
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
"Pagi semua," Ryan duduk di kursi meja makan dengan senyuman sumringah.
"Pagi Ryan," balas Yupita
Rianti menatap adiknya penuh selidik. Kenapa playboy karatan ini terlihat cerah sekali hari ini?
"Pi, Mi. Aku mau kenalin pacar aku sama Papi dan Mami,"
Uhuk uhuk uhuk uhuk
Rianti langsung tersendak saat mendengar Ryan menyebut nama pacar.
"Minum Sayang," Fahri memberikan gelas nya kepada Rianti yang baru saja menjadi istrinya beberapa Minggu yang lalu.
Ryan malah santai-santai saja. Senyumnya mengembang dan terlihat dia sedang bahagia. Ia telah menemukan gadis yang tepat. Gadis yang akan menjadi miliknya hingga nanti.
"Pacar?" ulang Ferdy takut salah dengar. "Kamu punya pacar Son?" tanya Ferdy menatap putranya tak percaya. Pasalnya putra nya yang mendapat predikat playboy kelas kakap ini hobby nya bermain perempuan dan ia tidak suka terikat dalam sebuah hubungan. Apa Ryan sudah bertobat?
"Iya Pi," jawab Ryan.
"Siapa pacar kamu?" Rianti menatap adiknya penuh selidik. "Bukan wanita bayaran kan?" tuding Rianti. Ryan ini suka sekali membeli wanita untuk dia tiduri. Hanya sudah beberapa waktu terakhir adiknya memang jarang menghabisi malam nya dengan para wanita tersebut.
"Kepo!" ketus Ryan
"Idih kepo-kepo," cibir Ryan. "Muka kamu mencurigakan Ryan. Awas aja kalau itu Dara. Bakal Kakak potong burung kamu itu," ancam Rianti sambil menunjuk Ryan dengan garpu ditangannya.
"Sayang," tegur Fahri geleng-geleng kepala. Istrinya ini memang bar-bar dan bicara asal keluar.
"Jangan menuduh sembarangan Kak," sergah Ryan. Jika dulu dia memang memiliki niat jahat untuk merusak Dara. Tapi sekarang tidak lagi, ia justru ingin melindungi gadis itu untuk masa depannya.
Rianti tahu rencana adik nya itu karena dia memang mengawasi pergerakan Ryan. Rianti takut jika adiknya malah merusak gadis baik seperti Dara. Kasihan Dara, masa depannya masih panjang.
"Udah. Udah. Jangan berdebat," sergah Yupita melerai. "Ryan, kapan kamu akan bawa pacar kamu kesini?" tanya Yupita.
__ADS_1
"Besok malam Mi," jawab Ryan sambil tersenyum. "Ya sudah aku berangkat semua," tak lupa Ryan mengecup pipi Yupita dan mengolok kakak nya Rianti dengan menjulurkan lidahnya.
Rianti kesal bukan main. Wanita itu hendak menghardik adiknya. Namun, Fahri secepat mungkin menahan Rianti sambil menggeleng.
"Tapi Sayang itu anak bikin aku kesal tahu," gerutu Rianti.
"Udah biarin aja. Kamu kan tahu Ryan orang nya kayak apa," sahut Fahri sambil tersenyum gemes. Istrinya ini memang suka berdebat dengan Ryan. Tak kala keduanya seperti kucing dan tikus yang suka berdebat hal-hal tidak penting.
Ferdy dan Yupita menghela nafas panjang. Bersyukurlah Rianti mendapatkan suami sebaik Fahri yang memiliki tingkat kesabaran tinggi dan tidak emosian. Jika Fahri sama seperti Ryan, entah seperti apa suasana rumah ini? Setiap hari saja ramai hanya karena perdebatan tak berunfaedah kakak beradik itu.
"Awas aja kalau dia nyakitin Dara. Bakal aku coret dia dari kartu keluarga," ucap Rianti kesal sambil melahap makanannya dan mengomel.
"Sayang, kamu kalau makan ngomel-ngomel. Ntar keselek lho," tegur Fahri.
Uhuk uhuk uhuk
"Minum," Fahri kembali menyedorkan gelas nya. "Tuh kan kamu keselek benaran?" goda Fahri tersenyum.
"Kamu sihh," protes Rianti.
.
.
.
