Istri Tuan Muda Delvano

Istri Tuan Muda Delvano
Kejahilan Rianti


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Bantu dia naik keatas ranjang Ryan," suruh Rianti menatap adiknya tajam dan jenggah, saat Ryan melepaskan begitu saja tangan Dara.


"Iya," ketus Ryan kesal. Dia membantu data naik keatas ranjang.


"Terima kasih Kak," ucap Data tersenyum kaku saat melihat wajah dingin dan datar Ryan padanya.


"Kakak aja yang jaga, aku mau langsung ke kantor. Sebentar lagi meeting," ucap Ryan hendak berbalik sambil melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Ck, enak aja kamu. Tunggu sampai dia selesai nanti kita antar pulang ke rumahnya," sergah Rianti


"Kak, come on. Jangan bercanda Kak. Ini meeting penting Kakak kan bisa temanin dia. Nanti pulang pakai taksi aja. Atau aku suruh Kang Asep jemput Kakak nanti," usul Ryan. Lelaki itu beberapa kali mendengus kesal.


"Enggak bisa," tolak Rianti. "Lagian ini kamu nabrak dia yang kamu dong yang harusnya tanggung jawab. Masa Kakak," Rianti memutar bola matanya malas.


Sedangkan Dara dan sang perawan yang mengobati lukanya hanya tersenyum saja melihat mendengar perdebatan kedua kakak beradik ini. Lucu dan bikin gemes. Apalagi Rianti yang tak mau mengalah pada adiknya. Di tambah Ryan yang terus mengomel dan menggerutu.


"Gimana kaki kamu Dara?" tanya Rianti lembut.


"Kaki saya sudah tidak sakit lagi Kak," sahut Dara sambil memaksakan senyum. Sumpah dia tidak nyaman melihat wajah kesal dan dingin Ryan. Ia merasa menjadi penyebab pertengkaran Kakak beradik ini.


"Enggak perlu terlalu formal ngomong sama Kakak," ucap Rianti sambil tersenyum. Ide gila mulai muncul lagi dikepalanya. Seperti nya ini jalan yang bagus untuk membuat playboy kelas kakap ini insyaf.


"Ryan, kamu anterin dia pulang yaaa. Kakak tiba-tiba ada meeting dicafe sebentar," ucap Rianti sambil meronggoh ponselnya seperti buru-buru dan sibuk.


"Meeting apa Kak?" Ryan menatap Rianti curiga. "Bukannya aku yang meeting," timpalnya.


"Kamu mana tahu," ketus Rianti mengotak-atik ponselnya. "Dara Kakak minta nomor kamu yaa," sambil menyedorkan ponselnya.


"Iya Kak,"


Ryan benar-benar kesal bukan main. Awas saja jika sampai meeting nya gagal dan kliennya marah. Dia akan menggantung kakak nya itu ke Monas. Atau dia pindahkan saja Rianti ke Padang Gurun.


"Ini Kak," Dara mengembalikan ponsel Rianti.


"Ya udah Kakak duluan. Ryan pastikan dia baik-baik aja," sambil menepuk bahu adiknya.


"Kak," Ryan merenggek dan mendesah.

__ADS_1


"Kakak enggak punya banyak waktu. Kakak duluan yaaa, bye," sambil melambaikan tangannya dan melenggang pergi.


Ryan benar-benar kesal bukan main. Kakak nya itu selalu memiliki seribu cara untuk mengerjai nya.


"Kamu bisa jalan sendiri kan?" ketus Ryan.


"Bisa Kak," sahut Dara.


Perlahan gadis itu turun dari ranjang. Sebenarnya aku nya memang sakit dan perih dibagian mata kakinya. Akibat dia yang berjalan sambil melamun.


"Awwwww,"


"Pelan-pelan," Dara terkejut ketika Ryan menyambut tubuhnya. Ahh seperti kaki Dara memang belum bisa berjalan.


"Makasih Kak," Dara tersenyum canggung sambil melepaskan tangan Ryan dari tubuhnya. Ia memang sedikit menepi jika berdekatan dengan laki-laki.


Dara menyeret kaki nya sambil meringgis menahan perih. Meski sudah diobati dan diberi perban kenapa masih saja sakit?


"Biar saya bantu," Ryan mengangkat tubuh gadis itu dan menggendong nya.


