
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Suami idaman
"Sayang pelan-pelan," Delvano membantu istrinya duduk di kursi meja makan.
"Makasih Om," senyum Cia.
Koscielny kadang merasa terharu kadang juga jengkel dengan keromantisan Delvano dan Cia.
Laurent tersenyum simpul. Cia memang wanita istimewa dihati Delvano. Hanya Cia yang Delvano perlakukan seperti itu. Apalagi Delvano memang alergi wanita.
"Ayo semua makan," ajak Cia. Cia menatap damba makanan diatas meja. Apalagi sejak hamil nafsu makannya bertambah dua kali lipat.
Sri dan Wenny menatap Cia jenggah, keduanya iri melihat betapa bahagianya Cia. Sedangkan mereka berdua tidak pernah di perhatikan seperti itu oleh orang yang dianggap suami.
"Sayang kamu mau yang mana? Ingat makan yang pedes yaa nanti bayi kita sakit perut," celetuk Delvano.
"Om, Cia mau cumi," pinta Cia.
"Hem boleh tapi sedikit," Delvano mengambilkan beberapa sayuran dipiring Cia.
Mereka yang ada di meja makan benar-benar iri dengan kemesraan dua orang itu. Dunia serasa milik berdua, sementara yang lain hanya menumpang ada juga yang ngontrak, kata Netthy.
"Sayang, biar saya siapin yaaa?" ucap Delvano.
"Enggak Om, Cia makan sendiri aja," tolak Cia.
"Enggak Sayang. Nanti kamu kelelahan," sergah Delvano.
"Ehem," Koscielny berdehem. Ia mulai jenggah melihat Delvano dan Cia.
"Kenapa Ayah Mertua?" Cia tersenyum simpul. "Ayah mertua mau disuapin juga sama Om Suami?" wanita itu tersenyum tanpa dosa.
"Cihh, kamu pikir saya anak kecil?" Koscielny memincingkan matanya kesal.
"Cia enggak mikir gitu kok Ayah Mertua," ucapnya membela diri.
"Dad," tegur Laurent. "Sudah ayo lanjut makan," ucap wanita paruh baya itu menangahi.
__ADS_1
Meja makan memang akan ramai jika Koscielny berdebat dengan Cia. Entah kenapa pria paruh baya itu kalau bersama Cia seperti anak kecil.
.
.
.
"Sayang sakit yaaaa?" Delvano berjongkok. Kasihan sekali melihat Cia yang tampak kesusahan membawa perut nya.
"Enggak kok Om. Cuma kadang susah gerak," keluh Cia sambil memijit tengkuk nya.
"Maaf yaaaa," Delvano merasa bersalah.
"Makanya Om, jangan minta jatah terus tiap malam," Cia memutar bola matanya malas. Setiap malam Delvano pasti meminta jatah padanya. Entah lah, lelaki itu seperti kesetanan kalah menyentuh istrinya.
"Maaf Sayang, saya tidak bisa menahan diri kalau lihat kamu," ucap Delvano jujur, wajah nya terlihat bersalah.
"Enggak usah minta maaf Om. Lagian juga kata maaf enggak bisa ngembaliin nihh kecebong kembalu kedalam anu nya Om," ucap Cia ketus.
Delvano tersenyum lebar. Istrinya ini polos-polos tapi paham juga masalah ranjang. Meski kadang suka membuat kesal dengan kepolosan nya tapi Delvano suka sekali semua hal tentang Cia.
"Om," wanita itu mendelik kesal. Suaminya ini suka sekali mencium wajahnya.
"Minum susu dulu yaaa," Delvano mengambil susu yang dia bawa tadi diatas nakas. "Sama vitamin nya juga," ucapnya.
"Iya Om," Cia mengangguk dan menurut.
Delvano menatap Cia dengan cinta sambil membantu wanita itu menunggak susu dalam gelasnya. Betapa ia mencintai wanita ini dengan segenap jiwa dan raganya. Apalagi sejak Cia hamil, ia semakin tak bisa berpaling dari istri kecilnya itu.
"Ya sudah Sayang, ayo tidur," ajak Delvano meletakkan gelas diatas nakas.
