Istri Tuan Muda Delvano

Istri Tuan Muda Delvano
Dara Amora


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Dara Amora


Dara menatap gedung pencakar langit didepannya. Sesuai dengan alamat yang diberikan Ryan padanya tempo hari, gedung ini adalah milik Ryan.


"Besar sekali gedungnya," gadis itu berdecak kagum. "Apakah aku akan diterima bekerja disini?" gumamnya. Ia melihat sekeliling nya. "Semoga saja," ia menghela nafas panjang.


Gadis itu berjalan masuk kedalam. Ia bingung mau kemana? Sebab gedung ini sangat besar dan terdapat beberapa bagian dan lantai.


Dara menuju meja resepsionis untuk bertanya dimana ruangan Ryan.


"Permisi Nona, selamat pagi," sapa Dara ramah


"Pagi. Maaf dengan siapa ya?" sang resepsionis menatap Dara dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia berpikir mungkin Dara adalah salah satu wanita panggilan Ryan. Karena setiap hari datang wanita yang beda-beda dan mengaku sebagai pacar Ryan.


"Saya Dara Nona. Saya di minta Tuan Ryan, untuk menemui dia," jelas Dara sambil tersenyum dan membungkuk hormat.


Sang resepsionis tampak meragukan jika Dara adalah wanita panggilan Ryan karena dilihat dari sisi mana pun Dara bukan wanita malam. Malah ia terkesan seperti gadis kampung yang baru pertama kali datang ke kota.


"Mari saya antar Nona,"


Dara mengikuti wanita cantik itu. Ia minder melihat penampilan sang resepsionis yang berjalan didepannya. Sangat cantik dan penampilan jauh berbeda dengan Dara.


"Maaf Nona Alana, ini Nona Dara ingin bertemu dengan Tuan Ryan," ucap sang resepsionis.


Alana mengangguk. Ia menatap Dara tak suka. Kemarin Ryan sudah mengatakan kalau Dara akan menjadi asisten nya.


"Hem, masuk saja. Tuan Ryan sudah menunggu," ucap Alana dingin. Seperti nya Dara akan menjadi saingannya untuk mendapatkan hati Ryan.


"Terima kasih Nona,"


Alana membuka pintu ruangan Ryan agar Dara masuk. Tatapan tak suka ia lemparkan pada gadis lusuh itu. Penampilan Dara biasa saja. Tidak mungkin Ryan akan berpaut pada wanita yang tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan dirinya.


"Selamat pagi Kak Ryan," sapa Dara manis sambil masuk kedalam ruangan Ryan.


Ryan yang tengah asyik dengan berkas ditangannya. Sontak saja mengangkat pandangan dan melihat Dara yang sudah tersenyum sambil membungkuk hormat.


"Dara," tanpa sadar lelaki itu langsung berdiri. "Kapan kamu datang?" tanya nya. Kenapa Ryan gugup? Tak pernah ia gugup seperti ini saat berhadapan dengan wanita


"Baru datang Kak," sahut Dara.


"Ohhh ayo silahkan duduk," Ryan menunjuk kursi yang ada didepannya.

__ADS_1


"Terima kasih Kak Ryan," balas Dara sambil tersenyum manis lalu duduk dikursi depan Ryan.


"Kak ini CV nya," sambil memberikan map pada Ryan.


"Iya," Ryan membuka CV Dara. Ia manggut-manggut saat membaca identitas Dara.


"Ya sudah kamu saya angkat jadi asisten pribadi saya. Meja kamu di pojok itu. Dan tolong handle semua data ini. Saya perlu nanti siang untuk bahan meeting," jelas Ryan memberikan tumpukan berkas di atas meja.


Dara mengangguk meski ia sedikit bingung bagaimana menyelesaikan pekerjaan sebanyak itu.


Sedangkan Ryan tersenyum licik. Ia sengaja memberikan tugas sebanyak ini untuk Dara. Hingga gadis itu tak sanggup dan meminta tolong padanya lalu ia bisa curi-curi kesempatan untuk menyentuh bagian tubuh Dara.


"Iya Kak," sahut Dara tersenyum.


"Itu meja kamu," Ryan menunjuk meja dipojok ruangannya. Sebelumnya ia memang sudah meminta Alana untuk menyiapkan meja untuk Dara.


"Terima kasih Kak," Dara mengambil berkas ditangan Ryan.


