
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Positif.
"Astaga, Om. Kenapa?" tanya Cia panik melihat suaminya muntah-muntah.
"Huwek. Huwek. Huwek. Huwek," Delvano mengeluarkan isi perut nya.
Cia mengurut tengkuk Delvano. Pagi-pagi ia terbangun dan heran tak mendapati suaminya ada disampingnya. Biasanya suaminya akan selalu jahil dengan meminta ciuman pagi padanya.
"Om," Cia panik. "Om tunggu sebentar, Cia ambilkan air minum dulu,"
Cia keluar dari kamarnya dengan wajah panik.
"Ada apa Cia?" tanya Dave yang kebetulan berpapasan dengan adik iparnya itu. Hari ini hari minggu jadi semua libur.
"Om Delvano Kak. Dia muntah-muntah," sahut Cia sambil mengisi gelasnya dengan air minum.
"Muntah-muntah?" kening Dave berkerut. "Delvan sakit?" tanya Dave. Karena adik nya itu adalah orang yang bersihan ia sangat menjaga kesehatannya.
"Enggak tahu Kak. Semalam Om Delvan, baik-baik aja. Ehh pas bangun dia udah muntah-muntah," Cia mengusap air matanya.
"Sudah jangan menangis. Delvan pasti baik-baik aja," ucap Dave menenangkan. Ia tersenyum lucu melihat adik iparnya menangis hanya karena suaminya muntah.
"Delvan kenapa?" cecar Koscielny. "Kamu racuni dia? Kenapa dia bisa sampai muntah?" tuding Koscielny.
"Dad," tegur Laurent dan Dave bersamaan.
"Hiks hiks, Ayah mertua nya. Jangan menuduh sembarangan. Cia juga enggak tahu kenapa Om Delvan bisa muntah-muntah," wanita itu mengangkat gelasnya.
"Dave panggil Dokter," suruh Koscielny.
"Iya Dad,"
Cia kembali kekamar bersama Koscielny, Laurent dan Dave. Cia tak bisa menahan air matanya. Ia kasihan melihat suaminya yang muntah-muntah seperti itu. Apalagi badan Delvano terlihat lemas. Pucat dan keringat dingin mengalir di bagian pelipisnya. Devan ikut masuk saat mendengar keributan dikamar Cia.
"Om, minum dulu. Hiks hiks," ia memang cenggeng. Melihat Bernadus luka karena pisau saja dia sudah menangis histeris.
Delvano meminum air yang diberikan oleh Cia. Badannya benar-benar lemas.
"Bik, tolong buatkan weddang jahe yaaaa," suruh Laurent.
"Baik Nyonya,"
__ADS_1
" Huwek. Huwek. Huwek,"
"Hiks Om," sambil mengusap tengkuk suaminya Cia menangis. "Jangan tinggalin Cia Om. Cia belum mau jadi janda. Apalagi harta Om, banyak. Cia enggak mampu habisin sendiri," isaknya.
Koscielny, Laurent dan Dave mendelik mendengar ucapan Cia.
"Kamu kalau ngomong jangan asal keluar deh," protes Koscielny. "Kamu kayak sengaja nyumpahin anak saya," tudingnya.
Laurent menatap Delvano kasihan. Ia ingin menyentuh tubuh putranya itu tapi tidak bisa. Sebab Delvano tak bisa disentuh oleh wanita lain selain Cia.
"Hiks hiks Ayah mertua. Bisa enggak jangan marah-marah dulu," celetuk Cia. "Om, Om kenapa sih? Hiks hiks," wanita itu masih menangis.
"Ayo Van," Dave dan Koscielny membantu Delvano kembali ke ranjang mereka.
Delvano terlihat lemah dan lesu. Tubuhnya seperti tak bertenaga. Seluruh isi perutnya serasa keluar, padahal yang keluar hanya cairan berwarna bening dan bercampur dengan warna kuning. Ia belum makan apapun, tapi perutnya benar-benar mual.
"Om," Cia mengenggam tangan Delvano. "Om, dimana yang sakit. Bilang sama Cia, hiks?" sambil mengusap wajah suaminya yang penuh dengan keringat.
"Cia, Delvan baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan masuk angin," ucap Laurent tersenyum melihat menantunya yang menangis.
"Tapi kalau Om Suami meninggal bagaimana Mom? Cia belum siap jadi janda," ujar Cia sambil mengusap air matanya.
Delvano yang tadi nya terpejam. Sontak matanya terbuka saat mendengar ucapan Cia.
