Istri Tuan Muda Delvano

Istri Tuan Muda Delvano
Empati


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ryan masuk kedalam rumah Dara. Lelaki sombong itu tak habis pikir bagaimana tempat tak layak ini bisa dijadikan tempat untuk tinggal? Bahkan tidak ada kursi didalamnya. Kalau mau duduk langsung di lantai papan nya.


"Kak, duduk dulu ya. Saya buatkan minum sebentar," ucap Dara sambil tersenyum dan meletakkan tasnya.


Anehnya Ryan malah menurut dan duduk dilantai. Meski sejujurnya ia jijik tapi rasa penasaran lebih besar dari rasa jijiknya.


'Tempat ini benar tidak layak dihuni. Kenapa dia bisa bertahan disini?' ucap Ryan dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Dara datang dengan membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa potong kue yang dia buat tadi pagi.


"Ayo Kak di makan," ucap nya meletakkan kue itu.


"Udah berapa lama kamu tinggal disini?" tanya Ryan memperhatikan sekeliling ruangan tamu kecil dirumah darah. Untung rumah ini bersih dan tertata rapi jadi tidak terlihat buruk.


"Udah hampir sepuluh tahun Kak," jelas Dara.


"Kakak kenapa?" dua anak kembar datang yang masih memakai seragam SMP


"Kakak enggak kenapa-kenapa kok," sahut Dara. "Kalian ganti baju. Tadi kakak udah masak buat makan siang kalian," suruhnya pada kedua adik kembarnya itu.


"Iya Kak," sahut keduanya serentak lalu menuju kamar mereka yang begitu kecil.


"Adik kamu?" tanya Ryan sambil mencomot kue yang diberikan Dara.


"Iya Kak. Mereka kembar," sahut Dara. "Maaf yaaa Kak, rumah nya kecil. Kakak pasti enggak enak disini," ucap Dara tak enak hati. Dilihat dari mana pun susah bisa ditebak jika Ryan ini orang kaya.


"Its oke," sahut Ryan santai. "Kue kamu enak," ucapnya sambil menikmati kue buatan Dara.


"Silahkan dimakan Kak," senyum Dara.


"Kamu kuliah?" tanya Ryan. Karena terlihat dari cara Dara berbicara dia seperti anak kuliahan.


"Iya Kak," sahut Dara tersenyum.


"Semester berapa?" tanya Ryan lagi.


"Semester 3 Kak," jawab Dara menghela nafas panjang. Jika tidak ada jalur beasiswa, pasti ia tidak bisa kuliah. Jangan kan untuk kuliah, untuk makan sehari-hari saja dia kesulitan.

__ADS_1


"Terus selain kuliah kesibukan kamu apa lagi?" seperti nya Ryan mulai tertarik dengan kehidupan Dara.


"Saya kerja di warung makan Kak. Kadang juga sambil jualan kue," jelas Dara karena memang itulah aktivitas nya setiap hari selain menjadi mahasiswa.


"Orang tua kamu?" tanya Ryan kemudian.


"Ayah sudah meninggal Kak. Ibu, ada didalam dia lagi sakit Kak," jawab Dara. Ia tersenyum kecut ketika memikirkan hidupnya yang tak sama seperti gadis lainnya.


"Kenapa enggak dibawa kerumah sakit?" ucap Ryan tak habis pikir.


Dada menghela nafas panjang. "Saya belum ada uang Kak. Saya beliin Ibu obat di warung aja," jawab Dara.


Ryan tak lagi berkata apa-apa. Ia merasa tak sanggup jika hidup seperti Dara. Benar apa yang dikatakan Ibu nya, harusnya Ryan banyak-banyak bersyukur karena memiliki banyak hal yang tidak dimiliki oleh orang lain. Selama ini dia kebanyakan mengeluh karena pekerjaan yang menumpuk.


"Saya mau pamit," Ryan melirik arloji ditangannya. "Ya saya kekurangan satu staf di kantor saya. Kalau kamu tertarik kamu boleh datang besok kesana. Ini kartu nama saya," Ryan menyedorkan kertas berukuran kecil yang diyakini sebagai kartu namanya.


"S-serius Kak?" tanya Dara setengah tak percaya dengan berkaca-kaca.


Ryan mengangguk. "Boleh saya minta nomor rekening kamu?" sambil menyedorkan ponselnya.


"Buat apa Kak?" tanya Dara heran dan penasaran.