Tatapan Ryan tak beralih dari Dara yang tampak serius mengerjakan tugas yang dia berikan.


"Gue yakin dia bakal masuk dalam perangkap gue. Gue enggak sabar ngerasain tidur sama perawan," gumamnya tersenyum licik.


Jiwa playboy nya meronta-ronta saat melihat kecantikan alami wajah Dara. Terlihat gadis ini masih polos. Sama seperti Cia. Tapi beda, Cia menyebalkan sedangkan Dara membuat hati terasa sejuk dan teduh melihat senyumnya yang manis dan menggemaskan itu.


.


.


.


"Sudah selesai?" tanya Ryan mengambil berkas itu. Ia setengah tak percaya karena Dara mengerjakan tugas dari nya begitu cepat.


"Sudah Kak,"


"Kamu siap mak_"


"Selamat siang Ryan," Rianti masuk dengan membawa kantong ditangannya.


"Kakak," Ryan mendesah kesal.


Rianti terkejut melihat Dara ada di ruangan adiknya.


"Selamat siang Kak Rianti," sapa Dara sopan sambil membungkuk hormat.

__ADS_1


"Ehhh kamu, ada disini?" tanya Rianti heran dan terkejut.


"Iya Kak," senyum Dara.


Rianti menatap Ryan horor. Ia curiga pada adiknya. Jangan sampai Dara menjadi korban keplayboyan Ryan.


"Saya kerja disini Kak," sambung Dara.


"Ohh kerja disini. Bagus dong," senyum Rianti. Dara adalah kandidat berikut calon adik iparnya.


"Kamu udah makan? Ayo makan bareng Kakak," ajak Rianti.


"Enggak usah Kak. Nanti aku makan sendiri aja Kak," tolak Dara.


"Enggak usah nolak," sanggah Rianti. "Ryan cepat sini, kamu ikut makan juga," ajak Rianti melambaikan tangannya pada adiknya itu.


Ryan merenggut kesal. Bisa gagal rencana nya kalau Rianti berlama-lama disini. Kakak nya seperti kaleng robek yang tidak biasa diam. Bicara saja suka asal keluar.


"Ayo. Ayo makan," Rianti membuka kotak nasi yang dia bawa. "Kebetulan Kakak bawa makanan lebih. Cukup buat kamu Ra," seru Rianti.


"Terima kasih Kak. Enggak usah repot-repot," ucap Dara tak enak hati karena Rianti begitu baik padanya sejak pertemuan pertama kemarin.


"Sama sekali enggak," senyum Rianti.


Ryan makan dengan kesal. Sesekali ia menatap Rianti malas. Setiap hari selalu begini. Rianti datang membawakan makanan untuknya agar dia tidak makan diluar. Sungguh Ryan bosan dengan sikap kakak nya itu. Ia seperti anak kecil yang terus di awasi oleh kedua orang tua nya saat bermain.


"Ohh ya Ra. Nanti setelah makan kamu temanin Kakak ya,"


"Enggak bisa. Ini masih jam kerja dia enggak boleh keluar," sergah Ryan. Pasti kakak nya sudah memiliki rencana terselubung.


"Ck, sebentar aja kok. Kamu ini ya," Rianti memutar bola matanya malas.


"Pokoknya enggak boleh,"


Jadilah kakak dan adik itu berdebat didepan Dara. Dara menghela nafas panjang. Ini kali kedua nya ia melihat Kakak adik ini berdebat didepannya. Pasti setiap hari keduanya juga rusuh.


"Ini hari pertama dia masuk. Kakak enggak usah aneh-aneh dehh, ngajarin dia bolos," omel Ryan. Pokoknya ia takkan biarkan Rianti mengagalkan rencananya.


"Alah, itu kamu doang. Kakak enggak mau tahu Dara harus nemanin Kakak," tegas Rianti.


"Enggak," tolak Ryan keras.


"Ehem," Dara berdehem. "Kak Rianti. Maaf ya Kak. Bukan saya menolak ajakan Kakak. Tapi benar kata Kak Ryan, ini hari pertama saya masuk. Kapan-kapan saja ya Kak," tolak Dara tak enak hati.

__ADS_1


Rianti menghela nafas panjang. Semoga Dara bukan gadis polos yang mudah di bohongi dengan embel-embel pekerjaan. Semoga Dara cerdas dan bisa membaca situasi.


Bersambung.......


__ADS_2