"Kamu itu.... Huwek. Huwek," saat ingin mengomeli istrinya sontak saja lelaki itu muntah-muntah lagi.
Tidak lama kemudian dokter datang dengan peralatan medis yang lengkap karena takut jika Delvano menderita penyakit yang serius.
"Bagaimana Dok?" tanya Koscielny. Ia kasihan melihat Delvano yang pucat seperti tak memiliki darah.
"Selamat ya Tuan," ucap Wahyu, dokter keluarga Koscielny.
"Selamat?" bukan hanya Koscielny yang bingung tapi mereka semua.
"Selamat untuk apa ya Dok?" tanya Cia. Tangan Cia mengenggam tangan suaminya. Sebab suaminya itu tak mau dia jauh.
"Tuan Delvano mengalami sindrom couvade. Atau yang biasa kita kenal dengan kehamilan simpatik," jelas Wahyu.
"Maksudnya?" tanya Koscielny bingung.
"Ya Tuan, menantu anda positif hamil," jelas Wahyu.
Semuanya menatap Cia. Cia langsung kikuk saat dirinya ditatap begitu.
__ADS_1
"Sayang," mata Delvano berkaca-kaca. Ia masih berbaring dengan lemah diatas ranjang.
"Hamil?" ulang Koscielny, Laurent dan Dave bersamaan.
"Iya Nyonya. Nona Cia positif hamil_"
"Whatssss?" pekik Cia sehingga membuat mereka semua terkejut sambil mengelus dada.
"Bisakah kamu tidak berteriak?" omel Koscielny. Menantunya ini tidak berubah juga.
"Hehehe maaf Ayah mertua. Cia terkejut," wanita itu cenggesan sambil menunjukkan dua jari tangannya.
"Dok, Cia mau tanya. Yang hamil Cia kenapa Om Suami yang muntah-muntah?" tanya Cia heran.
"Itu karena kuatnya ikatan batin antara suami dan istri Nona," jelas Wahyu. "Saya sudah resepkan obat untuk Tuan Muda Delvano. Anda bisa memberikan nya sebelum makan atau sesudah makan," ucap Wahyu menulis resep obat di selembar kertas. "San Nona, nanti anda boleh memeriksa kandungan anda di dokter kandungan yaa, untuk memastikan," sambung Wahyu.
Cia mengangguk. Wanita itu masih belum percaya jika dirinya hamil di usia yang masih muda. Ia belum selesai menyusun skripsi. Belum sidang. Belum wisuda.
"Cia, selamat ya Nak," Laurent memeluk menantu unik nya ini.
Sedangkan Koscielny diam-diam menyeka air mata harunya. Tak menyangka sebentar lagi ia akan memiliki cucu dan menjadi seorang Kakek.
"Iya Mom," Cia tersenyum kaku. Apakah ia bisa menjadi seorang Ibu? Ah dia masih kecil. Dia belum dewasa. Mengurus suaminya saja dia kalang kabut, bagaimana nanti kalau punya anak.
"Sayang terima kasih. Terima kasih," Delvano memeluk Cia sambil menangis haru. Tak sia-sia ia lembur setiap malam.
"Om, jangan peluk Cia kencang-kencang. Cia sesak nafas," gerutu Cia.
Delvano melepaskan pelukan Cia. Ia menatap wanita itu penuh cinta. Penuh sayang. Dia tidak menyangka gadis perusuh dan aneh ini akan menjadi Ibu dari anaknya.
"Terima kasih Sayang. Aku mencintai mu," Delvano mengecup kening Cia.
Cia tersenyum memegang tangan suaminya yang menempel diwajahnya.
Dave dan Devan ikut terharu dan senang karena Cia hamil. Semoga kebahagiaan Delvano dan Cia semakin bertambah.
"Saya berjanji akan menjaga kalian berdua. Saya berjanji," Delvano kembali memeluk istri kecil nya.
Cia hanya tersenyum. Meski ia tak benar-benar siap menjadi Ibu. Tapi bagaimana pun ia menolak takdir, kodrat nya akan tetap menjadi Ibu.
"Van, kamu harus jadi suami siaga buat jagaian Cia sama kandungan nya," pesan Laurent. "Ibu hamil itu kadang mood nya berubah-ubah, siapkan mental kamu," sambungnya lagi.
"Iya Mom. Pasti,"
__ADS_1
Dave dan Devan sudah membayangkan siksaan Delvano saat Cia mengidam. Pasti aneh dan unik. Tapi ini Delvano yang mengidam bukan Cia. Semoga saja mengidam nya tidak aneh-aneh nantinya.
Bersambung**...