Dara terdiam dia tidak mungkin menerima uang secara cuma-cuma dari lelaki ini. Ia bahkan tak kenal sama sekali.


"Maafkan bukan saya menolak tapi saya enggak bisa terima uang dari Kakak," Dara menangkup kedua tangannya didada meminta maaf karena ia tak bisa menerima uang dari sembarangan orang. Apalagi ia baru kenal Ryan beberapa jam yang lalu. Sedari kecil ia sudah di ajarkan mandiri oleh kedua orang tua nya.


Ryan tersenyum. Dalam hati pria itu, dia kagum dengan kepribadian Dara. Zaman sekarang, kebanyakan wanita menyukai uang tapi wanita ini bahkan dalam keadaan genting seperti ini pun ia tak mau menerima uang yang diberikan kepadanya.


"Kamu terima saja. Nanti kamu bisa cicil kalau sudah menjadi karyawan saya," jelas Ryan beralasan supaya Dara menerima tawaran nya.


Dara tampak terdiam dan berpikir. Sejujurnya ia sangat butuh uang itu untuk membawa Ibu nya kerumah sakit.


"Demi Ibu kamu," sambung Ryan meyakinkan supaya Dara mau menerima uang yang dia berikan.


Dara mengangguk. "Iya Kak," dia mengambil ponsel Ryan lalu menyalin nomor rekening nya di ponsel lelaki itu.


"Kalau begitu saya permisi,"


"Terima kasih Kak,"

__ADS_1


Rasanya Dara ingin menangis terharu. Disaat ia tidak tahu jalan mana untuk mendapatkan uang agar bisa membawa Ibu nya kerumah sakit tapi Tuhan mengutus seseorang menolongnya.


"Terima kasih Bapa," ucap nya sambil memeluk ponsel nya karena baru saja uang yang di transfer Ryan masuk kedalam rekening nya.


"Aku berjanji akan bekerja dengan baik dan giat untuk membayar hutang ini," gumamnya. Dara menganggap uang yang ia terima adalah hutang karena ia memang tidak mau bergantung pada orang lain.


.


.


.


Ryan masuk kedalam mobilnya. Ia tersenyum. Ini adalah pertama kali nya ia melakukan kebaikan.


"Huffhhhh," lelaki itu menyalakan mobilnya.


"Kenapa gue bisa empati sama itu cewek?" Ryan geleng-geleng kepala. "Menarik. Bahkan saat gue kasih dia uang. Dia biasa aja," ucap Ryan bermonolog sambil menyetir.


Sampai di kantornya. Ryan langsung turun. Ini sudah sangat siang. Awalnya tadi dia menggerutu pada kakaknya. Tapi sekarang entah kenapa dia bisa sebahagia ini karena sudah melakukan kebaikan pada orang yang kurang mampu. Mungkin ini yang pertama sehingga Ryan bisa merasakan indahnya berbagi


Pesona nya selalu membuat para karyawan wanita di kantor tak bisa berpaling. Setiap hari akan datang wanita yang berbeda-beda untuk mencari Ryan dan meminta pertanggungjawaban. Namun lelaki itu malah acuh, ia hanya mengencani tapi tidak menyuruh baper sendiri. Ia sudah tegaskan berkencan dengannya bukan berarti menjadi kekasihnya tapi saling menguntungkan satu sama lain.


"Selamat siang Tuan," sapa Alana sang asisten Ryan. Wanita berpakaian kurang ukuran ini adalah salah satu wanita yang sering menghabiskan malam dengan Ryan.


"Bagaimana meeting nya?" Ryan duduk dikursi kebesarannya.


"Lancar Tuan, ini laporan nya," Alana sedikit membungkukkan badannya agar Ryan melihat belahan dadanya. Biasanya disaat lelah-lelah seperti ini lelaki itu akan meminta nya untuk melayani Ryan.


"Hem," Ryan berdehem lalu memeriksa laporan itu.


"Alana,"


"Iya Tuan. Kenapa?" tanya nya dengan suara menggoda.


"Besok akan ada sekretaris baru. Tolong kamu bimbing dia," jelas Ryan sama sekali tak tergoda dengan Alana.


Kening Alana berkerut heran. "Sekretaris baru?" ulang Alana barang kali dia salah dengar.


"Iya. Tolong kamu siapkan semua keperluan nya," perintah Ryan lagi tanpa melihat Alana.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2