Istri Tuan Muda Delvano

Istri Tuan Muda Delvano
Kehangatan keluarga Cia


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Ayo Om, makan jangan malu-malu," Cia mengambilkan beberapa sayuran untuk Delvano.


Delvano mengangguk sambil tersenyum begitu juga dengan Okkhy. Keluarga Cia melayani mereka dengan begitu baik.


Bernadus terlihat tidak terlalu suka dengan kedatangan Delvano. Dalam hati lelaki paruh baya itu. Bagaimana bisa Cia menjadi calon istri dari seorang pria seperti Delvano? Bukankah putrinya itu gadis biasa? Bukankah putri nya itu dari desa? Lantas apa yang membuat Delvano jatuh cinta pada Cia? Cia tak memiliki kelebihan apapun, selain membuat orang kesal dengan ucapan dan tingkah nya.


"Dek, ambilkan Kakak," Dhannya menyedorkan piringnya yang masih kosong.


"Kakak mau yang mana?"


"Semuanya. Nasi nya jangan banyak-banyak. Kamu biasanya suka ngerjain Kakak," ucap Dhanny memperingatkan. Bagaimana tidak, adik nya itu selalu mengerjai dirinya.


"Hehe, maafin Cia Kak. Cia sengaja," gadis itu tersenyum menampilkan rentetan gigi putihnya.


Dhanny mendengus kesal. Mau marah percuma, nanti malah dia yang di marahi oleh Bernadus, maklum Cia adalah anak kesayangan Bernadus.


Mereka semua makan bersama sambil mengobrol singkat. Cia dan Bernadus terus berdebat, entahlah Ayah dan anak itu memang suka sekali memperdebatkan sesuatu yang tidak penting.


"Astaga, Cia kalau makan itu yang bener. Udah mau dilamar aja, masa kayak anak kecil," omel Bernadus sambil mengelap bibir anak perempuan nya itu dengan tissue.


"Cia laper Pak. Sebelum berangkat ke sini tadi Cia belum makan. Masakan Ibu enak, Cia udah lama enggak makan," celetuk Cia.


Wajah Delvano berubah. Dia tidak tahu jika gadis nya itu tadi belum makan. Jika dia tahu kalau Cia belum makan pasti dia akan menyuruh Okkhy singgah untuk makan.


"Makanya kamu itu ingat juga perut. Yang ada dikepala kamu itu cuma pulang doang," omel Bernadus kesal.


Cia lanjut makan tanpa peduli dengan omelan sang Ayah. Setiap kali pulang kampung dia selalu lupa pulang mungkin saking tidak sabarnya bertemu dengan kedua orang tua nya.


"Sayang, makannya pelan-pelan," kali ini Delvano yang membersihkan bibir Cia.


"Makasih Om," Cia tersenyum dengan mulut yang penuh dengan makanan hingga membuat nya tampak menggemaskan.

__ADS_1


Lenny dan Dhanny tersenyum hangat melihat Delvano memperhatikan dan peduli pada Cia. Sebagai seorang Ibu Lenny berharap, Cia menemukan pria yang tepat menjadi pendamping hidup anaknya itu. Begitu juga dengan Dhanny.


"Ehem," Bernadus berdehem.


"Apaan sih Pak, dehem-dehem mulu?" Cia memutar bola matanya malas.


"Kamu itu makan yang benar," omel Bernadus.


"Perasaan Cia makan benar kok Pak. Emang makan yang salah itu gimana?" Ucap Cia kesal sambil memutar bola matanya malas.


Setelah makan Cia membantu Lenny mencuci piring dan merapikan meja bekas makanan.


"Om, duduk dulu sama Bapak dan Kak Dhanny. Cia mau bantuin Ibu,"


"Perlu saya bantu," tawar Delvano.


"Enggak perlu Om. Sultan kayak Om enggak pernah cuci piring. Gimana nanti kalau Om alergi sabun cuci bisa digantung Cia sama Ayah mertua," ujar gadis itu. Meski mulutnya berbicara tapi tangannya sibuk bekerja.


Delvano mengangguk namun sesekali pria itu melirik kearah Cia yang masih sibuk menggelap atas meja bekas makanan mereka tadi. Walau Cia terlihat seperti anak kecil namun dia seperti sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah.


