
Aku menyukai mu, Dara.
Ryan dan Dara turun dari mobil. Keduanya melangkah lebar memasuki koridor rumah sakit. Tampak Dara seperti tak sabar, ia takut dan juga panik jika terjadi sesuatu pada sang Ibu.
"Kakak," panggil Aldy dan Aldo, adik kembar Dara.
"Aldy. Aldo. Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Dara menyambut pelukan kedua adiknya itu.
"Ibu masih didalam Kak. Hiks hiks," isak Aldo. Anak bungsu itu memang sedikit manja dari kakaknya.
"Tenang. Ibu pasti baik-baik saja," ucap Dara menenangkan kedua adiknya. Padahal dia juga panik. Hanya saja berusaha untuk terlihat tenang.
Ryan menatap ketiga saudara itu dengan senyum. Dara terlihat sangat menyayangi kedua adik kembarnya. Senyuman lembut dan manis itu membuat Ryan lupa pada tujuan utamanya untuk mendekati Dara. Namun, semakin mengenal Dara. Ryan mengubah mindset nya tentang wanita. Seperti nya Dara berbeda dan tak sama seperti yang lainnya.
"Ya sudah, ayo duduk dulu," ajak Dara sambil memapah kedua adiknya duduk.
Dara sudah lama kehilangan sosok seorang Ayah. Ayah nya meninggal lima tahun yang lalu karena sakit keras. Waktu itu Dara masih berusia 15 tahun. Dia teringat bagaimana perjuangan sang Ibu untuk menghidupi dia dan kedua adiknya. Berjuang dengan menjadi tukang cuci pakaian dari rumah ke rumah. Itu perjalanan yang tidak mudah. Perjuangan yang tentunya mengorbankan hati dan perasaan.
"Hiks hiks Kak. Aldo takut kehilangan Ibu," renggek Aldo.
"Sttt jangan ngomong gitu. Ibu pasti baik-baik aja," ucap Dara mengusap punggung adiknya.
Sementara Aldy menunduk. Ia menangis dalam diam. Pria kembar yang satu ini memang tampak dewasa dari usianya. Ia sedikit dingin dan tidak banyak bicara. Ia juga penurut dan rajin. Kedua nya setiap hari berjualan kue di sekolah untuk menyambung kehidupan mereka. Namu, selama Dara bekerja di perusahaan dengan gaji yang lumayan tinggi. Dara tidak lagi mengizinkan kedua adiknya jualan. Dia ingin kedua adiknya itu fokus saja pada sekolah mereka.
Tidak lama kemudian dokter keluar bersama perawat dan terlihat menjelaskan sesuatu.
"Dok, bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Dara
"Nyonya Fatmala tidak apa-apa, dia hanya kelelahan saja," jelas Dokter. "Ohh ya Nona, saya sarankan agar Nyonya menjalani fisioterapi karena kelumpuhan yang Ibu Nona alami, bukan permanen. Masih memiliki kemungkinan untuk sembuh," sambungnya.
Dara menghela nafas panjang. Pasti ini butuh biaya mahal lagi.
__ADS_1
"Dok, saya mau Anda yang menangani fisioterapi ini. Pindahkan dia keruangan VVIP," perintah Ryan.
"Tuan," Dara menatap Ryan lalu menggeleng.
"Baik Tuan," sahut dokter.
Ryan mengangguk sambil tersenyum. Tidak ada niat apapun. Dia tulus ingin membantu Dara. Dia ingin menemani Dara melewati semua ini.
Fatmala di pindahkan ke ruangan VVIP sesuai dengan perintah Ryan. Wanita paruh baya ini memang mengalami kelumpuhan beberapa tahun terakhir, akibat ia bekerja tak mengenal waktu demi menghidupi ketiga anaknya.
"Bu," Dara mengenggam tangan Fatmala. "Bangun Bu," lirihnya sambil mengusap kepala sang Ibu.
"Ibu, ini Aldo Bu. Buka matamu, Bu," ucap Aldo ikut membangunkan Fatmala.
Wanita paruh baya itu tampak memejamkan matanya. Ia seperti kelelahan merasakan sakit di bagian tubuhnya. Tak mudah menjadi orang yang penyakitan seperti ini. Dia harus memaksakan diri agar tetap kuat didepan ketiga anaknya. Ia tak mau membuat ketiga anaknya khawatir.
