
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Dara menghela nafas panjang. Jantungnya berdebar-debar. Sesungguhnya ia belum sanggup bertemu dengan orang tua Ryan. Namun lelaki itu malah memaksanya.
"Wahh Kak Dara cantik banget," puji Aldo melihat sang kakak yang memakai gaun merah tersebut.
"Aneh enggak sih Dek?" tanya Dara. Ia menatap dirinya didepan cermin dan merasa aneh saja dengan penampilan nya yang tak biasa ini.
"Cantik Nak," sambung Fatmala berjalan dengan tongkatnya. Kondisi wanita paruh baya itu sudah cukup membaik karena perawatan mahal yang diberikan Ryan padanya.
"Makasih Bu," Dara tersenyum malu.
Tidak lama kemudian Ryan datang menjemput gadis nya itu. Sekarang Dara tidak tinggal di gubuk derita lagi.
Ryan terpesona melihat kecantikan Dara malam ini. Ia tak menyangka gaun yang ia belikan untuk kekasih nya itu pas di tubuh ramping Dara.
"Malam Kak," Dara berjalan malu-malu menghampiri Ryan.
"Cantik banget sih," puji Ryan sampai gagal fokus.
Wajah Dara merah merona mendengar Ryan memujinya. Jantungnya berdebar tak karuan.
"Makasih Kak," gadis itu tersenyum malu.
"Ayo Sayang," Ryan membuka pintu mobil agar gadis itu masuk.
Dara masuk kedalam mobil. Mobil mewah yang membuatnya minder untuk menjadi pasangan Ryan.
Sebenarnya Dara belum menjawab ungkapan perasaan Ryan padanya. Namun, lelaki itu malah menganggap nya sebagai pacar. Ryan tidak menerima penolakkan dan Dara pun tidak bisa menolak. Ia akan belajar mencintai Ryan.
Meski perbedaan kasta yang cukup jauh namun Ryan tak memandang siapa Dara. Baginya Dara adalah wanita yang dikirim Tuhan untuk melengkapi hidupnya. Sejak ia dan Dara memiliki hubungan spesial, Ryan tak pernah lagi bermain wanita. Ia fokus pada hubungan nya dan Dara. Ia tidak mau lagi berbuat sesuatu yang salah.
Sampai di kediaman nya. Ryan segera memarkir mobilnya.
"Jangan turun dulu Sayang. Biar aku yang buka pintunya," cegah lelaki itu turun duluan.
__ADS_1
Dara tersenyum lembut mendengar ucapan Ryan. Lelaki yang menganggap dirinya sebagai pacar tersebut memang sangat perhatian padanya.
"Ayo Sayang,"
Seperti di adengan drama Korea, Ryan mengulurkan tangannya agar Dara menyambut dengan senyuman mengembang. Entahlah, kenapa Ryan bisa begitu mencintai Dara. Wanita ini sangat sederhana dan bahkan jauh dari kriteria wanita yang ia sukai. Tapi kenapa ia tak bisa berpaling dari pesona wanita yang menjadi kekasih nya tersebut.
Dara menatap kagum bangunan mewah rumah Ryan. Rumah minimalis yang di disuguhkan dengan air mancur didepan nya.
"Ayo masuk Sayang," Ryan melingkarkan tangan Dara di lengannya.
"Kak," Dara menahan tangan Ryan.
"Iya Sayang kenapa?" tanya Ryan heran.
"Kak, aku malu," Dara menunduk.
"Malu kenapa?" tanya Ryan mengangkat dagu Dara. Ia terpesona dan tatapannya langsung tertuju pada bibir ranum gadis tersebut. Jika saja dia tak berjanji akan melindungi gadis ini. Pastilah ia sudah ******* bibir manis dan merah muda tersebut.
"Aku miskin Kak," Dara menunduk malu. Ia sudah membayangkan seperti di novel atau sinetron dimana calon istri dari anak nya akan ditolak karena miskin.
Dara mengangguk dan mengikuti perintah Ryan. Lalu mereka berdua masuk.
Senyum Ryan dan Dara mengembang. Mungkin saja Dara sudah memiliki rasa pada Ryan. Namun, gadis itu masih enggan mengakui nya karena takut di tolak. Dia belum siap patah hati sebelum waktunya.