"Biar Cia aja yang cuci Bu," gadis itu membawa piring keatas wastafel.


"Enggak apa-apa Ibu aja Nak. Nanti tangan kamu alergi lagi sama sabun," Cia memang alergi sabun tapi gadis itu kadang tidak mau tahu. Dia tidak suka berdiam diri saja.


"Ya udah Cia susun piring bersih aja entar," gadis itu masih keukeh membantu sang Ibu.


Lenny mengangguk lalu tersenyum. Anak perempuan nya ini memang ringan tangan dan suka membantu hanya saja sayang Cia alergi sabun cuci. Tangannya bisa merah-merah dan gatal-gatal bahkan bentol-bentol kalau terkena sabun itu. Kadang Cia menggunakan kaos tangan anti air demi membantu pekerjaan sang Ibu.


"Cia,"


"Iya, Bu?" Cia menoleh kearah Lenny sambil menyusun piring bersih di rantang nya


"Kamu serius mau nikah sama Tuan Delvano? Kamu tahu kan siapa dia?" Lenny menatap anaknya sambil tersenyum.

__ADS_1


Cia terdiam tampak berpikir. Sebenarnya dia juga tidak serius. Tapi bagaimana lagi lelaki itu tidak menerima kata penolakan. Jika boleh jujur Cia malah tidak ingin menikah tapi apakah dia bisa menolak? Tentu bisa, asal bisa melawan Delvano. Namun rakyat jelata seperti nya mana bisa melawan pria penguasa itu.


"Cia yakin kok Bu," gadis itu tersenyum canggung.


"Kamu cinta sama dia?" Lenny tahu jika anaknya ini sebenarnya tidak bisa bohong.


"Enggak Bu," Cia menjawab dengan jujur.


Lenny terkekeh. "Kalau enggak cinta kenapa mau nikah?" Lenny geleng-geleng kepala.


"Kata Om Delvano, cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu Bu. Mungkin nanti Cia bisa cinta sama Om Delvano," sahut gadis itu dengan polosnya.


Lenny tersenyum hangat, bagaimana mau menikah cinta saja anak gadis nya ini belum tahu. Lenny memaklumi karena memang Cia di besarkan oleh kasih sayang Bernadus yang sama sekali tak mengizinkan putrinya didekati oleh lelaki. Bernadus takut jika putrinya itu malah terjerumus seperti anak-anak gadis dikampung nya yang hamil diluar nikah bersama istri orang lagi.


"Gimana ceritanya kamu bisa ketemu sama Tuan Delvano? Kalian memang pacaran?" Tanya Lenny sambil tangannya sibuk mencuci piring.


"Waktu itu Cia ketemu sama Om Delvano di cafe Kak Rianti Bu. Terus Cia enggak sengaja tumpahin jus di jas nya Om Delvano. Nah Om Delvano marah, karena jas nya kotor Bu. Terus Cia mau ganti rugi pakai uang tapi itu jas mahal banget Bu, bisa seharga rumah kalau di kampung kita Bu. Tapi Om Delvano enggak mau Bu. Om Delvano mau nya Cia nikah sama. Tapi pas Cia nolak, Om Delvano malah mau laporin Cia ke polisi Bu," celoteh gadis itu.


"Begitu ceritanya?" Lenny cukup tercengang mendengar cerita Cia. Unik sekali pertemuan mereka. "Tapi apakah Om Delvano-mu itu cinta sama Cia. Cia udah pernah ketemu sama orangtua Om Delvano?" Cecar Lenny. Lenny selalu berkata lembut pada Cia karena Cia ini tidak bisa diajak bicara kasar, kalau kasar dia bisa lebih kasar.


Cia mengangguk. "Udah Bu. Mommy Laurent bilang mau ketemu Bapak sama Ibu. Tapi kalau Ayah mertua wajahnya galak Bu. Cia aja takut liatnya," jawab gadis itu jujur apa adanya.


Lenny menghela nafas panjang. Lenny hanya takut jika orangtua Delvano tidak menerima cia sebagai menantunya. Cia terlahir dari keluarga biasa, sedangkan Delvano adalah orang kaya di kota ini.


**Bersambung.....


Follow akun medsos ku.


FB ; Fitriani Yuri


IG ; fitrianiyurikwon_


TikTok; @fitrianiyuri**

__ADS_1


__ADS_2