
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
"Kamu kenapa cemberut gitu?" Delvano duduk disamping calon istrinya.
"Tahu ahhh, lagi kesel, lagi pengen makan orang, lagi pengen saldo ehh salto, lagi pengen masuk kembali kedalam perut Ibu," jawab Cia asal.
Delvano terkekeh pelan dan dia lebih memilih tersenyum saja daripada meladeni Cia. Cia pasti sedang kesal padanya gara-gara dia memeluk gadis itu didepan kedua orang tua Cia. Entahlah Delvano memang suka sekali membuat calon istrinya itu kesal.
"Enggak usah senyam-senyum sendiri Om. Entar dikira Om kurang lagi," sindir Cia.
"Kurang apa nya?" Kening Delvano berkerut heran.
"Enggak, hari udah mau tengah hari Om," jawab Cia asal.
Cia menatap kosong keluar jendela mobil. Tak menyangka sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang istri dari pria kaya seperti Delvano. Dalam hidupnya Cia tak berperang berpikir jika dia akan menikah muda. Padahal dia ingin menikah ketika usianya sudah matang, ketika sudah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan tapi justru takdir membawanya kesini bersama lelaki yang bahkan awalnya Cia tidak kenal sama sekali.
Bibir gadis itu komat-kamit seperti dukun baca mantra. Setelah sampai di kota nanti, mereka harus fitting baju dan katekisasi untuk mempersiapkan pemberkatan mereka. Untung Delvano sultan kaya sehingga keduanya tak perlu repot menyiapkan semuanya seperti pasangan pada umumnya.
Sebelum Delvano dan Cia menikah, Dave dan Devan yang akan mendahului. Sebab silsilah keluarga Koscielny yang duluan menikah adalah yang paling tua dan tidak boleh dilewati oleh adik nya.
Cia merebahkan kepalanya di jok mobil dengan bibir menggerecut. Dia jenggah menatap Delvano yang terus menggoda nya.
"Tidur aja, enggak usah cemberut gitu," pungkas Delvano terkekeh pelan.
"Tahu ahhh, pokok nya Cia lagi ngambek. Jangan ngomong sama Cia Om. Cia lagi puasa ngomong," sahut gadis itu kesal dan enggan melihat kearah calon suaminya dia malah membelakangi Delvano.
Sementara Delvano tertawa lebar sambil menggeleng saja.
"Yakin puasa ngomong?" Goda Delvano.
"Iihhh Om jangan godain Cia terus," gerutunya
"Ya udah puasa juga dulu ngomongnya," ucap Delvano mengalah sambil menahan senyum.
Cia menggeser posisi duduknya dan mengarahkan tubuhnya kesamping membelakangi calon suami itu.
"Pokoknya sebelum kita nikah, Om enggak boleh dekat-dekat Cia dulu. Om enggak boleh ngomong sama Cia. Pokoknya Om enggak boleh ketemu Cia. Cia lagi ngambek sama Om. Cia lagi marah sama Om," celoteh Cia.
Delvano mendelik. Katanya tadi gadis itu puasa ngomong tapi kenapa sekarang malah seperti orang pidato saat kampanye. Dan apa tadi kata Cia ngambek, mana ada orang yang ngambek harus bilang ke orang lain. Sungguh luar biasa membuat kepala pusing Cia ini.
__ADS_1
Tidak terasa mobil yang dikendarai oleh Okkhy memasuki jalanan kota. Perjalanan dari kampung Cia ke kota memang cukup memakan waktu. Hanya saja perjalanan sedikit tidak membosankan karena banyak permandangan indah sawah-sawah ditepi jalan. Apalagi suasana kampung Cia memang masih asih dan terjaga kebersihannya dari polusi udara.
Delvano melirik Cia yang tertidur disampingnya. Kelelahan mengoceh tidak jelas akhirnya gadis itu lelah sendiri dan tertidur dengan mulut terbuka lebar, seperti anak kecil.
"Pelan-pelan Khy," tintah Delvano.
"Baik Tuan,"
Delvano menarik tubuh Cia kedalam pelukannya. Gadis ini memang kecil diukuran tubuhnya yang besar. Namun Delvano malah suka, bagi Delvano orang kecil itu enak dipeluk.
