Istri Tuan Muda Delvano

Istri Tuan Muda Delvano
Calon Mantu


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Ayo Om masuk," ajak Cia


"Bapak. Ibu. Kakak. Abang. Cia pulang," gadis itu sudah berteriak dari pintu masuk.


Delvano mendengus kesal. Kenapa gadis ini suka sekali berteriak seperti ini? Apa tenggorokan nya tidak sakit? Ini sih bukan tenggorokan Cia yang sakit tapi telinga Delvano yang geli.


"Bisakah kamu tidak usah teriak?" Gerutu lelaki itu sambil mengusap telinganya berulang kali.


Cia hanya cenggesan sambil menampilkan rentetan gigi putihnya pada Delvano.


"Cia," seorang wanita paruh baya yang masih cantik menghampiri Cia.


"Ibu," gadis itu berhambur memeluk sang Ibu.


"Aduh anak Ibu," wanita itu menyambut pelukan anak gadis nya dengan sayang. "Kamu kok pulang enggak ngabarin Ibu, Nak?" Dia mengusap kepala putrinya.


"Hehe maaf Bu. Cia lupa." Dia melepaskan pelukannya.


"Selamat siang Bu," sapa Delvano membungkuk hormat.


"Siang," Lenny menatap Delvano dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Kamu siapa ya? Kok muka nya kayak asing gitu?" Lenny tampak berpikir.


"Udah Bu kagak usah di ingat-ingat," celetuk Cia. "Kenalin, namanya Om Delvano Bu. Tapi jangan salaman sama dia," ujar Cia.


"Lho, kenapa?" Kening lenny berkerut. "Enggak boleh salaman?" Tanya Lenny heran


"Dia alergi Bu," jawab Cia asal.


"Ohh begitu," Lenny tersenyum hangat. "Ayo silahkan masuk Nak. Duduk dulu. Nanti Ibu buatkan minum," ucapnya lagi.


"Bu, ini oleh-oleh dari Ibu kost buat Ibu," Cia mengambil ayam dari tangan Okkhy. "Makasih Om." Dia tersenyum pada lelaki itu.


"Wahhh baik banget Ibu kost kamu itu," seru Lenny. "Entar Ibu suruh Bapak potong," ucapnya.


"Bapak mana Bu? Kak Dhanny mana? Kak Dea sama dua ceguguk itu kagak main kesini Bu?" Cecar Cia.


Delvano menggeleng sambil tersenyum mendengar ocehan gadis itu. Bicara saja Cia tidak ada rem nya. Asal menyerocos tanpa titik dan koma.


"Bapak belum pulang ngajar. Kamu temanin tamu duduk. Ibu mau buat minum dulu," ujar Lenny.

__ADS_1


"Biar Cia aja Bu," pintanya berdiri.


"Kagak usah Ibu bisa sendiri," tolak Lenny tersenyum hangat.


"Ohhh syukur lah," gadis itu tersenyum tanpa dosa.


Sementara Lenny geleng-geleng kepala. Anak gadisnya ini memang suka sekali membuatnya gemes. Bicara apa adanya.


"Om tunggu bentar ya. Cia masuk kamar dulu. Sini tas nya Om," gadis itu mengambil tas di tangan Okkhy.


"Ini Nona," Okkhy menyerahkan koper dan tas milik Cia dan Delvano.


Delvano menelusuri rumah Cia. Rumah sederhana. Namun terlihat asri dan nyaman. Isi rumah itu tampak tertata rapi. Foto-foto wisuda kedua saudara Cia terpampang disana. Seperti nya walaupun dari kampung keluarga Cia tetap memprioritaskan pendidikan. Dilihat dari cara mereka berbicara saja terlihat bahwa mereka memang terdidik. Tapi yang Delvano herannya, kenapa Cia bisa seperti itu? Berbeda sekali. Terkesan, ahh susah di jelaskan.


"Ehem, Okkhy nanti perintahkan pekerja untuk memperbaiki jalan itu." Tintah Delvano.


"Baik Tuan," Okkhy oke-oke saja. Kalau uang yang jalan apapun bisa.


Kampung halaman Cia sudah termasuk maju, listrik dan aliran air dari pemerintah bersubsidi juga lancar disana. Sinyal dan akses yang lain pun sudah lengkap. Hanya saja ada beberapa titik jalan yang seperti nya belum diperhatikan oleh pemerintah. Tapi sejauh ini kampung halaman Cia sudah termasuk kampung yang maju di era globalisasi perkampungan.


