
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Cia mengeliat dibalik selimut tebalnya. Wajah bantal gadis itu terlihat menggemaskan dan imut apalagi masih alami tanpa polesan make up sedikit pun. Kulitnya halus seperti kulit bayi.
Tunggu, kenapa perut nya terasa berat. Seperti ada benda berat yang menimpa tubuhnya. Gadis itu membuka matanya dengan sempurna.
"Aaaaaaaaaaaa,"
BRUKKKKKKKKKKKKKK
BRAKKKKKKKKKKKKKK
"Awwwwwwww,"
Delvano meringgis kesakitan sambil memegang pantatnya. Dia sedang menikmati mimpi indahnya bercumbu dengan Cia tapi kenapa malah lantai yang mencium pantatnya.
Cia membungkus tubuhnya dengan selimut sambil mengerjab-ngerjabkan matanya seperti orang yang kebingungan. Tanpa sadar dia menendang pantat suaminya. Dia terkejut saat melihat lelaki itu ada didepan matanya.
"Kamu benar-benar keterlaluan," hardik Delvano sambil berdiri memegang pantatnya.
"Om," Cia gugup. "Lagian Om ngapain sihh tidur pakai acara peluk Cia segala," ucap gadis itu membela diri.
"Karena kamu istri saya," Delvano mendengus kesal. Dan tendangan Cia kuat sekali padahal tubuh istrinya itu kecil.
Cia mengigit bibir bawahnya menahan gugup. Gadis itu masih memeluk selimut itu dengan erat, seolah takut jika sang suami menarik selimut itu.
"Maaf Om," ucap Cia. "Cia sengaja ehh salah maksud nya enggak sengaja," Cia menepuk bibirnya yang salah ucapkan.
Delvano duduk di bibir ranjang dengan wajah yang ditekuk kesal. Benar-benar menyebalkan istrinya itu.
"Om, Om marah yaaa sama Cia?" Cia mengintip wajah lelaki itu.
Delvano melipat kedua tangannya didada. Pokoknya dia kesal. Sangat kesal. Ingin sekali dia memasukkan gadis itu kedalam perutnya.
"Om," Cia menarik ujung baju suaminya dengan manja.
Namun lelaki itu masih marah. Kalau pasangan penggantin lainnya dihati pertama pernikahan mungkin akan romantis dengan sapaan lembut. Tapi lihatlah mereka malah main tendang- tendang.
"Om," panggil Cia sekali lagi. "Maafin Cia yaa Om. Cia lupa kalau kita udah nikah. Cia tadi kaget banget liat muka Om tiba-tiba ada didepan Cia pikir siapa. Makanya Cia tendang Om," jelas Cia.
Delvano menghembuskan nafasnya kasar. Mana bisa dia marah lama dengan istrinya itu. Mendengar wanita itu menjelaskan alasan kenapa menendang dirinya saja dia sudah tak mampu menahan senyumnya.
__ADS_1
"Sini peluk," Delvano merentangkan tangannya.
"Mau ngapain?" Tanya Cia takut-takut.
"Cepat sini. Kalau enggak mau yaa udah. Saya enggak maafin," ancam Delvano.
"Ehem," Cia gugup. "Om mau peluk Cia ya?" Tebaknya.
"Ayo cepat sini,"
Cia masuk kedalam pelukkan lelaki tampan itu. Seketika emosi Delvano mereda saat memeluk hangat Cia. Tubuh gadis ini kecil dan pas dipeluk dengan nyaman.
"Kenapa Om?" Cia mendongkakkan kepalanya menggapai wajah sang suami.
"Saya maafin kamu, asal....." Delvano tersenyum devil.
"Asal apa Om? Asli atau palsu?" Tebak Cia.
"Ck, kamu ini...." Delvano dengan gemes menghujani wajah gadis itu dengan banyak ciuman.
"Hahahaha Om. Geli...." Gadis itu tertawaan geli saat sang suami menghujani wajahnya dengan banyak ciuman.
"Awas, aja kamu lupa lagi kalau kita udah nikah, bakal saya makan kamu," ancam Delvano.
"Udah ayo mandi," Delvano menyimak selimut. "Morning kiss dulu," Delvano hendak mengecup bibir gadis itu. Namun secepat kilat Cia menutup mulut suaminya.
"Om mau ngapain?" Cia sedikit mundur. "Emang morning kiss itu apa Om?" Gadis itu tampak bingung.
