
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Di sebuah ruangan persalinan. Tampak seorang wanita tengah berbaring di atas brangkar dengan keringat yang mengucur di bagian dahi nya. Di samping nya sang suami mengenggam tangan nya dan berusaha menyalurkan kekuatan pada sang istri yang sebentar lagi akan melahirkan buah hati mereka.
"Om sakit, hiks hiks," tangis nya.
"Sabar yaa Sayang. Jangan menangis," ia menyeka air mata sang istri.
"Om, Cia enggak kuat Om. Sakit," renggeknya.
Sang dokter dan perawat hanya tersenyum saja. Apalagi wanita itu merenggek seperti anak kecil dan di tenangkan oleh suaminya yang super duper sabar menghadapi kemanjaan istrinya.
Para dokter sedang menunggu pembukaan sempurna sambil menyiapkan beberapa alat yang akan di gunakan untuk membantu lancarnya persalinan.
"Yang kuat yaaa Sayang," ia mengecup punggung tangan sang istri.
"Nyonya, silahkan Anda bersiap-siap. Sebentar lagi pembukaan sempurna," ucap sang dokter memberitahu agar wanita itu menyiapkan dirinya.
Cia hanya mengangguk. Dia rasanya ingin berteriak sekeras mungkin merasakan sakit yang luar biasa. Air matanya menetes, bukan karena rasa sakit ini. Tapi teringat perjuangan seorang Ibu yang mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anak-anak nya. Namun, sering kali seorang anak menyakiti hati seorang Ibu baik dengan perkataan atau pun perbuatannya.
"Anda siap Nona," sang dokter membuka kaki Cia lebar.
"Om, hiks hiks sakit. Sakit banget Om. Sakit," Cia menangis seperti anak kecil.
"Dok, lakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa sakit istriku," Delvano ikut menangis ketika melihat Cia bersimbah air mata dengan keringat dingin yang mengucur.
"Sakit nya tidak lama Tuan. Setelah bayi-bayi anda keluar, sakit nya akan hilang," jelas dokter sambil tersenyum.
"Aaaaaaaaaaaa,"
Kepala Delvano menjadi sasaran cambakkan Cia. Bahkan baju lelaki itu sampai koyak karena Cia menariknya sangat kuat sebagai penyangga.
"Aw. Aw. Aw Sayang sakit," rintih Delvano.
"Ini semua gara-gara Om yang minta jatah terus setiap malam. Cia jadi sakit begini Om. Cia enggak mau lagi," ditengah kepanikan nya melahirkan wanita itu masih sempat saja berkata vulgar.
"Sayang maafkan aku. Aku tidak bisa menahan diri kalau didekat kamu," sahut Delvano berusaha melepaskan tangan Cia yang mencambak rambutnya.
Sementara dokter dan perawat tersenyum geli. Dari mulai pemeriksaan kandungan dan USG serta melahirkan kedua pasangan ini selalu membuatnya tersenyum gemes karena sikap mereka yang polos dan juga lugu.
"Ayo Nyonya, sedikit lagi!" seru sang dokter.
"Aaaaaaaaaaaa," teriak Cia
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaa," teriak Delvano.
"Owe owe owe owe owe,"
Teriakan sepasang suami istri itu saling bersahutan dengan bayi yang baru saja keluar dari rahim Ibu nya.
Sang dokter memberikan bayi pertama kepada perawat agar segera di bersihkan.
"Ayo Nyonya, selanjutnya," seru sang dokter.
"Dok, kenapa masih ada lagi?" keluh Cia.
"Bayi Anda kembar Nyonya," jawabnya sambil tersenyum.
"Ayo Sayang semangat. Kalau bisa lepaskan tangan mu dari kepala suami mu," ujar Delvano.
"Om," Cia menangis lagi. Rasanya sakit luar biasa.
"Ayo Nyonya, tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan," Cia menuruti yang di ucapkan dokter.
"Aaaaaaaaaaaa,"
"Aaaaaaaaaaaa,"
"Owe owe owe owe owe,"
"Sekali lagi Nyonya," ucap dokter
Cia menarik nafas dalam. Sebenarnya Delvano meminta Cia operasi sesar saja. Tapi istrinya itu tidak mau. Cia ingin merasakan perjuangan seorang Ibu. Ia ingin rasakan bagaimana sakitnya melahirkan? Agar kelak ia bisa mengajari anak-anak nya.
