
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
"Devan," panggil Wenny.
Langkah kaki Devan terhenti saat ia hendak keluar dari kamar. Lelaki itu terdiam saat sang istri memeluknya dari belakang.
"Maafin aku Devan. Maafin aku," ucap Wenny menyesal sambil terisak memeluk suaminya.
Devan masih terdiam. Ia tidak mencintai istrinya. Tapi saat tahu bahwa istrinya menggandung anak dari pria lain. Hatinya sakit dan teriris-iris.
Devan melepaskan pelukkan Wenny. Ia berbalik menatap wajah wanita yang sudah menjadi istrinya kurang lebih hampir setahun. Selama ini dia memang tidak pernah menyentuh Wenny. Bukan karena Devan tidak mau. Dia hanya ingin menyentuh Wenny ketika ia sudah mencintai wanita itu.
"Sampai bertemu dipengadilan, Wen," ucap Devan. "Kamu bisa kemasi barang-barang kamu. Aku akan menemui kedua orang tua mu untuk membicarakan perceraian kita," ucap Devan.
Setelah berkata demikian lelaki itu berjalan keluar dari kamarnya. Ternyata dikhianati memang sangat sakit dan membuat seluruh jiwa terasa perih.
Wenny terduduk di bibir ranjang. Wanita itu menangis dengan hebat sambil memukul-mukul perutnya. Ia tak menyangka jika cinta yang ia lewati satu malam menghasilkan benih didalam rahimnya.
Wenny adalah wanita normal yang merindukan sentuhan seorang suami. Namun, Devan tidak pernah menyentuhnya. Suaminya itu selalu saja menolak ketika dia meminta nafkah batin sebagai seorang istri. Dan tak sengaja karena depresi Wenny minum di bar sehingga ia berakhir dengan tidur bersama pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Ia hamil tapi bukan anak suaminya. Kehamilan nya hadir saat Devan mulai membuka hati untuk nya. Apa hidupnya akan terus begini tanpa merasakan kebahagiaan? Ia juga ingin seperti Cia yang dicintai oleh seorang suami.
"Hiks hiks hiks," tangis Wenny semakin pecah memenuhi ruangan kamar yang sebentar lagi akan menjadi kenangan.
Wanita itu bangkit sambil mengambil kopernya. Ia memasukkan beberapa barang penting kedalam koper tersebut. Ia tak hanya di usir dari rumah suaminya tapi namanya juga di coret oleh keluarga nya sendiri karena beranggapan jika dia wanita tidak benar. Kabar kehamilan Wenny telah tersebar dan dia tak bisa lagi mengelak atau bersembunyi.
"Devan, maafin aku. Maaf. Aku bukan istri yang baik buat kamu. Semoga kamu bahagia Devan. Aku mencintai kamu," lirih Wenny mengusap foto pernikahan mereka.
Andai Devan tahu jika Wenny sangat mencintai nya. Ia bahkan rela melakukan apa saja demi lelaki itu. Namun, seperti nya Devan memang bukan jodohnya. Lihat saja dia sudah berjuang setengah mati tapi ia harus di hancurkan oleh satu kenyataan yang membuat hidupnya terasa pahit.
Tok tok tok tok
Suara pintu berbunyi saat ada seseorang yang mengetuknya diluar. Wenny berdiri dan berjalan kearah pintu, ia berharap jika uang mengetok pintu adalah Devan, suaminya
Wenny membuka pintu. Wajahnya langsung berubah saat melihat siapa yang ada didepan pintu.
__ADS_1
"Ngapain kamu disini?" tanya Wenny tak suka sambil melipat kedua tangan didadanya.
"Yaellah Kak. Suruh dulu kek Cia nya masuk," protes Cia. Ya wanita itu adalah Cia yang membawa nampan berisi makanan.
Cia menyelonong masuk kedalam kamar Wenny.
"Kamu ngetawain aku juga? Mau bilang aku wanita murahan juga?" hardik Wenny. Semua orang membencinya dan menuduh dia wanita tidak baik.
"Emang Kakak tahu kalau Cia bilang Kakak murahan?" ketus Cia. Wanita itu duduk dibibir ranjang sambil makan dengan lahap.
