
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
"Ayo,"
Adit dan Netthy turun dari mobil saat sudah sampai di caffe Rianti. Adit memang sering makan siang disini kadang bersama Ryan dan Rianti, kadang juga sendiri.
Netthy menarik nafas dalam. Mencoba menetralisir perasaan gugup nya. Berdekatan dengan Adit membuat jantungnya berdebar tak karuan.
'Huffh, benar kata Cia. Kalau dekat orang yang kita suka, jantung suka cenat-cenut,' batin Netthy.
"Neth, ayo," panggil Adit saat gadis itu malah bingung disamping mobil.
"Ehhh iya Kak," Netthy menyusul Adit.
Berdekatan dengan Adit tidak baik untuk kesehatan jantung nya. Entah kenapa, dia suka lupa diri kalau ada Adit? Suka salah tingkah dengan tubuh nya terasa panas dingin.
"Ehhh Ryan," panggil Ryan.
"Hei Dit," balas Ryan. "Ayo sini gabung aja," tawarnya.
Adit dan Netthy berjalan menghampiri meja Ryan dan Dara yang juga tengah makan siang berdua disana. Boss dan sekretaris itu semakin sering bersama setiap hari nya. Banyak yang curiga jika keduanya memiliki hubungan spesial. Namun, sekali lagi Dara tegaskan, dia tak memiliki hubungan apapun dengan Ryan. Mereka memang sebatas Boss dan anak buah saja.
"Hai," sapa Dara pada Netthy.
"Ehhh Dara," seru Netthy terkejut. "Loe ngapain disini Ra?" tanya Netthy.
"Gue kerja jadi sekretaris nya Tuan Ryan, Neth," jawab Dara tersenyum manis. Dara ini memang gadis yang terkenal karena sifat lembut nya.
"Kalian saling kenal?" Ryan menatap kedua gadis itu secara bergantian.
"Ohh iya Tuan. Netthy ini teman kampus saya. Kami beda jurusan," jawab Dara mewakili.
Ryan manggut-manggut paham. Jika begini akan semakin sulit buat dia mendekati Dara.
"Kalian mau pesan makan apa?" tanya Ryan.
"Neth, kamu mau makan apa?" Adit tampak membuka buku menu sambil melihat daftar makanan di dalam buku tersebut.
"Samain aja sama Kakak," sahut Netthy kesem-kesem.
"Kalau Kakak pesen nasi putih doang, kamu bakal samain juga?" goda Adit terkekeh.
"Aku rela kok Kak, hidup susah sama Kakak. Asal kita berdua!" celetuk Netthy tanpa sadar. Ia menatap kagum wajah tampan Adit. Lelaki paket komplit.
__ADS_1
Ryan dan Dara tersenyum sambil menahan tawa. Dara yang memang mengenal Netthy, sifat gadis itu sudah tak heran mereka empat sekawan sama-sama somplak.
"Kamu ini ada-ada aja," Adit mengacak rambut Netthy. Setiap kali mengacak rambut seseorang ia selalu ingat pada Cia. Dulu, Adit sering sekali mengacak rambut gadis itu. Namun sekarang Cia sudah tidak bersama dengan nya lagi. Jadi, Adit harus berusaha mengubur perasaan yang tak seharusnya ada itu.
Mereka berempat makan sambil mengobrol singkat tentang pekerjaan dan hal-hal lainnya.
Ryan baru tahu jika Dara ini memiliki sisi yang menarik. Dia terlihat diam dan dingin tapi jika bertemu orang yang tepat maka sifat aslinya akan keluar.
Drt drt drt drt drt
"Tuan, saya izin angkat telpon sebentar," ucap Dara.
Ryan mengangguk. Namun, lelaki itu sebenarnya penasaran. Siapa yang menghubungi Dara, kenapa terlihat penting sekali? Dan kenapa berbicara harus jauh.
"Disini saja," perintah Ryan saat Dara hendak berdiri.
"Iya Tuan," Dara hanya mengangguk. Padahal dia tidak nyaman saat berbicara di telpon ada banyak orang.
Adit tersenyum lucu. Dia yakin jika Ryan sebenarnya sudah memiliki perasaan khusus untuk Dara. Hanya saja dia masih gensi mengakui perasaan nya. Maklum laki-laki memiliki gensi yang tinggi. Suka menunda jika mengungkapkan apa yang dia rasakan. Lama-lama dia sendiri yang kecewa ketika wanita yang ia sukai di rebut pria lain.