"Aaaaaaaaaaaa," teriak Cia
"Sretttttttttttttttttt," baju yang di pakai Delvano sobek cukup besar.
"Astaga Tuhan," Delvano ingin marah tapi tidak bisa. Ini juga salah nya yang telah membuat istrinya hamil dan kesusahan melahirkan.
"Owe owe owe owe,"
Bayi terakhir keluar. Nafas Cia memburu dan tersengal-sengal. Perjuangan yang tak mudah, melahirkan ketiga bayi kembar secara normal. Rasanya hidup Cia bagai berada di ujung maut.
"Terima kasih Sayang. Aku mencintai mu," Delvano mengecup kening Cia sambil memejamkan matanya. Air mata bahagia menetes dan keluar dari pelupuk mata itu.
"Nyonya, kami akan menjahit area sensitif Anda yang sedikit koyak," ujar sang dokter.
__ADS_1
Cia bergidik ngeri ketika melihat jarum yang cukup besar di keluarkan oleh sang dokter. Ia sudah bayangkan jarum itu menusuk-nusuk anu nya.
"Tahan yaaa Nyonya," ucap nya.
Cia mengigit bibir bawahnya. Beberapa kali wanita itu berteriak kesakitan saat jarum di masukkan untuk menjahit bagian yang sobek didalam sana. Meski di beri obat bius sakit nya tetap saja terasa perih.
Delvano masih tak menyangka, jika gadis yang ia temui di cafe karena insiden Cia menumpahkan jus di jas nya Delvano, membawa keduanya dalam cinta sejati. Jodoh itu terkadang unik, pertemuan yang terjadi seolah takdir yang tak bisa dihindari.
"Ini bayi-bayi Anda Tuan," sang dokter menyerahkan ketiga bayi menggemaskan itu pada Delvano dan Cia.
Mata Delvano kembali berkaca-kaca saat melihat dua putra dan satu putrinya yang terlelap nyaman sambil sedikit mengeliat saat dibungkus lampin.
Begitu juga dengan Cia. Ia menggendong putri kecilnya. Ia sendiri tak percaya di usia 20 tahun, ia sudah memiliki tiga anak kembar sekaligus. Bahkan dulu setelah menikah. Cia tak berminat sama sekali untuk memiliki anak. Ia ingin menunda kehamilan nya. Namun takdir Tuhan malah berkata lain. Ia diberikan anugrah dan kesempatan untuk memiliki tiga anak sekaligus.
"Om," air mata Cia luruh.
"Iya Sayang. Ini anak kita," seru Delvano. "Terima kasih Sayang," ucap Delvano penuh cinta.
Cia mengangguk. Tadi ia sempat menyerah melahirkan ketiga anaknya. Namun saat melihat wajah lucu dan menggemaskan itu, membuat hatinya terenyuh karena bahagia.
"Iya Om. Maaf tadi, Cia hampir nyerah Om. Tapi sekarang Cia tahu perjuangan Ibu. Ntar kalau ketemu Ibu, Cia mau minta maaf," ucapnya terisak.
Delvano terkekeh. Para dokter sedang menyiapkan kepindahan sang istri di ruangan rawat inap.
"Om, udah siapin nama buat mereka?"
Delvano mengangguk. Dia menatap ketiga anaknya dengan penuh cinta.
"Keano Koscielny,"
"Kenzi Koscielny,"
"Kayla Laurent Ellen,"
Ucap Delvano menyebut nama ketiga anaknya yang memang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari.
Cia di pindahkan keruangan rawat inap. Tampak keluarga besar turut hadir dan memberikan selamat atas kelahiran bayi kembar Delvano dan Cia.
Koscielny menatap ketiga cucu nya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika sekarang ia sudah memiliki cucu dari putra yang ia rawat sejak kecil. Delvano paling dekat dengan Koscielny, karena memang sang Ayah yang merawat nya dari bayi hingga dewasa.
"Cucu-cucu ku," gumam lelaki paruh baya itu.
Mungkin Koscielny terlihat tidak menyukai Cia. Namun, jauh didalam lubuk hatinya. Ia bersyukur karena Cia berhasil membuat putranya sembuh dari penyakit aneh yang di derita oleh Delvano sejak kecil.
__ADS_1
Bersambung....