"Jadi kamu bukan mau bawain aku?" Wenny merenggut kesal dari semalam dia belum makan karena dia malu untuk keluar. Apalagi tatapan tak suka dan introgasi dari semua keluarga padanya membuat ia minder.
"Tadinya mau bawain Kakak. Tapi karena Kakak lagi marah-marah yaa udah Cia makan aja," celetuk Cia. Sejak melahirkan nafsu makan nya bertambah karena dia harus menyusui tiga anak kembar sekaligus.
Wenny duduk dibibir ranjang menyusul Cia. Wanita itu langsung merebut piring Cia dan makan dengan lahap.
Cia terkekeh geli. Dia kasihan melihat Wenny. Semua orang membenci nya dan bahkan ia diusir dari rumah oleh mertuanya sendiri.
"Lapar yaaa Kak?" sindir Cia.
Wenny benar-benar sangat lapar. Sejak semalam tidak makan. Apalagi dia sedang mengandung dan selalu ingin makan yang aneh-aneh. Namun, ia justru di ingatkan oleh satu hal bahwa setelah ini ia akan kehilangan segalanya.
"Kenyang Kak?"
"Ehem," Wenny berdehem lalu menunggak air dalam gelas yang di bawa Cia hingga tandas.
"Kakak udah mau pergi?" Cia melirik koper Wenny.
Wajah Wenny kembali sendu. Namun, siapa yang bisa menolong nya. Ia ceritakan pun kronologi kejadian tersebut takkan membuat orang percaya padanya.
"Iya," ketus Wenny. Wanita itu memalingkan wajahnya. Takut jika Cia melihatnya dan ketahuan bahwa dia baru saja menangis.
"Sabar yaa Kak," Cia menepuk bahu Wenny. "Orang sabar itu pasti kesal," sambung nya.
"Kamu...." Wenny menatap Cia tajam. "Keluar kamu sana," usir nya.
__ADS_1
"Yaellah Kak, jahat amat sama adek iparnya sendiri," Cia memutar bola matanya malas. "Kak, Cia tahu kalau Kakak istri yang baik. Percaya sama Cia, Kak. Suatu saat Kakak akan menemukan pasangan terbaik," ucap Cia serius.
Wenny menatap adik iparnya itu. Kembali pipinya panas. Sebenarnya ia tak ingin pergi dari rumah ini. Tapi untuk apalagi dia bertahan tidak ada yang menginginkan dia tinggal disini.
"Iya," Wenny berdiri mengambil kopernya.
"Sini Kak, Cia bantu," Cia mengambil tas kecil Wenny.
"Enggak usah. Kamu baru selesai lahiran," ketus Wenny sambil mengambil tas kecil nya dari tangan Cia.
"Kak, ada yang perlu Cia bantu?" wanita itu mengekor Wenny. Sebenarnya dia kasihan pada Wenny. Cia tahu jika Wenny tidak sengaja melakukan hal tersebut.
"Enggak perlu. Kamu enggak bakal bisa buat Devan kembali sama aku," ketus Wenny.
Wenny keluar dari kamarnya. Wanita itu menghela nafas panjang. Ia tatap bangunan mewah yang akan menjadi kenangan nya hingga nanti. Rumah ini menyimpan banyak kenangan yang akan selalu melekat di hati.
Wenny berjalan menyeret kopernya dan diikuti oleh Cia. Semua anggota keluarga sudah berkumpul diruang keluarga.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" hanya Delvano panik sambil meneliti bagian tubuh istrinya.
"Emang nya Cia kenapa Om?" tanya wanita itu heran.
Wenny menatap Devan yang enggan melihatnya. Dia juga menatap ayah dan ibu mertuanya. Tidak ada satu pun dari orang-orang itu yang kasihan atau berusaha mencegah kepergiannya.
"Dad. Mom. Aku pamit," wanita menyalami tangan kedua mertuanya.
Wajah Koscielny dan Laurent tampak datar. Mereka kecewa karena Wenny telah berkhianat.
"Devan, aku pamit," ucap Wenny berpamitan.
"Kak," panggil Cia. Sungguh Cia kasihan pada Wenny.
"Kenapa?" tanya Wenny dingin.
"Itu di bibir Kakak ada nasi," celetuk Cia.
__ADS_1
**Bersambung.... **