"Om, kalah Cia tidur lurus sesak nafas ya Om," wanita itu mengembuskan nafas nya kasar. Usia kandungan Cia sudah memasuki bulan keenam, tapi perutnya besar sekali. "Kadang Cia mikir kalau didalam ini lebih dari satu," ia mengusap perut buncitnya.
Delvano mengenggam tangan Cia. "Maaf ya Sayang membuat kamu jadi begini. Tapi saya janji, bakal jadi suami yang siaga buat jagain kamu," ucap Delvano tulus.
"Om makasih ya," balas Cia.
"Makasih untuk apa?" kening Delvano berkerut heran.
__ADS_1
"Makasih udah bucin sama Cia. Makasih udah sayang sama Cia. Makasih udah jadi suami terbaik buat Cia. Cia benci banget sama Om ehhh salah maksud nya Cia sayang banyak-banyak sama Om," seru Cia wanita itu mencium hidung suaminya.
Delvano mematung ditempatnya. Apakah Cia sedang mengungkapkan perasaan nya pada Delvano dan sudah mencintai lelaki itu sebagai suaminya.
"Sayang, apakah kamu benar-benar sayang sama saya?" tanya Delvano berkaca-kaca. Ungkapan sayang terdengar sederhana namun mampu menggetarkan hatinya.
"Hem," Cia tampak berpikir. "Cia sayang enggak ya sama Om?" seru nya sambil memincingkan matanya sehingga ia terlihat imut dan juga menggemaskan.
"Awas kalau kamu bilang enggak sayang, saya bakal cium kamu sampai tidak bisa nafas," ancam Delvano.
Cia tertawa menggelora melihat wajah kesal suaminya. Dia adalah istri durhaka yang setiap hari membuat suaminya ini mengomel. Untung Delvano cinta, kalau tidak sudah dia lempar Cia ke lautan sana.
"Om, Cia itu enggak tahu apakah cinta atau enggak sama Om? Yang pasti didekat Om itu anget banget kayak tai ayam," Cia menutup mulutnya menahan tawa.
Delvano mendelik ketika Cia menyebut tak ayam. Aneh-aneh saja istrinya ini, seperti pernah me coba hangatnya tai ayam.
"Ck, kenapa kamu samain saya sama tai ayam?" lelaki itu mendengus kesal.
Cia lagi-lagi tertawa lebar. Sampai terpingkal-pingkal. Entahlah dia juga tidak tahu kenapa bisa menamai pelukkan suaminya dengan tai ayam.
"Sudah ahh Om, perut Cia sakit ketawa mulu." Cia mengelus perut buncitnya. "Om semoga nanti pas kecebong ini netas, mukanya mirip Cia. Soalnya kan Cia cantik," seru Cia terkekeh bahagia menjadi wanita hamil. Cia pikir jadi wanita hamil itu hal yang membosankan. Ternyata ia malah merasa sebahagia ini, meski ketika masa mengidam benar-benar menyiksa. Tapi sekarang Cia menikmati nya.
Delvano memutar bola matanya malas. "Ck, tidak bisa begitu dia harus mirip saya. Kan saya yang lembur tiap malam dan dia harus laki-laki, biar tampan seperti saya," sergah Delvano.
Wajah Cia langsung berubah muram. Ia menatap lelaki itu kesal.
"Enggak bisa gitu dong Om, kan Cia yang mengandung, membawanya kemana-mana serta melahirkan nya, enggak adil namanya," protes Cia. Ia pun tak terima jika wajah anaknya lebih mirip suaminya. Pokok nya anak nya itu harus mirip dia.
"Kalau saya enggak masukkin anu saya ke anu mu, kamu enggak bakal bisa hamil, Cia," ucap Delvano penuh penekanan agar istrinya mengerti.
"Kalau enggak ada anu Cia, anu nya Om juga enggak bisa masuk. Om paham itu," balas Cia tak mau kalah. Enak saja anak nya mirip Delvano, kan dia yang susah payah menggandung serta melahirkan nya
"Udahh ah, ngomong sama kamu bikin saya stres," Delvano berdiri dari duduknya. Lelaki itu naik keatas ranjang dan menyimak selimut.
"Ayo tidur," ajaknya menarik Cia kedalam pelukannya.
Cia harus tidur menyamping agar perut besar nya tidak sakit.
Bersambung....
__ADS_1