
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Delvano menggosok tubuh Cia dengan telaten seperti seorang Ayah yang sedang memandikan putri kecilnya. Cia hanya menurut sambil memain-mainkan bisa sabun ditangannya. Dia terlihat seperti anak kecil saja.
"Om Cia berasa dimandiin Bapak," serunya. "Emang kalau penggantin baru itu harus dimandiin suami ya Om?" Tanya nya lagi.
Kadang Delvano penasaran sebenarnya ada berapa juta kosa kata dikepala Cia sehingga membuat gadis ini tak berhenti berbicara. Selalu saja dia menemukan topik pembicaraan yang menurut Delvano tak seharusnya dibahas. Apa tadi, Cia bertanya kalau penggantin baru harus di mandikan suami? Huh, Delvano sangat gemes dengan istrinya ini. Gadis ini Ceres sekali tidak berhenti bertanya.
Delvano tak menjawab dia masih terus membersihkan tubuh Cia. Setelah merasa tubuh istrinya sudah bersih lelaki itu segera mengangkat tubuh istrinya lalu membungkus tubuh Cia dengan handuk.
"Damn ****," umpatnya kesal saat melihat dua bukit kembar Cia yang tak ditutupi apapun.
"Kamu enggak malu telanjang bulat didepan saya?" Tanya Delvano.
Cia menggeleng. "Kata Bapak enggak boleh malu sama suami sendiri. Om kan suami Cia, makanya Cia enggak malu Om. Tapi kalau didepan orang lain, Cia malu Om. Kata Bapak juga enggak boleh," seru Cia dengan wajah menggemaskannya.
"Ck, jangan pernah telanjang didepan orang lain. Kecuali didepanku. Paham," tegas Delvano penuh penekanan.
Cia mengangguk dan menurut. "Iya Om. Lagian Cia malu Om. Kalau sama Om kan enggak apa-apa karena udah suami Cia," jelas Cia.
"Ya udah ayo,"
Delvano kembali menggendong tubuh gadis itu menuju ranjang mereka.
"Tunggu disini. Saya pilihin kamu baju dulu,"
"Cia bisa sendiri Om," gadis itu hendak turun dari ranjang.
"Ck, diam. Jangan membantah. Mau saya cium lagi?" Ancamnya.
"Boleh Om. Enak," gadis itu menampilkan rentetan gigi putihnya.
Sedangkan Delvano menahan nafasnya sabar. Tidak masalah dia mencium Cia hanya saja tidak baik untuk juniornya yang suka menegang kalau mencium Cia lagi.
Delvano mengambil pakaian sang istri didalam lemari. Lelaki itu mendengus kesal saat melihat baju jaring-jaring yang tergantung rapi didalam lemari. Ini pasti ulah Ibu nya. Pasti Ibu nya berpikir kalau dirinya akan langsung menuntaskan malam pertama bersama Cia, tapi boro-boro. Laurent tidak tahu saja betapa polos nya Cia.
"Ini pakai," Delvano memberikan pakaian transparan itu pada Cia.
"Wahh Om ini baju apa? Cia baru liat Om," sambil membolak-balik baju itu.
"Udah pakai aja enggak usah protes. Enggak ada baju lain. Cuma itu yang ada," jawab Delvano ketus.
__ADS_1
"Saya mandi dulu," segera Delvano masuk kedalam kamar mandi. Dia harus menidurkan juniornya. Ini akibat kepolosan Cia yang tidak ada obat nya itu.
"Iya Om,"
Delvano mengumpat kesal kepalanya berdenyut sakit karena hasrat nya yang tuntas.
Cukup lama pria itu menguyur tubuhnya dikamar mandi. Sampai juniornya tertidur kembali. Dia harus sabar. Dia tidak bisa memaksa Cia. Dia takut istrinya itu nanti malah sakit gara-gara dirinya. Apalagi Cia belum pernah disentuh lelaki mana pun ini pengalaman pertama baginya tapi akan sangat sakit jika tidak dilakukan dengan keikhlasan.
Delvano keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang nya. Air dari rambut nya turun kebawah sehingga membuat lelaki tampan itu semakin seksi.
Cia yang sudah duduk dengan nyaman di king size sambil memainkan ponselnya dan berbalas pesan dengan ketiga sahabat nya sontak mengangkat pandangan nya.
