
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ryan masuk kedalam mobilnya. Dia mendengus kesal gara-gara kesiangan, padahal pagi ini dia sedang ada meeting bersama beberapa klien penting.
Dan lagi dia harus mengantar kakak tercinta itu ke caffe, karena mobil Rianti masih dibengkel.
"Kak kalau proyek aku kali ini gagal, aku bakal langsung coret nama Kakak dalam kartu keluarga," ancam Ryan melirik kakaknya yang tampak sibuk memasang lipstik dibibir nya.
"Kamu bukan kepala keluarga Yan," sahut Rianti santai. Sama sekali dia tak terpengaruh dengan wajah cemberut adiknya itu.
"Tapi kan ini semua gara-gara Kakak. Aku kesiangan juga gara-gara Kakak. Aku terlambat juga gara-gara Kakak. Semua nya gara-gara Kakak," ucap Ryan.
"Ehem," Rianti berdehem saja sambil menempelkan bedak padat diwajahnya.
Rianti tak peduli pada adiknya yang sedang mengomel itu. Dia sengaja mengerjai adiknya karena ketahuan bermain wanita lain. Ryan memang harus dikasih pelajaran biar dia jera.
Chitttttttttttt
Tiba-tiba Ryan menginjak rem secara mendadak saat menabrak sesuatu yang ada didepannya.
"Ada apa Ryan?" tanya Rianti hampir jantungan gara-gara adik nya itu. Tubuhnya terpental didepan dan alhasil make up nya berantakkan.
__ADS_1
"Enggak tahu," Ryan turun dari mobil dengan wajah kesalnya. Ada-ada saja halangannya padahal dia sedang buru-buru.
Rianti ikut turun karena penasaran. Itu akibat adik nya yang menyetir sambil suka marah-marah.
"Awwww," rintih seorang gadis memegang kakinya.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Rianti menghampiri gadis itu. "Kaki kamu luka," ucapnya.
"Saya enggak apa-apa Kak," jawab gadis itu tersenyum sambil berusaha untuk berdiri namun kakinya benar-benar terasa ngilu.
"Kak, ayo. Dia kan enggak kenapa-kenapa," ucap Ryan. Jenggah, lelaki itu terus melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangan nya.
"Enggak apa-apa gimana? Kaki nya luka," ucap Rianti membantu gadis itu berdiri. "Kita harus bawa dia kerumah sakit," seru Rianti.
"Enggak bisa gitu Ryan. Kamu harus bertanggungjawab. Kamu lho yang nabrak dia," sela Rianti.
"Kak, saya enggak apa-apa Kak. Enggak perlu dibawa ke rumah sakit Kak," jelas gadis tersebut, dia jadi tidak enak membuat kakak dan adik itu bertengkar karena dirinya.
"Kaki kamu luka Dek. Udah ayo, enggak usah dengarin dia," Rianti malah membawa gadis itu masuk kedalam mobil.
"Kak, enggak usah. Saya juga buru-buru Kak. Mau interview kerja," tolak gadis itu
__ADS_1
"Enggak lama. Kita sebentar. Kakak takut kaki kamu infeksi nanti," kata Rianti. "Ryan, cepat," perintah Rianti.
Ryan menjalankan mobilnya dengan wajah kesal bukan main. Hari ini benar-benar sial dan membuatnya kesal.
"Nama kamu siapa Dek?" tanya Rianti.
"Nama saya Dara, Kak," sahut gadis itu sambil tersenyum. "Kalau Kakak?" sambungnya.
"Nama Kakak Rianti. Kalau itu namanya Ryan, dia adik Kakak," jelas Rianti.
"Ohh iya Kak," Dara hanya beroh-ria saja.
Ryan memarkir mobilnya di parkiran rumah sakit. Meski dia Boss nya tapi dia juga harus disiplin waktu.
"Ryan kamu ikut masuk," ajak Rianti.
"Enggak ahh Kakak aja. Aku nunggu dimobil," tolak Ryan.
"Cepat Ryan. Kakinya sakit enggak bisa jalan. Kakak enggak mau papah dia," suruh Rianti
Ryan benar-benar kesal. Pria itu keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan kuat. Tanpa aba-aba ia langsung mengangkat tubuh Dara. Sontak saja Dara terkejut dan dengan cepat memeluk leher Ryan.
__ADS_1
Bersambung..