"Kak," Dara terkejut dan sontak saja memeluk leher Ryan dengan erat.


"Kamu belum bisa jalan sendiri," ucapnya menahan gugup.


"Iya Kak," Dara pun tak kalah gugup.


Ryan menggendong gadis itu dan membawa nya masuk kedalam mobil. Lalu menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.


Sepanjang perjalanan tak ada obrolan. Ryan dengan wajah datarnya menatap lurus kedepan sambil menyetir. Sementara Dara pun seperti asyik dengan lamunan dan obrolan nya, gadis ini menanggung banyak beban pikiran.


Hanya deru mobil yang terdengar menandakan jika mobil tersebut sedang beroperasi.


"Di mana rumah kamu?" tanya Ryan tanpa melihat Dara.


"Jalan Melati Kak, Gang Anggrek," sahut Dara.


Keduanya kembali terdiam sambil menikmati perjalanan menuju rumah Dara. Hening tanpa suara, seolah tak ada orang didalam nya.


'Ayah. Maafkan Dara. Dara belum dapat biaya berobat Ibu dan uang kontrakan juga belum dibayar,' batin Dara sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Dara Amora, gadis berusia 20 tahun, ia mahasiswa sastra semester 3. Disela kesibukan kuliah ia bekerja paruh waktu di warung makan untuk menopang kehidupan nya bersama sang Ibu dan kedua adiknya yang masih kecil. Sementara sang Ayah sudah meninggal beberapa tahun silam jatuh dari gedung saat menjadi salah satu kuli bangunan disana.


Kedua adiknya masih duduk dibangku SMP karena mereka kembar. Dara harus bekerja banting tulang agar kehidupan keluarga terjamin. Tak hanya itu ia juga membuat kue yang dibawa dan dijual kedua adiknya disekolah.


"Di mana?" tanya Ryan menepikan mobilnya.


"Disini saja Kak. Soalnya mobil tidak bisa masuk. Gang nya kecil dan sempit," jawab Dara melepaskan sealbeat nya. "Terima kasih ya Kak, sudah mengantar saya sampai rumah," gadis itu menangkup kedua tangannya didada dan tersenyum sambil membungkuk hormat.


Ryan mengangguk tanpa berniat menjawab ucapan Dara.


Dara membuka pintu mobil. Ia mengigit bibir bawahnya menahan perih di bagian kaki nya. Kenapa rasa perihnya tidak hilang-hilang juga? Ia tak boleh sakit, jika ia sakit siapa yang akan bekerja? Jika tidak bekerja, mereka mau makan apa? Sedangkan sang Ibu sudah sakit-sakitan sejak kemarin dan Dara belum bisa membawa Ibu nya kerumah sakit karena belum ada uang.


'Kamu harus kuat Dara,' ucapnya dalam hati sambil meringgis kesakitan.


Ryan turun dari mobil karena melihat Dara yang tampak kesusahan.


"Biar saya antar," Ryan langsung menarik tangan gadis itu.


"Tapi Kak, Kakak kan mau meeting nanti terlambat Kak," ucap Dara ingin menolak.


Ryan tak menjawab dia malah menggendong tubuh kecil Dara. Ia berjalan memasuki Gang. Gang sempit yang bahkan tidak bisa dilalui oleh motor.


"Rumah kamu yang mana?" tanya nya. Ia sama sekali tak merasa lelah menggendong tubuh munggil gadis ini.


"Itu Kak," Dara menunjuk sebuah rumah kecil yang atapnya masih satu daun dan dinding nya terbuat dari papan.


"Itu rumah kamu?" tanya Ryan setengah tak percaya.


"Iya Kak,"


Ryan maju dan membawa Dara. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Dara tinggal dirumah kecil dan tak layak dihuni seperti ini.


Ryan menurunkan Dara didepan pintu. Ia menatap sekeliling rumah. Sebenarnya ia takut masuk diterasnya. Takut roboh, seperti nya bangunan ini tidak kuat jika menampung banyak orang diatas nya.


"Kak, ayo masuk sebentar" ajak Dara.


Ryan ingin menolak tapi tidak enak dan ia juga penasaran dengan isi dari rumah ini. Dilihat dari luar saja sangat kecil, pasti isi didalamnya pun tak jauh beda.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2