
Happy Reading πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
**Happy Reading π‘π‘π‘π‘π‘π‘π‘π‘**
"Kenapa muke loe Neth?" tanya Natha duduk disamping Netthy.
"Lagi patah hati," jawab Netthy asal.
Natha dan Mella saling senggol-senggolan. Netthy ini sama seperti Cia, dia jarang terlihat murung atau galau kecuali ada sesuatu yang benar-benar tidak bisa ia lepaskan dari pikiran nya.
"Patah hati?" ulang Mella. "Loe putus cinta?" sambung Mella menatap Netthy sambil tersenyum menggoda. Netthy juga gadis yang belum pernah pacaran jadi dia masih polos-polosnya jika berbicara tentang cinta.
Netthy malah merebahkan kepalanya di bahu Mella. Mencintai dalam diam itu ternyata menyakitkan apalagi melihat orang yang dicintai tampak biasa-biasa saja. Tanpa ada rasa untuk membalas cinta dihati.
"Neth, ngomong dong. Loe kenapa? Putus cinta sama siapa? Sejak kapan loe pacaran?" cecar Natha, mode cerewet gadis itu mulai kacau lagi.
Netthy memejamkan matanya. Ia meresapi rasa sakit yang menjalar disana. Mencintai seseorang yang sama sekali tidak pernah menatapnya, seperti sedang membunuh diri di jurang.
"Gue suka sama Kak Adit," jawab Netthy lirih. Setidaknya curhat pada Mella dan Natha lebih baik daripada meminta saran pada Cia yang suka nengejek serta mengolok dirinya.
Natha dan Mella terkejut. Lalu kedua gadis itu saling melihat ketika mendengar jawaban Netthy.
"Ternyata cinta sama orang yang enggak cinta sama kita itu sakitnya tuhh disini," Netthy menunjuk dadanya.
Mella menggaruk tengkuknya. Seperti nya untuk mendapatkan cinta Adit tidak mudah karena lelaki itu masih terjebak tentang cinta di masa lalu nya.
"Loe cinta banget sama Kak Adit?" tanya Mella memastikan. "Gue bukan nyuruh loe down sihh Neth. Mending loe nyerah aja deh, loe tahu kan Kak Adit itu enggak bakal buka hati buat loe. Lagian loe mau punya mertua kayak Bu Zaenab?" lalu Mella tertawa lebar. "Loe harus siapin mental buat ngadepin Ibu mertua killer kayak Bu Zaenab," seru Mella.
"Gue lagi enggak mau bercanda," ketus Netthy.
Natha terlihat menghela nafas panjang. Bukan dia tak tahu jika Netthy menyukai Adit. Hanya saja dia tidak mau tahu karena ia yakin suatu saat Netthy akan mengatakan sendiri jika kalau ia menyukai laki-laki tersebut.
"Ya gue juga serius," jawab Mella.
__ADS_1
"Neth, kalau loe benar-benar sayang sama Kak Adit, loe masih bisa berjuang kok. Loe masih punya kesempatan buat lulihin hati nya dia," ucap Natha menepuk pundak Netthy. "Gue dukung loe," sambil meremas bahu Netty.
Mella juga mengangguk setuju. Lagian Adit dan Netthy tampak cocok. Netthy juga cantik meski hampir sebelas dua belas dengan Cia.
"Tapi Kak Adit masih mikirin Cia," Netthy sudah pesimis duluan. "Mana mungkin gue bisa geser posisi Cia di hati Kak Adit," ungkapnya tersenyum kecut.
Cia adalah gadis cerdas dan menarik. Hidupnya selalu saja beruntung. Ia di kelilingi orang-orang baik. Sifat ceria dan bawel itu menjadikan dia salah satu wanita yang banyak di incar oleh kaum adam. Lihatlah sekarang dia bahkan di nikahi oleh putra mahkota terkaya dan terkenal di Ibukota dan sebentar lagi, mereka akan dikaruniai seorang anak.
Lalu Netthy, dia bukan apa-apa di bandingkan Cia. Bahkan di lihat dari sisi mana pun dia tidak akan setara dengan wanita cantik seperti Cia. Bagaimana Netthy tak pesimis.
"Cinta itu butuh perjuangan Neth. Gue yakin sih kalau loe emang perjuangin cinta loe ke Kak Adit. Dia bakal buka hatinya buat loe," ucap Natha menyemangati.
