
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺 🌺**
"Sayang udah siap?" tanya Delvano masuk ke dalam kamar.
"Bentar lagi Om. Cia lagi nyusui Keano," jawab Cia.
Delvano duduk dibibir ranjang. Ia tersenyum melihat istri yang begitu telaten menyusui putra sulungnya.
"Ayo Om," ajak Cia.
Delvano mendorong dua box bayi kedua putranya. Sementara Cia menggendong putri kecilnya yang memasuki usia lima bulan. Bayi-bayi itu tampak lucu dan menggemaskan seperti bayi yang berusia satu tahun. Bahkan mereka tampak mengerti saat di ajak berbicara layaknya orang dewasa pada umumnya.
Malam ini adalah acara besar dan syukuran untuk menyambut bayi kembar Delvano dan Cia. Harusnya dirayakan saat pertama kali ketiga bayi itu lahir. Namun, karena kondisi Koscielny yang kurang sehat jadi dia meminta Delvano untuk mengundur acaranya.
Tampak orang-orang telah berdatangan untuk menghadiri cucu pertama keluarga Koscielny tersebut.
Teman-teman Cia dan rekan bisnis Delvano turut hadir. Orang tua Cia juga datang dari kampung untuk sekedar memberikan ucapan selamat atas kelahiran cucu mereka.
"Hai cucu nya Nenek," Lenny menciumi wajah Kayla dengan gemes.
"Cantik 'kan Bu kayak Cia," celetuk Cia.
"Ehem," Bernadus berdehem. "Kalau dia mirip kamu yang ada bukan nya cantik. Tapi suka bikin orang naik darah," ucap Bernadus menatap putrinya kesal.
Mereka hanya tersenyum sambil menggeleng saat mendengar perdebatan antara ayah dan anak tersebut.
Ketiga anak kembar Cia menjadi rebutan para teman-teman dan keluarga. Apalagi anak-anak itu sungguh imut dan menggemaskan.
"Cia boleh Kakak gendong?" pinta Sri. Hubungan Sri dan Dave sudah membaik bahkan sekarang Sri menggandung anak dari suaminya itu.
"Nihh Kak gendong. Hati-hati Kak. Susah bikinnya," celetuk Cia memberikan putri kecilnya pada Sri.
"Sayang," Delvano mendesah. Cia kalau bicara suka tidak tahu tempat.
"Lah emang kenapa Om? Kan emang benar bikin nya itu pake keringat," jawab Cia tanpa dosa.
Mereka semuanya terkekeh. Sementara Delvano mendengus kesal. Lelaki itu mengerutu beberapa kali, namun tidak bisa marah. Sudah resiko nya mencintai wanita polos seperti Cia.
Koscielny dan Bernadus tampak menggendong kedua cucu lelakinya. Sejak kelahiran ketiga cucu nya, Koscielny mulai berdamai dan menerima Cia sebagai menantu nya. Bahkan dia sangat menyanyangi menantunya itu. Meski sering membuat kesal dan naik darah. Namun, ia perbanyak sabar dan memaklumi sifat Cia yang masih kekanak-kanakan.
"Om," bisik Netthy ditelinga Devan.
"Kenapa?" tanya Devan melirik gadis itu.
Devan duduk menepi dari keluarga nya. Ia merasa malu atas kegagalan dalam rumah tangganya. Lihatlah kedua saudara nya sangat bahagia, sementara ia tak mampu mempertahankan rumah tangga yang ia bina selama beberapa bulan ini.
__ADS_1
"Enggak pengen Om?" Netthy menahan tawa.
"Pengen apa?" Devan melirik Netthy dengan penuh tanda tanya. Entah kenapa malam ini gadis itu tiba-tiba cantik di matanya? Biasa nya juga Netthy tidak pernah berpenampilan secantik ini.
"Pengen punya baby kayak Om Delvan sama Cia, Om," jelas Netthy.
Gadis itu duduk disamping Devan. Bibir nya tampak menggerecut seperti sedang berpikir keras. Dia juga ingin bahagia seperti Cia. Namun, apalah daya ia tak mampu menggapai cinta yang ingin ia miliki itu.
"Kenapa kamu?" tanya Devan heran ketika Netthy hanya diam saja.
"Nasib kita sama yaa Om," ucap Netthy. "Padahal Netthy itu pengen banget nikah sama orang yang sama Netthy, kayak Om Delvan sayang sama Cia. Tapi...," terdengar helaan nafas panjang, "Netthy malah ditinggalin gitu aja," ucapnya sendu.
