
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Delvano merenggut kesal. Ketika bayi laki-laki nya menghisap ASI Cia. Lelaki itu terus mengomel.
"Om, kenapa sih?" tanya Cia heran melihat wajah suaminya yang cemberut begitu.
"Sayang kenapa mereka tidak minum susu formula saja sih?" protes Delvano.
"Yaellah Om, 'kan Cia Ibu mereka yaaa wajar dong mereka minum susu nya Cia. Formula itu lain lagi Om. Punya Cia lebih sehat kok," ucap Cia tak habis pikir dengan suami nya ini.
"Sayang punya mu itu milikku. Aku tidak ikhlas," renggek Delvano. Jiwa cemburu laki-laki itu tak berubah sama sekali. Meski itu anaknya sendiri tetap saja ia cemburu.
Cia mendelik sambil geleng-geleng kepala. "Om itu juga setiap malam hisap-hisap masih aja belum puas," gerutu Cia memutar bola matanya malas.
"Kamu kan milikku Sayang," jawab Delvano.
Delvano menatap kedua putra nya yang masih berbentuk bayi itu dengan jenggah. Andai mereka sudah berusia pasti ia akan mengajak keduanya bakh hantam sampai babak belur.
Cia masih menyusui ketiga anaknya secara bergantian. Sejak melahirkan dan menyusui tiga anak sekaligus, nafsu makan Cia semakin bertambah. Namun, aneh nya tubuh nya tetap ideal dan tidak gemuk apalagi berlebihan lemak. Pesona kecantikan nya semakin bertambah, bagaimana Delvano tidak cemburu.
Jiwa kecemburuan Delvano semakin bertambah. Ia mulai panik jika ketiga anaknya itu nanti tumbuh dewasa. Apalagi kedua putranya pasti mereka akan tampan. Usia Cia juga masih muda. Bisa saja kan banyak yang mengira jika Cia bukan Ibu dari mereka.
"Sini Sayang, biar aku yang gendong," Delvano mengambil alih bayi lelakinya.
Delvano mengambil putra sulungnya digendongan Cia. Dalam hati ia menatap putra nya itu tajam seolah mengajak baku hantam.
'Awas saja kalau sudah besar nanti kamu merebut Mommy dari Daddy, akan Daddy coret kamu dalam kartu keluarga,' ancam nya dalam hati.
Keano kecil malah tertawa melihat ekspresi lucu sang ayah. Bayi berusia dua bulan itu seperti sudah mengerti apa yang di ucapkan oleh ayah nya yang memiliki jiwa posesif luar biasa.
Setelah menyusui ketiga anaknya bergantian. Cia meletakkan bayi-bayi itu kedalam box nya karena sudah malam dan dia mengantuk
"Tidur duluan saja Sayang. Biar aku yang jaga mereka," ucap Delvano. Ia kasihan menatap istrinya yang tampak kelelahan.
"Emang Om enggak ngantuk?" tanya Cia sambil menguap beberapa kali.
__ADS_1
"Tidak Sayang," senyum Delvano hangat.
"Ya udah Om. Cia tidur duluan yaaa. Om jangan hisap-hisap Cia malam ini. Cia capek Om," sambil memijit-mijit bahu nya.
Delvano terkekeh. Cia belum bisa melakukan hubungan suami istri setelah melahirkan selama dua bulan. Meski dokter tidak mengatakan hal tersebut. Namun, Delvano tidak mau egois. Dan dia hanya main hisap-hisap saja untuk menuntaskan hasratnya ia akan menidurkan adiknya itu di kamar mandi.
"Iya Sayang. Mau aku pijitin?" tawar Delvano.
"Boleh Om," Cia naik keatas ranjang dan diikuti oleh Delvano.
"Capek yaaa?" Delvano kasihan sendiri melihat perjuangan istrinya. Tidur tengah malam dan kadang terbangun saat ketiga anaknya menangis ingin ASI. Apalagi ketiga bayi itu tidak mau minum susu formula.
Delvano menjadi suami yang siaga menemani Cia setiap malam. Mereka berdua saling membantu dalam merawat ketiga bayi nya tanpa bantuan babysiter.
Cia wanita muda yang sudah menjadi seorang ibu dari tiga orang anak. Awalnya ia tampak kaku dan banyak mengeluh. Namun, ketika ia jalani dengan ikhlas dan sabar akhirnya ia bisa menjalankan perannya sebagai Mama Muda.
Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut Cia. Delvano menatap istrinya sambil tersenyum. Ia tahu menjadi seorang Ibu bukan lah hal yang mudah. Banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus di lewati.
"Terima kasih Sayang sudah hadir di hidupku. Maaf belum bisa membuatmu dan anak-anak bahagia. Kalian berempat adalah harta paling berharga dalam hidupku." Delvano mengecup kening istrinya dengan sayang lalu menyelimuti tubuh wanita itu.
.
.
.
"Ya ampun Cia, bayi-bayi loe unyu banget sihhh!" seru Netthy benar-benar gemes melihat ketiga bayi Cia.
Cia mengeluarkan segala jurus merayu suaminya agar memperbolehkan ketiga sahabat nya bermain menemui anak-anak nya. Meski harus melewati beberapa perdebatan singkat dan alhasil Delvano mengomel lagi akibat tingkah Cia yang masih seperti anak kecil.
"Makanya loe nikah sama Kak Adit, biar bisa punya anak kayak gue," celetuk Cia.
"Idih, loe pikir nikah itu gampang apa?" Netthy memutar bola matanya malas.
Netthy menggendong Keano. Natha menggendong Kenzie dan Mella menggendong Kayla. Ketiga gadis itu tampak bahagia saat melihat bayi-bayi Cia.
__ADS_1
"Ya gampang lah Mel. Nikah aja ntar juga loe ketagihan malam pertama," Cia menutup mulutnya menahan tawa saat melihat wajah ketiga sahabat nya.
"Kagak usah cerita malam pertama segala," ketus Mella.
"Hati-hati anak gue Mel. Jangan sampai lehernya keseleo gara-gara loe yang enggak bisa gendong anak gue. Bikin nya enak, ngeluarin nya sakit," ucap Cia.
Ketiga gadis itu mendelik mendengar bahasa vulgar Cia. Sudah memiliki anak saja wanita ini bicara asal keluar seperti kentut. Untung Delvano sedang kekantor, jika pria itu mendengar ucapan istrinya pastilah ia akan mengomel sepanjang rel kereta api.
"Ohh ya Cia. Gimana skripsi loe?" tanya Natha
"Rebes itu. Udah kelar semua. Cuma nunggu panggilan buat sidang aja," jawab Cia.
"Enak punya otak encer. Apalagi punya modal," sindir Mella.
"Makanya nikah sama orang kaya. Kali aja nasib loe sama kayak gue," Cia ngakak. Ia pun tak menyangka pernikahan nya dan Delvano akan awet sampai memiliki anak. Bahkan ia tak pernah membayangkan menjadi istri dari lelaki itu.
"Nasib orang beda-beda Cia," sambung Natha
"Emang loe dengar gue bilang sama?" seru Cia sambil memperbaiki topi putrinya yang berada di gendongan Mella.
"Ya enggak," jawab Natha malas. Berbicara dengan Cia sama saja membuat tensi naik.
"Makanya jangan suhuzon sama gue. Gini-gini yaa gue udah sukses dari pada loe bertiga," celetuk Cia memuji dirinya dengan bangga.
"Sukses dari mana?" tanya Mella, Netthy dan Natha secara bersamaan
"Noh, hasil kerja keras gue tiap malam sama Om Suami," sambil menunjuk ketiga anaknya lalu ia tertawa lagi seperti orang gila.
Lagi-lagi Mella, Netthy dan Natha di buat kelas oleh ucapan Cia. Untung mereka menyanyangi wanita anak tiga ini, kalau tidak ingin rasanya mereka lempar Cia ke gunung merapi.
"Ehh Neneth, gimana hubungan loe sama Kak Adit?" tanya Cia. "Cieee yang udah jadian," ledek nya. "Mulai sekarang loe harus belajar nyiapin stok kesabaran banyak-banyak. Sebelum Bu Gempal neriakin telinga loe tiap pagi," seru Cia.
"Gue enggak kayak loe yang suka tidur kesiangan dan buat banyak kasus," sindir Netthy.
Cia terkekeh. Meski kini ia bukan lagi penghuni kost tapi namanya legend dikalangan para penghuni. Terutama para penghuni yang lama masih saja mengenang kelakukan Cia sehingga membuat penghuni baru penasaran pada sosok yang mereka sebut gadis menyebalkan.
__ADS_1
Bersambung...