Delvano mengusap kepala Cia sambil tersenyum hangat. Delvano masih tak menyangka jika dia sebentar lagi akan mempersunting gadis ini menjadi miliknya. Perjalanan cinta nya dengan Cia cukup unik. Sejak awal pertemuan saja sudah dibumbui dengan perdebatan dan pertengkaran sampai sekarang keduanya masih menjadi pasangan rusuh. Namun justru itulah yang membuat hati Delvano berlabuh pada seorang gadis unik seperti Cia.
.
.
.
.
"Heii perusuh, bangun sudah sampai," Delvano menepuk-nepuk pipi Cia.
"Udah sampai ya Om?" Gadis itu mengucek-ngucek matanya.
"Ehem," Delvano hanya berdehem.
"Ya udah Om, Cia masuk kost dulu," Cia turun dari mobil.
Delvano ikutan turun juga. Dia harus mengantar Cia masuk kedalam kost. Takut terjadi apa-apa pada gadis nya itu.
Sementara Okkhy membuka bagasi mobil lalu mengambil tas lusuh milik Cia.
"Om ngapain turun?" Cia menatap Delvano heran.
"Ya mau nganterin kamu lah, mau apa lagi?" Delvano memutar bola matanya malas.
"Ihh, Cia bisa sendiri Om. Om pulang aja sana," sambil mendorong tubuh besar Delvano agar masuk kembali kedalam mobil. Cia tidak mau tetangga kost nya heboh melihat kedatangan Delvano. Cukup satu kampung saja yang heboh jangan satu kota ikutan heboh gara-gara Delvano.
"Ck, tidak mau," tolak Delvano.
__ADS_1
"Masuk Om,"
"Tidak mau,"
Jadilah kedua orang itu saling dorong mendorong. Cia yang mendorong tubuh Delvano, sedangkan Delvano tak bergerak sama sekali ditempatnya. Tenaga Cia tak mampu menggeser tubuhnya yang besar itu.
Sementara Okkhy hanya bisa menghela nafas panjang sambil geleng-geleng kepala saja. Okkhy memilih menjadi penonton dari pada melerai pasangan rusuh setiap hari ini, anggap saja sebagai hiburan gratis karena dirinya yang tidak pernah liburan lantaran sibuk bekerja untuk Delvano.
"Udah.. Udah.. Kamu ini, ayo masuk," Delvano mana mau mengalah.
Delvano menarik tangan Cia agar masuk kedalam kostnya.
"Ihhh, Om. Lepasin tangan Cia. Cia bisa masuk sendiri Om," gerutu gadis itu menghentakkan kaki nya kesal.
"Ohh ya kamu mau saya cium?" Delvano melepaskan cengkraman tangannya lalu melipat kedua tangan didada dan tersenyum jahil.
Secepat nya Cia menggeleng dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya mengerjab-ngerjab berulang kali, hal itu justru membuat Cia terlihat begitu imut dan menggemaskan di mata Delvano.
"Enggak Om," Cia menampilkan rentetan gigi putihnya sambil menunjukkan jari v nya tanda damai.
"Ya udah ayo masuk," Delvano kembali menarik tangan Cia dan tersenyum penuh kemenangan.
"Cia kamu udah datang?" Adit langsung menyambut kedatangan Cia dan Delvano.
"Tuan Delvano," sapa Adit.
"Ehem," dehem Delvano terlihat tak suka.
"Ayo silahkan masuk," ajak Adit mempersilahkan.
"Ibu sama yang lain nya mana Kak?" Tanya Cia sambil duduk disamping Delvano. "Om Okkhy simpan disitu aja dulu tas nya, biar nanti Cia yang bawa masuk,"
"Baik Nona," Okkhy tersenyum dan meletakkan tas Cia.
"Ibu lagi ke pasar sama yang lainnya. Tumben kamu lama banget?" Tanya Adit. Dia merindukan Cia. Tanpa Cia itu bagai sayur tanpa garam, hambar.
Terlihat Cia menghela nafas panjang. "Kemarin Cia langsung tunangan sama Om Delvano, Kak,"
Deg
__ADS_1
Bersambung....