Delvano segera menyingkirkan tangan gadis itu dari mulutnya. Tanpa memberi Cia kesempatan untuk protes dia langsung menyambar bibir gadis itu dan melahapnya d dengan rakus.
Cia yang sudah tahu berciuman pun membalas ciuman lelaki itu. Ciuman lembut yang awalnya biasa saja kini mulai menuntut.
Namun Delvano langsung ingat satu hal, dia tidak mau egois dan memaksa gadis itu memberikan miliknya. Delvano ingin Cia memberikan miliknya dengan ikhlas bukan karena paksaan.
Delvano melepaskan panggutannya. Dia menyatukan keningnya dengan kening gadis itu dan nafas kedua nya terenggah-enggah.
Delvano tersenyum tipis ketika melihat wajah merah Cia. Sejujurnya sebagai laki-laki normal. Dia sungguh tak sabar ingin mengambil haknya. Namun kembali lagi ke awal tujuan dia menikahi Cia, bukan karena nafsu. Tapi karena dia ingin hidup bersama gadis itu dan menjadikan gadis ini sebagai miliknya seutuhnya. Delvano yakin, jika nanti Cia sudah jatuh cinta padanya. Cia akan menyerahkan dengan sendiri miliknya pada Delvano.
"Ayo mandi,"
Delvano mengangkat tubuh gadis itu. Sontak tangan Cia memeluk leher suaminya.
__ADS_1
"Om, setiap kali Cia peluk Om, kok jantung Cia berdegup kencang yaaa Om. Itu kenapa yaaa Om?" Ujar gadis itu tampak bingung.
Delvano tersenyum senang jika Cia merasa deg-degan saat berada didekatnya. Bukankah berarti gadis itu sudah jatuh cinta padanya.
"Itu artinya kamu sudah jat_"
"Ehhh tapi itu sebenarnya karena Cia takut sama Om," gadis itu menampilkan rentetan gigi putih nya
Wajah Delvano langsung berubah masam. Dia menatap istrinya tajam. Baru saja dibuat terbang melayang dengan ucapan Cia tapi seketika juga gadis itu menjatuhkannya sangat jauh. Kesal. Sebal. Rasanya ingin makan orang.
"Kenapa muka Om jadi kusut gitu?" Tanya Cia heran.
Delvano tak menjawab dia membawa gadis itu masuk kedalam kamar mandi.
Mereka mandi berdua. Delvano hampir dibuat jantungan dengan teriakkan gadis itu. Belum juga di apa-apakan terikannya sudah menggema didalam kamar mandi seperti orang yang sedang baku hantam bagaimana kalau Delvano berhasil meminta hak nya, bisa jadi Cia akan keluar dari kamar dengan keadaan tanpa busana sedikit pun.
Setelah mandi kedua nya langsung memakai pakaian. Delvano sepanjang pagi sudah mengomel, mengomeli istrinya yang selalu membuat kesal.
"Pasang dasi saya," Delvano memberikan dasinya pada Cia.
"Cia enggak pandai Om," ujar Cia.
"Makanya belajar biar pandai," omel Delvano. "Sini saya ajarin," Delvano mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya di meja rias. "Pasang," suruhnya.
Cia mengangguk. Dia mengambil dasi dari tangan suaminya. Meski bingung dan tidak tahu gadis itu tetap menurut saja
"Ck, kamu mau bunuh saya," omel Delvano kesal saat Cia menarik dasi itu dengan kuat seperti hendak mencekik lehernya.
"Hehhe maaf Om, kan tadi Cia udah bilang. Kalau Cia enggak bisa pasang dasi," gadis itu cenggesan.
"Sini saya ajarin,"
Delvano menuntun tangan Cia untuk memasangkan dasi dilehernya. Jantung Cia kembali berdegup kencang saat Delvano menggenggam tangannya. Padahal ini bukan pertama kalinya tapi tetap saja jantungnya tak bisa diajak kerja sama.
"Jangan lihat-lihat nanti kamu malah jatuh cinta sama saya," sindir Delvano.
"Kalau Cia jatuh cinta sama Om. Emangnya kenapa?" Gadis itu tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
Delvano langsung terdiam. Seluruh tubuhnya terasa melemah dan jantungnya mungkin ingin berpindah tempat dan benarkah bahwa istri nya itu jatuh cinta padanya.
"Tapi bohong," lalu gadis itu ngakak sendiri.
__ADS_1
**Bersambung.......**