Istri Tuan Muda Delvano

Istri Tuan Muda Delvano
Kembali ke kota


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Suruh Okkhy aja yang beresin," cegah Delvano saat Cia memasukkan beberapa barang-barang nya kedalam koper miliknya.


"Ck, enggak boleh gitu Om. Kata Bapak selama kita bisa kerjakan sendiri. Jangan bergantung sama orang lain, entar malah digantungin lagi," seloroh gadis itu sambil menutup koper milik Delvano.


Hari ini mereka berdua akan kembali ke kota. Sudah seminggu lamanya mereka berada dikampung Cia untuk mengurus persiapan pernikahan mereka. Belum lagi menikah adat. Meski zaman sudah moderen kampung Cia tetap kental dengan adat istiadat nenek moyang. Jadi dalam prosesi pernikahan pun juga masih di kandung oleh adat istiadat ditempat tersebut.


Delvano tersenyum melihat Cia yang mengemaskan barang-barang mereka berdua. Sejak menginap disini, Delvano tidur di kamar Cia. Rumah Cia tidak memiliki kamar tamu. Sementara Okkhy tidur dengan Dhanny karena Delvano tidak bisa bersentuhan dengan orang lain terlalu dekat meski pun itu laki-laki dan Cia tidur dengan Lenny sedangkan Bernadus tidur di sofa.


"Enggak capek?" Delvano menyeka keringat Cia.


"Enggak Om," gadis itu malah tersenyum. "Ohh ya Om, beneran sampai kota nanti kita langsung nikah?" Tanya Cia penasaran dia duduk dibibir ranjang nya.


Kamar Cia tidak besar namun nyaman dan barang-barang nya tertata rapih. Piala Cia berjejer, piala lomba saat dia duduk dibangku sekolah menengah atas. Gadis itu memang suka mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat lomba sehingga tak heran jika banyak piala dan sertifikat tertata rapi di kamar kecil miliknya.


Delvano mengangguk dengan tersenyum. Apalagi melihat Cia yang tampak gusar. Entahlah, Delvano tak bermaksud memaksa Cia menjadi istrinya. Dia sudah terlanjur jatuh kedalam pelukan gadis itu dan Delvano takkan rela jika dirinya lambat Cia malah di rebut oleh pria lain. Apalagi gadis ini unik dan menggemaskan serta lucu pasti banyak sekali lelaki yang suka menggoda Cia.


"Kenapa?" Tanya Delvano melihat kegusaran diwajah Cia.


"Yah, beneran dong sebentar lagi Cia jadi istri?" Bibirnya menggerecut. "Tapi Om, Cia belum tahu gimana jadi istri, Om? Emang Om enggak kesal kalau Cia enggak paham?" Tanyanya dengan mengerjab-ngerjabkan matanya.


"Kamu ini bahas itu terus," tangan Delvano terulur menyingkirkan anak rambut Cia. "Nanti kamu bisa belajar jadi istri. Makanya kamu jangan manja-manja," lontar Delvano sambil terkekeh pelan.


Cia mengangguk seolah paham. "Emang kalau udah jadi istri enggak boleh manja ya Om? Tapi kata Bapak suami itu harus manjain istri. Lihat tuhh Bapak selalu manjain Ibu meski tiap hari mereka berantem dikasur," celoteh Cia. "Cia enggak ngerti Om kenapa Bapak sama Ibu milihnya berantem dikasur. Malam hari lagi. Pas Cia tanya Ibu, malah Bapak yang disemprot," jelas Cia dengan wajah polosnya tak lupa ekspresi nya yang bingung seolah tidak tahu apa-apa.


Tawa Delvano pecah. Lelaki itu tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya. Entahlah, Cia ini antara polos dan bodoh. Bernadus juga sudah tahu anak perempuan nya masih belum paham masalah hubungan suami istri masih saja dijelaskan yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Om kok ketawa sih? Cia kan lagi curhat," gadis itu kesal sambil melihat kedua tangannya didada.