"APA?" pekik Dara menutup mulutnya.
Ryan, Adit dan Netthy terkejut. Sontak ketiga orang itu menoleh kearah Dara yang menutup mulutnya.
"Kenapa?" tanya Ryan penasaran.
Badan Dara bergetar bahkan ia sampai salah memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Tubuhnya dingin setelah mendapat kabar yang menghancurkan segala harapan.
"T-tuan s-saya i-zin pu-pulang," ucap Dara terputus-putus.
"Loe kenapa Ra?" tanya Netthy penasaran.
Namun, Dara malah melenggang pergi, ia tak sempat menjawab pertanyaan ketiga orang yang menatap nya dengan serius tersebut.
"Dit, gue duluan," Ryan ikut berdiri dari duduknya.
Lelaki itu berjalan menyusul Dara. Dia langsung menggandeng tangan Dara dan menggenggam tangan gadis itu.
"Tuan," Dara terkejut.
"Ayo," senyum Ryan sambil menggandeng tangan Dara dengan senyuman manis nya.
Dara mengangguk dan mengikuti langkah kaki Ryan yang lebar. Jujur saja ia panik. Jantungnya berdegup kencang saat Ryan mengenggam tangannya. Ada debaran yang belum pernah di rasakan Dara.
__ADS_1
Sementara Adit dan Netthy melanjutkan makan nya.
"Kak, ini boleh di habisin 'kan?" seru Netthy sumringah. Kapan lagi coba dapat makanan gratis dari pria tampan sekost?
"Silahkan. Kalau kamu mampu, habisin aja," jawab Adit.
Adit mantap Netthy makan dengan lahap. Dia baru sadar bahwa gadis ini ternyata cantik juga. Meski berisik nya sama saja seperti Cia.
"Kak, kok liatin aku kayak gitu?" Netthy jadi salah tingkah sendiri saat Adit menatap nya dengan senyum. Ini membuat jantung nya berdisko didalam sana.
"Makan itu pelan-pelan," Adit mengambil sebutir nasi yang menempel di bibir Netthy.
"Makasih Kak," Netthy jadi canggung sendiri. Pipi nya bersemu merah. Ia menahan senyum supaya tak terlihat oleh Adit.
"Ayo lanjut makan," ajak Adit.
Setelah makan, Adit mengajak Netthy jalan. Hari ini setelah menyelesaikan laporan proyek nya, ia memiliki waktu santai. Apalagi Delvano tadi pulang duluan.
"Wahh Kak, indah banget pantai nya," seru Netthy. "Biasanya kalau tengah hari ke pantai panas Kak. Tapi ini udaranya sejuk," sambung Netthy terkekeh.
"Ini udah sore Netthy. Bukan tengah hari lagi," sahut Adit terkekeh.
Lalu keduanya diam dan sibuk menikmati mentari sore yang akan menyembunyikan dirinya ditempat peraduan. Jika Adit menatap ke depan sambil menikmati udara segar sore ini. Maka berbeda dengan Netthy yang menatap Adit tak berkedip.
"Kakak ganteng yaa?" goda Adit yang tahu jika Netthy menatap nya.
"Kak," Netthy memalingkan wajahnya menahan malu. Seandainya ia punya keberanian mengungkapkan rasanya pada Adit. Pasti Netthy sudah mengatakan bahwa ia suka Adit.
"Ada yang mau kamu katakan?" ucap Adit melirik Netthy. Karena terlihat gadis itu seperti sedang ingin mengatakan sesuatu.
"Kakak masih suka sama Cia?" tanya Netthy menatap Adit.
Adit menghela nafas panjang. "Suka itu masih ada Neth. Tapi sekarang Kakak mencoba berdamai dengan semuanya. Cia sudah bahagia dengan Tuan Delvano dan Kakak tidak mau menyiksa diri Kakak untuk sesuatu yang tidak pasti," jawab Adit tersenyum kecut.
"Tumben kok nanya itu?" tanya balik Adit melihat Netthy yang menatapnya penuh arti
"Aku suka sama Kakak,"
Bersambung.....
Bagaimana kah tanggapan Adit tentang perasaan Netthy padanya??
Pasti penasaran, sama.. otor juga🤭
__ADS_1