"Bapak," pekik Cia saat melihat sang Ayah masuk kedalam rumahnya.


"Bapak kangen," gadis itu langsung memeluk sang Ayah dengan manja.


Bernadus membalas pelukan putri bungsu nya itu dengan sayang.


"Pasti kangen ya sama Bapak?" Serunya terkekeh


"Enggak kok Pak," gadis itu melepaskan pelukannya sambil tersenyum


"Kamu ini keterlaluan amat sih. Sama Bapak aja enggak kangen," gerutu Bernadus.


"Bercanda Pak. Cia kangen banget sama Bapak." Gadis itu kembali memeluk Ayah nya. "Kangen di omelin Bapak. Tapi di kost udah ada Ibu kost yang gantiin. Jadi kangen nya Cia berkurang," gadis itu menutup mulutnya menahan tawa.


"Kamu ya......." Bernadus gemes sendiri. Seperti nya dia belum menyadari kehadiran Delvano.


"Kok baju Bapak bau asem. Bapak belum mandi?" Gadis itu menutup mulutnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Ck, kamu enggak liat Bapak habis pulang ngajar?" Gerutu Bernadus.


"Didepan mobil siapa Cia?" Tanya Bernadus penasaran. "Mewah banget mobilnya? Bukan punya Pak Kades 'kan?" Dia tampak berpikir.

__ADS_1


"Selamat siang Pak," sapa Delvano.


Delvano dan Okkhy berdiri menyambut kedatangan calon mertua Delvano itu.


Bernadus menatap Delvano dari ujung kaki sampai ujung rambut. Seperti tidak asing tapi dia melihat nya dimana.


"Kalian siapa ya?" Keningnya berkerut. Lalu dia melihat Cia yang tampak menelan salivanya dan salah tingkah.


"Perkenalkan saya Delvano Pak, calon suami Cia," Delvano menyalami tangan Bernadus.


"Apa?" Pekik Bernadus terkejut.


"Astaga Pak. Kalau mau teriak itu nohh dilapangan bola jangan disini," gerutu Cia sambil mengusap telinganya.


Begitu juga dengan Delvano dan Okkhy yang terkejut. Tak heran jika Cia somplak ternyata itu turunan dari Ayah-nya.


"Cia beneran calon suami kamu?" Bernadus menatap anak gadis nya tajam. "Kamu itu masih kecil Cia kenapa udah bawa calon suami segala?" Omel Bernadus.


"Alah, Bapak enggak usah marah-marah. Entar nambah lho kerutan dimuka Bapak." Cia malah bercanda sambil ngakak dengan menunjuk bagian-bagian keriput diwajah sang Ayah.


"Kamu ya....." Bernadus gemes melihat anak gadis nya ini.


Bernadus menatap Delvano dari ujung kaki sampai ujung rambut. Terlihat sekali jika lelaki ini bukan orang sembarangan. Terlihat dari cara dia berpakaian berbicara. Bahkan cara dia duduk. Seperti orang-orang berkelas pada umumnya.


"Cia, kamu bisa jelasin?" Bernadus menatap putrinya. "Bukankah Bapak bilang kamu enggak boleh pacaran sebelum lulus kuliah? Lagian kamu masih muda?" Tukas Bernadus menatap putrinya tajam


"Ehem," Cia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bingung juga bagaimana cara menjelaskan pada Bapak-nya.


"Ayo minum dulu," Lenny meletakkan beberapa gelas teh diatas meja


"Terima kasih Bu," ucap Delvano dan Okkhy bersamaan.


Bernadus melarang keras Cia pacaran sebelum menyelesaikan pendidikan nya. Bukan apa, supaya Cia tidak salah jalan. Sebab dia ingin masa depan terbaik untuk anak-anak nya. Apalagi anak perempuan seperti Cia yang masih polos. Cia belum tahu hubungan dewasa itu seperti apa. Bernadus tak ingin putri kesayangannya itu nanti malah dihancurkan oleh lelaki tak bertanggung jawab.


**Bersambung....


Selamat menunaikan ibadah puasa Guyss...


Sahur... Sahur... Sahur.... Wkwkwkwkwk...


Makasih buat emak-emak kesayangan ku yg masih setia nungguin kisah Delvano dan Cia.. Maaf cuma bisa update satu bab.. Bulan besok author janji bakal up banyak-banyak. Hehehhe**.

__ADS_1


__ADS_2