Delvano menyeka air matanya yang keluar akibat tertawa terlalu kencang. Sumpah demi Tuhan gadis ini benar-benar lucu, ahhh Delvano semakin tak sabar menikahi Cia. Pasti hari-hari nya akan berwarna. Meski nanti mungkin kesabaran nya akan di uji. Tapi tak masalah karena baginya menjadi suami Cia adalah keberuntungan.


"Kamu itu....." Delvano geleng-geleng kepala. "Entar kalau udah nikah kamu akan tahu apa yang di maksud Bapak kamu. Awas aja kalau kamu keluar kamar pas malam pertama kita. Saya pindahin kamu ke planet Pluto," ancam Delvano.


"Emang Cia bisa dipindahin disana Om. Bukannya di planet Pluto itu enggak ada kehidupan. Bahkan menurut rumor Om, planet itu udah enggak terdaftar lagi dalam tata Surya karena letaknya yang terlalu jauh dari matahari," jelas Cia masih mengingat pelajaran dia waktu duduk dibangku sekolah dasar ini.


Delvano mendengus kesal. Padahal niat hatinya ingin bercanda ehh gadis ini malah menanggapi nya serius.


"Tahu ahhh ngomong sama kamu lama-lama buat saya stress," Delvano merajuk sambil melipat kedua tangannya didada.


"Emang kenapa Om? Yang di bilang Cia kan benar Om," gadis itu malah terlihat santai sambil memasukkan beberapa barangnya kedalam tas.


Delvano tak menanggapi dia malah kesal setengah mati. Cia ini seperti bukan penghuni bumi saja. Terlalu polos dan suka bikin kesal.


"Biar saya yang bawa," Delvano langsung mengambil alih tas dan koper ditangan Cia.


"Emang Om bisa bawa sekali dua gitu?" Kening Cia berkerut heran.


Koper Delvano sangat besar, dia seperti mau pindahan saja padahal menginap hanya satu minggu tapi barang yang dia bawa sangat banyak. Sebab lelaki itu sangat ribet dan bersihan jadi Delvano lebih memilih repot dari pada dirinya risih.


"Kamu remehin kemampuan saya?" Delvano menatap Cia tajam


Cia menggeleng dengan cepat. "Cia enggak ngomong gitu kok Om. Kan Cia cuma tanya emang Om bisa bawa sekali dua gitu?" Ucap Cia mengulang pertanyaan nya.


"Itu sama aja," ketus Delvano.

__ADS_1


"Sama darimana Om? Om sih sensian amat kayak cewek lagi PMS aja," cibir Cia.


"Udahh ah ayo. Kamu itu bikin kepala saya pusing aja," omel Delvano sambil keluar dari kamar dengan tangannya yang membawa koper nya dan tas Cia.


Sedangkan Cia menghentakkan kakinya kesal. Belum juga jadi pasangan suami istri keduanya sudah berdebar terus.


"Cia hati-hati ya Nak. Kalau sampai kota jangan lupa hubungi Ibu," Lenny memeluk putri nya itu.


"Hiks Bu, Cia masih kangen sama Ibu," renggek Cia manja membalas pelukan Lenny.


Lenny tersenyum hangat. Putri nya ini memang manja sekali. Tapi Lenny bersyukur meski manja Cia masih sanggup berjauhan dengan dirinya dan tinggal sendirian di kota besar itu.


"Nanti juga pas nikahan kamu ketemu lagi," Lenny mengusap rambut putrinya. Cia melepaskan pelukan sang Ibu dan mengangguk.


"Bapak." Cia berhambur memeluk Bernadus.


"Hati-hati dijalan. Jaga diri baik-baik. Jangan nakal. Nurut sama calon suami," pesan Bernadus. "Kamu itu jangan manja-manja lagi, ingat bentar lagi jadi istri orang," nasehat Bernadus.


Cia melepaskan pelukan nya. "Emang kalau udah jadi istri enggak boleh manja ya Pak? Om Delvano juga bilang gitu tadi," ujar Cia


"Ya enggak boleh. Kamu harus dewasa dan mandiri. Ingat pesan Bapak harus...."


"Nurut sama yang lebih tua," sambung Cia.


Delvano mendengus kesal ketika Cia mengatakan nurut pada yang lebih tua. Perasaan dia tidak setua itu.


**Bersambung....

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa gaessss**..


__ADS_2