.
.
.
"Tuan, sebaiknya Anda pulang saja. Biar saya yang menjaga Ibu," ucap Dara dia tak enak hati karena ada Ryan disini. Takut merepotkan Boss nya itu, apalagi semua biaya rumah di lunasi oleh Ryan.
"Jangan panggil Tuan. Kita di jam kerja," sahut Ryan. "Panggil nama saja," sambungnya. Entah kenapa Ryan tak suka saat Dara memanggil nya dengan panggilan Tuan.
"Iya Kak Ryan," balas Dara.
"Saya akan temani kamu disini," jelas Ryan.
"Tapi Kak_"
__ADS_1
"Kamu keberatan?" Ryan menatap Dara penuh selidik. "Apa kamu mau di temani pacar kamu?" tudingnya. Ia sedikit kesal karena Dara ini sangat suka sekali menolak nya. Ryan adalah tipikal orang yang tidak suka di tolak. Ia ingin Dara menerima bantuan nya.
Dara menggeleng. "Enggak Kak," jawab Dara cepat takut Ryan tersinggung. "Aku cuma takut ngerepotin Kakak," sambung nya.
"Sama sekali enggak," sahut Ryan cepat.
Kedua orang itu duduk di sofa ruang rawat inap Fatmala. Ruangan ini mewah dilengkapi dengan fasilitas bak hotel bintang lima. Dara saja merasa berasa di hotel bukan rumah sakit.
"Kak, nanti aku akan ganti uang Kakak. Aku akan bayar nyicil yaa Kak," Dara menghela nafas panjang. Entah berapa juta permalam nya sewa ruangan mewah ini.
"Enggak usah," sahut Ryan. "Saya ikhlas bantu kamu," sambungnya.
"Tapi Kak_" Dara merasa tak enak hati. Uang yang di keluarkan Ryan pasti cukup besar.
"Dara," Ryan menatap Dara serius.
"Iya Kak kenapa?" Dara melirik Ryan.
Jiwa play boy Ryan, langsung luntur ketika melihat tatapan Dara. Bagaimana bisa ia tega merusak masa depan Dara? Gadis ini sangat baik dan juga polos. Tidak pernah menggoda nya dan bahkan terkesan menolak. Dara gadis yang berbeda dari wanita yang pernah Ryan temui. Ia terkesan apa adanya. Tidak suka menjadi orang lain. Penampilan nya juga tidak berlebihan dan bahkan slalu menjaga diri terhadap orang lain.
"Saya suka sama kamu," aku Ryan.
Dara terkejut. Gadis itu bahkan menatap Ryan tak percaya. Dara memang tidak tahu jika Ryan playboy karena ia selalu cuek pada orang lain dan tidak tertarik untuk mengetahui masalah orang lain.
Ryan mengambil tangan Dara lalu mengenggamnya. Sejak mengenal Dara, ia belajar banyak hal dari gadis ini. Harusnya Ryan bersyukur karena terlahir dari keluarga kaya raya, yang memiliki segalanya.
"Kak," lidah Dara terasa kelu. Ini pertama kalinya ada lelaki yang mengatakan suka padanya. Lelaki itu adalah Boss nya sendiri.
"Saya tahu, kamu kaget dengan ungkapan perasaan saya, jujur....." Ryan menatap bola mata Dara yang terlihat indah. "Awalnya saya memang ini menghancurkan masa depan kamu, tapi...." Ryan menghela nafas panjang, apalagi melihat Dara yang tampak terkejut karena ucapannya. "Setelah saya mengenal kamu lebih jauh, saya merasa kamu adalah orang yang tepat buat jadi pendamping saya. Kamu jangan takut, saya tidak ada niat lagi untuk merusak kamu. Saya tulus sayang sama kamu. Saya cinta sama kamu Dara, saya tidak tahu kapan perasaan ini tumbuh. Tapi sejak saat mengenal kamu, kamu membuat saya belajar banyak hal," jelas Ryan
Sementara Dara terdiam. Ia seperti sedang mendengar drama Korea yang merayu protagonis wanita nya. Namun ini bukan drama Korea, ini adalah drama hidupnya.
__ADS_1
**Bersambung..... **