
Happy Reading 🍡🍡🍡 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
"Om pesan makanan ini dimana? Enak banget Om, Cia baru makan," seru Cia tampak lahap makan makanan dipiring nya.
Senyum Delvano seketika memudar. Seperti nya terlalu banyak hal yang dia lewatkan tentang istrinya. Bahkan dia tidak tahu jika Cia tidak pernah makan Pizza. Padahal makanan ini termasuk makanan populer yang sering di pesan dalam keadaan genting.
"Makanlah," ucap lelaki itu
"Wah makasih Om. Pasti Cia makan kok Om," seru nya.
Cia makan dengan lahap. Apalagi banyak sekali makanan yang suami nya pesan. Seharian dari pagi dia cukup lelah karena mengajukan judul skripsi belum juga ditanggapi oleh dosen tua nya itu. Entah apa lagi alasan orang tua itu, sibuklah, ini lah, ahh banyak lah Cia saja sampai tidak ingat entah alasan apa lagi yang dibuat oleh dosennya.
Setelah makan, Delvano meminta Cia agar menemani nya sampai jam pulang. Sebab jika Cia pulang duluan pastilah akan bermasalah lagi dengan Koscielny yang selalu mengomeli Cia setiap hari. Jadi Delvano tak tega melihat istrinya di marahi terus.
"Om, ada yang bisa Cia bantu enggak?" tanyanya. "Cia bosan duduk kagak kerja apa-apa Om," ucapnya seloyoran di sofa
"Sini kamu," Delvano melambaikan tangannya pada Cia.
"Mau apa Om?" Cia menatap Delvano curiga. Sebab lelaki ini suka aneh-aneh padanya.
__ADS_1
"Cepat sini," ujar Delvano kesal.
"Iya Om, sabar kali,"
Gadis itu menghampiri suaminya dengan wajah ditekuk kesal bukan main.
"Mau apa Om?" tanya Cia memutar bola matanya malas.
"Cepat duduk sini," Delvano menarik Cia dan mendudukkan gadis itu dipangkuannya. "Nihh bantuin saya kerjakan," ujarnya menunjukkan layar laptop nya.
"Ohh bisa Om," sahut Cia.
"Ck, gimana Cia bisa kerjakan kalau duduk dipangkuan Om?" protes Cia.
"Bisa kalau kamu bisa diam," ketus Delvano.
Cia mencebik kesal. Begitu lah keseharian keduanya. Jika penggantin baru akan bermesraan maka tidak dengan Cia dan Delvano. Kedua orang itu selalu saja berdebat satu sama lain dan entahlah yang selalu membuat kedua nya rusuh. Meski begitu sesungguhnya mereka sudah saling nyaman satu sama lain. Terutama Delvano yang sudah jatuh cinta pada istri kecil itu sejak dipertemuan awal mereka.
Cia mengerjakan pekerjaan yang disuruh oleh Delvano. Gadis ini memang selalu serta bisa apalagi dia memang mengambil kuliah bisnis jadi wajar saja jika dia memiliki kemampuan disana.
__ADS_1
Delvano cukup kagum dengan kemampuan istri kecil nya itu. Meski menyebalkan dan sukanya mengajak orang berdebat dia tetap konsisten saat mengerjakan sesuatu.
"Bisa?" tanya Delvano.
"Jangan remehin Cia Om. Gini-gini Cia, mahasiswi terbaik dikampus. Kuliah aja pakai beasiswa Om ya udah pasti Cia pintar," serunya berbangga diri sambil menepuk dadanya.
"Iya. Iya. Terserah lah,"
Tanpa Cia katakan juga, Delvano sudah tahu kemampuan istrinya ini bahkan belum mereka menikah.
Delvano sangat bangga atas pencapaian Cia. Meski dia orang kampung yang merantau dikota. Namun pengetahuan nya tidak minim dan malah terkesan memadai. Karena Cia memang aktif dalam segala kegiatan sosial dikampus nya sehingga dia memiliki banyak pengalaman.
**Bersambung...
Maaf Mak baru update....
Terima kasih dukungan nya buat Cia...
Jangan lupa selalu ikuti perjalanan cinta Cia dan Delvano**...
__ADS_1