"Pagi Sayang," sapa Ryan saat masuk kedalam ruangan dan Dara sudah berkutat dengan berkas di atas meja nya.
"Ehh pagi Kak," balas Dara, tak lupa gadis itu menyalami tangan Ryan.
"Udah lama datang nya?" tanya Ryan. Sejak ia menjadikan Dara kekasihnya, sifat lelaki itu berubah seratus delapan puluh derajat.
"Baru juga Kak," jawab Dara. "Kakak udah sarapan. Kebetulan aku bawain ini buat Kakak. Martabak manis," Dara memberikan kotak nasi berukuran kecil pada Ryan.
Hati Ryan langsung berbunga-bunga. Sekecil apapun perhatian gadis ini selalu mampu membuatnya salah tingkah. Pipi nya saja terasa panas dan jantung nya berdebar.
__ADS_1
"Makasih Sayang," ucap Ryan sambil tersenyum bahagia.
Dara ini tipe gadis yang masih lugu dan polos. Seperti nya memang belum pernah dekat dengan laki-laki karena ia terlihat kaku saat bersama Ryan. Dia tidak agresif dan sedikit cuek namun perhatian. Sampai saat ini sebenarnya Dara belum menerima cinta Ryan. Tapi lelaki itu sudah menganggap dia sebagai pacarnya.
"Aku makan yaaa," Ryan membuka kotak nasi itu.
"Iya Kak," sahut Dara. Dara memiliki kerajinan membuat kue. Dia suka sekali membuat makanan yang di sukai banyak orang tersebut.
"Sayang rasanya enak banget. Aku suka," Ryan melahap martabak manis yang dibawakan oleh Dara.
Dara tersenyum. Dia tidak tahu bagaimana perasaan nya terhadap lelaki ini. Ia merasa nyaman dan terlindungi saat berada didekat Ryan. Apalagi Ryan sudah banyak membantu nya melunasi biaya rumah sakit sang Ibu.
"Ohh ya Sayang, makan besok. Kamu ada waktu enggak?" tanya Ryan sambil meletakkan kotak nasi itu diatas meja.
"Hem, enggak ada sih Kak. Paling jagain Ibu. Kenapa Kak?" Dara bertanya balik.
"Aku mau ngajak kamu ketemu Papi sama Mami," sahut Ryan. "Supaya mereka kenal kamu," sambungnya.
Dara malah diam. Apa seserius itu Ryan padanya? Dalam hidup Dara tak pernah ia berpikir akan menjalin hubungan dengan pria kaya seperti Ryan. Apalagi dari hanya seorang gadis dari wanita yang sekarang sedang sakit parah.
"Sayang kenapa diam?" tanya Ryan mengusap kepala Dara. Baru kali ini Ryan merasakan cinta yang memekar di hati nya.
"Kak, aku malu," Dara mengigit bibir bawahnya.
Ryan malah menelan salivanya susah payah. Dalam hati lelaki itu berusaha menahan hasrat nya, melihat Dara yang mengigit bibir nya membuat pikiran Ryan traveling kemana-mana. Ia sudah membayangkan bagaimana manisnya bibir wanita tersebut. Namun Ryan tidak mau merusak Dara. Ia akan menyentuh gadis ini setelah sudah sah menjadi miliknya.
"Kenapa malu sih Sayang?" Ryan menyelipkan anak rambut Dara.
"Aku orang miskin Kak," Dara menunduk. "Gimana kalau nanti orang tua Kakak menolak aku," Dara sudah pesimis membayangkan dirinya di tolak. Siapa tahu seperti di novel atau sinetron, karena dirinya miskin lalu ditolak oleh keluarga calon suami.
Ryan tersenyum gemes. Sifat Dara ini mengingatkan dia pada Cia. Namun beda, jika Dara pemalu maka Cia sebaliknya. Istri Delvano itu tidak minder karena dirinya miskin.
"Orang tua ku enggak seperti itu Sayang. Mereka terima kasih apa adanya. Jadi enggak usah minder," ucap Ryan menyakinkan kekasih hatinya itu.
Ryan terlahir dari keluarga yang hangat dan humble. Ferdy dan Yupita pun tidak pernah memandang calon menantunya memiliki kekayaan yang sama seperti mereka. Asal anak-anak nya bahagia, tidak masalah mereka menikah dengan orang yang tidak kaya.
__ADS_1
Bersambung....