.
.
.
"Oh iya terima kasih. Berikan pada asisten saya," sahut Delvano dingin. Dia takkan lupa jika Adit adalah lelaki yang pernah menaruh rasa pada istrinya
"Okhhy, kamu handle semua meeting. Kalau ada yang mau di tanda tangani kamu kumpulkan saja di meja saya. Saya mau pulang duluan," ucap Delvano berpamitan. Tanpa menunggu jawaban Okhhy lelaki itu keluar dari ruangannya dengan langkah lebar.
Sejak Cia hamil dan mengandung anaknya. Delvano selalu pulang cepat. Sebenarnya dia tidak ingin bekerja, namun masih banyak proyek kerja sama yang harus dia selesaikan.
Adit duduk di meja kerjanya. Dia menjadi manager proyek yang menangani infrastruktur pembangunan. Dia seorang arsitek dan bagian desain.
"Huffhhh," lelaki itu menghela nafas panjang. "Pasti hidup Tuan Delvano berwarna sejak menikah dengan Cia," masih saja dia mengenang Cia yang sudah jadi milik orang lain.
Adit hanya mampu mencintai wanita itu dalam diam tanpa berani mengungkapkan perasaan nya. Dia takut patah hati ditolak oleh Cia. Namun sekarang dia lebih patah hati saat gadis itu dinikahi oleh pria lain yang tentunya lebih baik dari dirinya.
Adit keluar dari ruangannya. Langkah lekaki itu lebar menelusuri koridor perusahaan. Sejak pindah ke Jakarta dia tidak pernah lagi bertemu Cia. Karena Delvano sama sekali tak mengizinkan istrinya keluar rumah tanpa dirinya.
Adit masuk kedalam mobil nya. Hidupnya selalu datar setelah Cia menikah. Entahlah, Cia seperti magnet yang mampu menarik nya masuk kedalam dunia yang penuh warna. Namun begitu pula sejak wanita itu menikah. Dia bagai tak memiliki gairah untuk hidup kembali.
__ADS_1
"Bukannya itu Netthy?" gumam Adit saat melihat Netthy berjalan sendirian di trotoar jalan sambil menendang-nendang sampah yang ada didepannya.
Adit menepikan mobilnya. Lelaki itu turun dari mobil.
"Neth,"
Netthy terdiam sejenak. Kenapa seperti suara Adit? Apa dia sedang berhalusinasi karena memikirkan lelaki itu?
"Ehhh Kak Adit?" Netthy mengucek matanya.
"Neth, kamu ngapain kok jalan sendirian?" tanya Adit.
Netthy menggaruk tengkuknya. "Lagi cari keringat Kak," jawab Netthy asal. Padahal dia memang sengaja menyendiri agar perasaan nya tak kacau.
Adit tersenyum lucu. Netthy ini sedikit mengingatkan nya pada Cia. Sifat mereka tidak jauh beda. Hanya saja Netthy tidak membuat orang baik darah seperti Cia.
"Udah makan siang?" ucap Adit. "Kamu kepanasan," lelaki itu membuka jas nya lalu memasangkannya di tubuh Netthy.
Jantung Netthy berdisko didalam sana. Adit ini selalu bisa membuat semua wanita terbawa perasaan karena sikap lemah lembutnya. Termasuk Netthy. Namun Netthy sadar untuk tidak berharap lebih pada Adit. Adit baik padanya bukan karena suka tapi karena kasihan sebagai seorang Kakak.
"Makan siang yukk," ajak Adit.
"Ehh siapa yang bayarin? Netthy belum ada uang Kak, belum dikirim sama Bapak," ucap Netthy malu-malu.
"Kakak yang bayar. Kamu tenang aja. Ayo," ajak Adit.
"Gaskeeeunnnnnnn Kak,"
Prinsip Netthy sama seperti Cia, kalau ada makan gratis jangan di tolak itu lah rejeki anak Sholeh.
Keduanya masuk kedalam mobil. Senyum mengembang di wajah Netthy. Gadis itu tampak bahagia karena Adit mengajak nya makan siang. Kapan lagi coba di ajak mana dan ditraktir lelaki tampan dan kece badai seperti Adit?
Bersambung...
__ADS_1