"Aaaaaaaaaaaa," gadis itu langsung membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Ck, kenapa teriak-teriak?" Gerutu Delvano mengambil pakaian didalam lemarinya.
"Ihhh Om, apaan sih kenapa enggak pakai baju Om?" Wajah Cia sudah merah merona dibalik selimut tebal nya.
"Cihh, kamu telanjang didepan saya enggak malu. Giliran saya telanjang didepan kamu, malah malu," Delvano geleng-geleng kepala sambil tersenyum gemes.
"Iihhh itu kan beda Om. Om pakai baju nya cepat," Cia mengintip suaminya. Entahlah dia malu melihat Delvano telanjang dada begitu.
"Udah apa belum Om?"
Cia sedikit menggeser sambil menutupi tubuhnya. Ahh dia takut malam pertama. Kata Netthy malam pertama itu sakit. Bisa teriak-teriak semalaman.
Cia melekatkan bantal ditengah-tengah mereka supaya Delvano tidak menempel padanya.
"Om ini batasnya. Om jangan dekat-dekat Cia," tegas Cia.
"Cihh ,kamu pikir saya bakal nafsuan liat kamu?" Kilah Delvano
"Syukur dehh kalau Om enggak nafsuan. Jadi kan Cia enggak perlu takut," seru gadis itu
"Om," panggil Cia. Gadis itu masih membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa?" Ketus Delvano melirik sang istri.
"Ehem, Cia boleh nanya sesuatu enggak?" Ucapnya takut-takut.
"Apa?" Delvano menatap istrinya serius.
__ADS_1
"Malam pertama itu gimana ya Om rasanya? Kata Netthy malam pertama itu sakit tapi lama-lama nikmat. Nikmatnya seperti apa Om? Apakah serasa tidur siang dipeluk ayang atau gimana?" Seru Cia.
Lagi-lagi tubuh Delvano menegang saat mendengar pertanyaan tak bermutu dari sang istri.
"Kamu mau coba?" Delvano tersenyum devil.
"Emang bisa dicoba Om?" Tanya Cia bingung.
"Bisa,"
Delvano langsung menarik selimut Cia dan menindih gadis itu.
"Om mau apa?" Tanya Cia heran. "Ngapain diatas Cia Om? Om itu berat, Cia kecil. Entar tubuh Cia penyok-penyok Om," Cia berusaha menahan lelaki yang ada diatasnya ini.
Lagi-lagi Delvano menelan salivanya susah payah saat melihat Cia mengenakan lingerie berwarna merah menyala yang menampilkan tubuh mulusnya. Pas, sangat pas dan cocok dikulitnya yahh putih.
"Katanya tadi mau coba, kan penasaran?" Goda Delvano.
"Ihhh jangan ngadi-ngadi dehh Om. Turun Om. Om itu berat banget," Cia mendorong dengan paksa lelaki itu.
Delvano turun dari tubuh istrinya. Baru di ancam begitu saja sudah takut. Tadi katanya mau coba karena penasaran ehh pas diajak malah banyak alasan.
"Udah ayo tidur," ajak Delvano terkekeh. Tidak apa malam ini belum berhasil membobol gawang Cia. Malam-malam berikutnya masih ada kesempatan.
"Iya Om,"
Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut gadis itu. Dia tampak terlelap dengan nyaman sambil membungkus ditubuhnya.
Delvano menyingkirkan bantal guling yang menjadi pembatas mereka. Lalu Delvano masuk kedalam selimut Cia dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.
Delvano terkekeh saat mengingat perdebatan nya dengan Cia.
"Rasanya masih seperti mimpi bisa milikin kamu Cia." Dia menyingkirkan anak rambut gadis itu. "Kamu itu lucu. Kamu itu unik. Kamu bikin gemes. Aku enggak nyangka kalau akhirnya aku bisa meluk kamu kayak gini. Pertemuan kita berakhir dipelaminan," seru Delvano terkekeh pelan sambil mengelus wajah mulus istrinya.
Plakkkkkkkkkkkkkkkk
Senyum Delvano memudar saat tangan gadis itu mengenai wajah nya.
"Ck, dasar gadis bar-bar," cibir nya.
"Selamat tidur istri Kecilku,"
__ADS_1
Dia mengecup kening gadis itu dan ikut terlelap dengan memeluk Cia.
**Bersambung**