Devan tersenyum tipis. Lucu sekali gadis ini. Sejak pertemuan mereka ditaman kemarin, mereka jadi akrab dan saling menyambung saat berbicara satu sama lain.
"Curhat cerita nya?" goda Devan terkekeh.
"Enggak, lagi cerita," ketus Netthy sambil mencomot makanan diatas meja.
"Ehhh Neth,"
Hendro dan Mella serta Rodi dan Natha, mereka adalah pasangan anak remaja yang tengah mabuk asmara cinta.
Netthy memutar bola matanya malas. Hanya dia saja yang tidak memiliki pasangan. Bagaimana ia tak minder? Adit pergi disaat yang tidak tepat. Membuat ia semakin kesal saja.
"Apa?" ketus Netthy malas.
Devan menjawab dengan anggukan. Keempat orang tersebut bergabung dengan dan ikut duduk di meja VVIP.
.
.
.
.
Setelah acara panjang yang cukup selesai. Delvano membawa istri dan ketiga anaknya masuk kedalam kamar. Kasihan Cia tampak kelelahan.
"Capek?" tanya Delvano saat Cia duduk dibibir ranjang. Untung saja ketiga anak nya itu tidak rewel dan mereka sudah tertidur dengan nyaman.
"Capek banget Om," keluh Cia. "Ngantuk juga." Wanita itu menguap beberapa kali.
"Ya udah Sayang. Ganti baju terus cuci muka sama gosok gigi dulu!" perintah Delvano.
"Iya Om," Cia mengangguk. Sebenarnya dia sudah sangat lelah. Apalagi banyak tamu yang datang dan memberikan ucapan selamat atas kelahiran tiga bayi nya.
__ADS_1
"Biar aku gendong Sayang,"
Belum sempat Cia turun dari ranjang lelaki itu sudah menggendong istrinya. Cia sontak memeluk leher Delvano karena terkejut.
"Om," renggek wanita itu. "Ngagetin aja deh, Cia kan jadi tersangka," protes Cia.
"Terkejut Sayang, bukan tersangka," ralat Delvano sambil geleng-geleng kepala.
"Iya itu maksudnya," jawab Cia cengeng sambil memeluk leher suaminya.
Mereka serasa baru menikah. Padahal pernikahan mereka sudah berlangsung setahun lebih. Namun keromantisan dua pasangan polos itu malah membuat orang gemes sendiri dengan ucapan dan tingkah mereka.
"Om," panggil Cia.
"Sayang, bisa tidak jangan panggil aku Om. Aku ini suami kamu. Bukan Om-om," protes Delvano sambil meletakkan istri ya di wastafel kamar mandi mereka.
"Terus Cia harus panggil apa Om? Cia udah kebiasaan manggil Om dengan panggil Om," jelas Cia.
"Terserah asal jangan Om," ketus Delvano.
Mereka pernah di kita paman dan keponakan gara-gara ulah Cia yang memangil suaminya dengan panggilan tersenyum sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Gimana kalau Cia panggil Om dengan panggilan.....," wanita itu menggetuk-ngetukkan jari telunjuk nya diujung pelipis seolah sedang berpikir keras
"Hubby aja, gimana Om?" ucap Cia menarik turunkan alisnya.
Delvano melipat bibirnya menahan senyum. Panggilan sederhana, namun sangat manis didengar Delvano membuat ia salah tingkah sendiri.
"Om enggak suka?" tanya Cia heran karena suami nya hanya diam saja.
Wajah Delvano langsung masam, "Ck, tadi katanya mau panggil Hubby. Kenapa sekarang malah panggil Om?" protes Delvano
"Maaf Hubby, Cia lupa,"
"Kamu yaaa,"
Delvano menghujani wajah Cia dengan banyak ciuman. Dia gemes sendiri mendengar ucapan istrinya yang diluar polos batas manusia itu.
"Hahah.. ampun Om. Ampun....," Cia tertawa lepas.
"Sekali lagi kamu panggil aku Om, aku tidak akan mengeluarkan mu dari kamar," ancam Delvano yang masih menghujani wajah Cia dengan ciuman bertubi-tubi.
"Hahha iya Hubby. Iya iya. Cia berobat,"
"Bertobat," ralat Delvano cepat.
__ADS_1
Bersambung....