"Wahhh ini pacar kamu Ryan?" seru Yupita memeluk Dara. "Selamat datang dirumah kami ya Nak," ucap Yupita lembut. Ryan cukup pandai mencari pacar karena Dara cantik dan cocok sekali dengannya.
.
.
.
"Kak," Netthy melirik Adit yang masih terdiam
"Iya Neth, kenapa?" tanya Adit tersenyum pada gadis yang sudah berstatus kekasihnya itu. Meski ia sendiri belum tahu perasaan nya terhadap Netthy.
__ADS_1
"Kakak cinta sama aku?" tanya Netthy. Jantungnya berdebar, ia belum siap jika Adit bilang tidak mencintai nya.
"Kenapa bertanya begitu?" bukannya menjawab lelaki itu malah bertanya kembali.
Netthy memalingkan wajahnya. "Aku tuh kayak pajangan aja buat Kakak," ucap Netthy. "Kakak selalu sibuk dan enggak ada waktu buat aku. Bahkan buat ngabarin aku aja Kakak susah banget," ungkap Netthy.
Adit terdiam. Dia tak bisa menjawab masalah perasaan. Dia saja tidak tahu bagaimana perasaan nya pada Netthy.
"Apa Kakak terima cinta aku karena Kakak kasihan?" tanya Netthy. Air matanya menetes. Kenapa sakit sekali? Ia bisa memiliki raga Adit tapi ia tidak bisa memiliki hati lelaki itu. Harusnya ia sadar dari awal untuk tidak memaksakan cinta yang tak mungkin memiliki nya.
"Neth," lidah Adit kelu ketika mendengar pertanyaan Netthy. Apakah dia menerima Netthy karena kasihan?
Netthy tertawa garing tapi lelehan bening itu lolos di pipinya. Selama ini ia memang seperti patung bagi Adit. Lelaki itu cuek dan dingin padanya. Selalu sibuk dengan pekerjaan dan uang. Tidak ada waktu hanya untuk sekedar memberi kabar atau mengingatkan makan siang.
Netthy melenggang pergi meninggalkan Adit yang terdiam di tempatnya. Ia mengutuki dirinya sendiri yang mengungkapkan perasaan nya pada Adit. Ia pikir Adit menerima cinta nya karena kau belajar mencintai nya. Tapi terbaik lelaki itu malah mematahkan jiwa dan hatinya.
Adit bernafas panjang. Lelaki itu sama sekali tak berusaha untuk mengejar Netthy dan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi padanya.
"Maafin Kakak Neth. Kakak cuma anggap kamu seperti adik sendiri. Maaf, Kakak enggak bisa balas cinta kamu. semoga kamu bertemu lelaki baik nanti nya," ucap Adit.
Adit masih tak bisa melupakan Cia dalam hidupnya. Membuka hati untuk orang lain saja dia tidak bisa. Dia sudah mencoba berulang kali namun tetap saja ia gagal. Kemana pun ia berlari bayangan dia tak pernah pergi? Padahal ia sudah mencobanya.
Adit masuk kedalam kamarnya. Memang benar, sejak Cia menikah dan memilih tinggal bersama suaminya. Suasana kost tidak seperti dulu lagi. Tidak ada lagi mendengar keributan di pagi hari karena tidak ada yang membuat masalah. Semua anak kost takut pada si gempal Zaenab hanya Cia saja yang tidak merasakan takut meski sudah di hukum setiap hari oleh wanita paruh baya tersebut.
Adit merebahkan tubuhnya dikasur miliknya. Ia menatap langit-langit kamar dengan kosong.
"Apa aku terima aja yaa tawaran Kak Adam buat pindah ke Surabaya? Mungkin aku bisa ngelupain Cia kalau aku pergi jauh," gumam Adit.
Beberapa hari yang lalu ia mendapat tawaran dari kakak seniornya di kampus dulu untuk bekerja sama dengan perusahaan barunya.
Adit mengotak-atik ponselnya. Entah siapa yang tengah ia hubungi. Ia tampak serius dengan benda kecil namun pintar tersebut.
"Hufhhh, baiklah. Aku akan pindah aja. Disana lebih nyaman dan tenang," ucap Adit yakin dengan keputusan nya untuk pergi.
Bersambung....
__ADS_1