat kesal tapi Delvano yang suka sekali menggoda gadis itu.


"Capek," gadis itu duduk.


"Kaki kamu sakit?" Tanya Delvano panik karena tadi mereka memang berdiri cukup lama dan beberapa kali berganti pose


"Iya Om. Kayaknya kaki Cia patah dehh," sambil mengurut-urut kakinya.


Delvano mendelik. "Patah gimana? Emang kamu jatuh? Kamu tuh ya ngomong asal keluar aja. Ingat setiap kata adalah doa. Gimana nanti kalau kaki kamu patah beneran?" Meski mengomel lelaki itu tetap mengurut kaki calon istrinya.


"Ya kan misal nya Om," Cia tersenyum cengengesan tapi senang saat Delvano memperhatikan nya. "Om makasih ya," sambil tersenyum menggoda.


"Makasih untuk apa?" tanya Delvano ketus. Padahal hatinya sudah ketar-ketir.


"Makasih udah khawatirin Cia Om. Om pasti bucin yaaa sama Cia?" ledek Cia.


Delvano melirik tangannya yang memijit-mijit betis Cia. Sontak saja lelaki itu melepaskan tangannya dan salah tingkah.


"Siapa juga yang khawatirin kamu. Jangan ge-er kamu," kilah Delvano sedikit menjauh dari Cia takut ketahuan kalau dia salah tingkah.


"Ya emang jujur itu menyakitkan Om," seru Cia. "Tapi makasih lho Om, udah perhatian sama Cia. Cia cinta sama Om,"


Blusshhhh


Seperti anak remaja saja wajah Delvano langsung merah merona. Bibirnya terlihat menahan senyum. Hatinya sudah berbunga-bunga saat Cia mengatakan cinta padanya.


"Tapi bohong,"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2